Kebutuhan Industri Berubah, Pembelajaran Vokasi Perlu Perkuat Praktik

Minggu, 27 Sep 2026, 19:45 WIB

JAKARTA — Perubahan teknologi di industri ikut mengubah keterampilan dan cara kerja yang dibutuhkan tenaga profesional. Bagi mahasiswa pendidikan vokasi, penguasaan teori perlu dilengkapi pengalaman praktik, termasuk mengenal perangkat yang digunakan di lapangan serta memahami prosedur dan keselamatan kerja.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri. Melalui pengalaman praktik, mahasiswa dapat memahami bahwa kemampuan teknis tidak hanya berkaitan dengan cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga memilih alat yang sesuai, membaca hasil pengukuran, mengikuti standar kerja, dan mengenali potensi risiko.

Ket. Foto: Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta berkesempatan mencoba secara langsung Alat Ukur Tegangan Listrik Profesional Bosch Power Tools. Perubahan teknologi industri menuntut talenta vokasi menguasai keterampilan teknis, penggunaan alat, prosedur kerja, serta keselamatan dan kesehatan kerja. — Sumber: Bosch Indonesia

Dalam konteks tersebut, Bosch Power Tools memperkenalkan tiga alat ukur kelistrikan di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), yakni GDM 600-15 Professional Digital Multimeter, GMC 600-15 Professional Clamp Meter, dan GFM 1000-15 Professional Fork Meter.

Ketiga perangkat tersebut selanjutnya digunakan sebagai sarana praktik mahasiswa PNJ. Penggunaannya tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan fungsi alat ukur, tetapi juga membantu mahasiswa memahami ketelitian pengukuran, efisiensi kerja, serta penerapan keselamatan dalam pekerjaan kelistrikan.

Vice President Sales Bosch Power Tools ASEAN Christoph Schmidt mengatakan perubahan teknologi perlu diikuti dengan kesiapan tenaga kerja untuk terus belajar dan beradaptasi.

“Industri 4.0 mengubah cara perusahaan berproduksi, bekerja, dan menyelesaikan persoalan. Namun, teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan tenaga kerja dengan fondasi teknis yang kuat, mampu memahami teknologi, memecahkan masalah, serta terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan industri,” ujar Christoph.

Perubahan kebutuhan keterampilan tersebut berlangsung relatif cepat. World Economic Forum memperkirakan 39 persen keterampilan utama pekerja akan berubah atau tidak lagi relevan pada 2030. Kondisi tersebut membuat kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi bagian penting dari kesiapan tenaga kerja.

Mempertemukan Pembelajaran dengan Kebutuhan Industri

Pendidikan vokasi memiliki peran untuk memperkecil kesenjangan antara pembelajaran di kampus dan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya perlu memahami teori, tetapi juga terbiasa menghadapi perangkat, prosedur, dan kondisi kerja yang mendekati situasi industri.

Direktur Politeknik Negeri Jakarta Dr. Syamsurizal mengatakan kesiapan lulusan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Keterampilan nonteknis juga diperlukan ketika lulusan mulai memasuki lingkungan profesional.

“Keberhasilan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh hard skill, seperti pengetahuan teknis dan penguasaan alat, tetapi juga soft skill yang kuat. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya kerja perusahaan, dan disiplin menjalankan SOP menjadi bekal yang sama pentingnya,” ujar Syamsurizal.

Di Jurusan Teknik Elektro PNJ, tingkat serapan lulusan pada 2026 tercatat sekitar 70 persen. Secara keseluruhan, 41 persen lulusan PNJ pada wisuda September 2026 telah bekerja atau berwirausaha sebelum menerima ijazah.

Kebutuhan tenaga kerja industri juga masih berkembang. Kementerian Ketenagakerjaan memperkirakan 17 sektor industri membutuhkan tambahan rata-rata sekitar 750 ribu pekerja per tahun hingga 2029, mencakup berbagai posisi mulai dari tenaga profesional dan manajer hingga teknisi dan operator.

Dalam situasi tersebut, pembelajaran berbasis praktik menjadi salah satu pendekatan untuk mempersiapkan lulusan menghadapi lingkungan kerja yang terus berubah. Mahasiswa dapat mengenal teknologi yang digunakan di industri sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, dan adaptasi.

Tiga Alat Ukur dengan Fungsi Berbeda

Pekerjaan kelistrikan memiliki karakteristik yang beragam. Teknisi dapat menghadapi instalasi dengan ruang terbatas, susunan kabel yang padat, pencahayaan yang berbeda, hingga kebutuhan melakukan pengukuran tanpa mengganggu sistem yang sedang beroperasi.

Karena itu, pemilihan alat ukur perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan kondisi di lapangan.

GMC 600-15 Professional Clamp Meter, misalnya, dirancang untuk kebutuhan pengukuran arus. Sementara itu, GFM 1000-15 Professional Fork Meter memiliki desain garpu terbuka yang dapat membantu pengukuran pada panel dengan susunan kabel yang padat tanpa harus memutus sirkuit.

Adapun GDM 600-15 Professional Digital Multimeter digunakan untuk kebutuhan pengujian yang lebih beragam. Perangkat tersebut dilengkapi perlindungan IP65 dan telah melewati uji jatuh dari ketinggian dua meter.

Ketiga perangkat dilengkapi layar yang dirancang untuk membantu pembacaan hasil pengukuran dalam berbagai kondisi pencahayaan.

Country Business Director Bosch Power Tools Indonesia Edwin Irawan mengatakan pemilihan perangkat yang sesuai merupakan bagian dari pekerjaan teknisi.

“Teknisi listrik di lapangan sering kali menghadapi instalasi beragam dan tenggat waktu yang ketat. Mengandalkan peralatan yang aman dan sesuai standar keselamatan menjadi cara untuk menjaga efisiensi sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan,” ujar Edwin.

Namun, kemampuan alat tidak menggantikan kompetensi penggunanya. Mahasiswa maupun teknisi tetap perlu memahami prinsip pengukuran, batas penggunaan perangkat, serta prosedur keselamatan sebelum melakukan pekerjaan.

Ketepatan Pengukuran Harus Berjalan Bersama K3

Dalam pekerjaan kelistrikan, kesalahan pengukuran tidak hanya dapat memengaruhi hasil pekerjaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Karena itu, kompetensi tenaga kelistrikan mencakup kemampuan teknis sekaligus penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

International Labour Organization mencatat sekitar tiga juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan dan penyakit terkait pekerjaan. Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan juga mengatur aspek keamanan dan keandalan instalasi serta perlindungan terhadap manusia dan lingkungan dari risiko kelistrikan.

Keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada spesifikasi perangkat. Pengguna juga perlu memastikan alat dalam kondisi baik, memilih perangkat yang sesuai dengan pekerjaan, memahami batas penggunaannya, mengikuti prosedur, serta menggunakan perlengkapan pelindung yang diperlukan.

Pakar K3 bidang listrik sekaligus dosen kelistrikan Politeknik Negeri Jakarta A. Damar Aji mengatakan kompetensi tenaga kelistrikan mencakup keterampilan, sikap kerja, dan kemampuan menerapkan pengetahuan pada berbagai situasi.

“Dari sisi pengguna, alat yang aman juga harus tangguh dan nyaman digunakan. Ketahanan terhadap debu, air, dan benturan serta desain yang ergonomis membantu mengurangi risiko kerja tanpa mengorbankan kualitas dan produktivitas,” kata Damar.

Menurut dia, aspek tersebut menjadi semakin penting ketika teknisi bekerja pada sistem bertegangan atau instalasi yang tidak dapat dimatikan. Dalam kondisi demikian, ketepatan pengukuran perlu berjalan bersama penerapan prosedur K3 dan penggunaan alat yang sesuai.

Praktik Industri sebagai Bekal Adaptasi

Penggunaan perangkat industri dalam pembelajaran memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bahwa standar kerja tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir. Proses kerja, pemilihan alat, ketelitian, efisiensi, dan keselamatan merupakan bagian yang saling berkaitan.

Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, pengalaman praktik juga dapat membantu mahasiswa beradaptasi ketika memasuki lingkungan profesional. Teknologi baru tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan apabila pengguna belum memiliki kompetensi untuk mengoperasikannya secara tepat dan aman.

Kolaborasi antara Bosch Power Tools dan PNJ melalui penggunaan perangkat dalam kegiatan praktik menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan industri dapat diperkenalkan sejak tahap pendidikan.

Bagi Bosch, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat “Beres, Bosch” yang diterjemahkan melalui pengembangan perangkat untuk mendukung pekerjaan sehari-hari dengan memperhatikan ketepatan, kemudahan penggunaan, ketahanan, dan keselamatan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.