- Home
-
- Luar Negeri
-
- Gerhana Matahari Total aka...
Gerhana Matahari Total akan Terlihat di Spanyol, Ilmuwan Berlomba Mengungkap Misteri Matahari
Jumat, 07 Agu 2026, 10:30 WIBPARIS â Gerhana Matahari Total akan terjadi pada hari Rabu 12 Agustus 2026. Para ilmuwan dan pemburu langit berbondong-bondong ke sejumlah negara Eropa untuk menyaksikan fenomena langka ini.
Menurut Badan Antariksa Eropa (ESA), pada tanggal 12 Agustus 2026, gerhana matahari akan terlihat di sebagian besar wilayah Eropa. Jalur totalitas yang sempit â di mana Matahari sepenuhnya tertutupi oleh Bulan â akan melintasi Greenland, Islandia, sebagian kecil wilayah timur laut Portugal, dan akhirnya Spanyol.
Bagian lain di Eropa akan melihat⯠gerhana matahari parsial, di mana Bulan tampak "menggigit" Matahari, dan sedikit meredupkan cahayanya.
Fenomena langka ini akan digunakan para ilmuwan sebagai kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang sifat bintang kita yang penuh gejolak dan tak terduga ini.
Ketika Bulan menutupi Matahari pada tanggal 12 Agustus, tim-tim ilmuwan akan segera bertindak mempelajari medan magnetnya, atmosfernya, dan cuaca buruk yang terkadang menyebabkan gangguan di Bumi.
Ada sejarah panjang penggunaan gerhana untuk membuat terobosan ilmiah.
Saat menyaksikan gerhana pada tanggal 29 Mei 1919 di Pulau Principe, Afrika Barat, astronom Inggris Arthur Eddington mengkonfirmasi teori relativitas Albert Einstein.
Ia mencapai hal ini dengan mengamati efek fenomena pembelokan cahaya yang disebut pelensaan gravitasi pada bintang-bintang yang menjadi terlihat saat cahaya Matahari yang menyilaukan terhalang.
Lebih dari seabad kemudian, para ilmuwan akan menyaksikan gerhana matahari total yang berlangsung selama satu menit dan 40 detik, muncul di sebagian wilayah Spanyol utara minggu depan.
"Tujuan pekerjaan kami adalah untuk memahami mekanisme fisik yang mendasari aktivitas Matahari," kata Allan Sacha Brun, seorang astrofisikawan di Komisi Energi Atom Prancis (CEA), kepada AFP.
Setiap hari, para spesialis mengerjakan model yang bertujuan untuk menjelaskan aktivitas matahari, yang memungkinkan mereka "untuk menempatkan Matahari kembali dalam konteks garis waktu evolusinya, dari kelahirannya hingga kematiannya," tambahnya.
Sangat Beruntung
Matahari terus-menerus memuntahkan materi dan partikel bermuatan, terkadang melepaskan badai matahari dahsyat yang menyemburkan ledakan plasma dan materi lainnya yang sangat besar.
Ketika material-material ini menghantam perisai magnet Bumi, mereka dapat melumpuhkan satelit, mengancam para astronot, dan menciptakan aurora berwarna-warni di langit lintang utara dan selatan.
"Fenomena ini mengikuti siklus teratur, mencapai puncaknya setiap 11 tahun," kata Brun. "Pada tahun 2024, Matahari mencapai puncak siklus ke-25-nya."
Minggu depan, para ilmuwan CEA akan fokus pada korona Matahari, lapisan terluar atmosfernya.
"Kita sangat beruntung: Bulan 400 kali lebih kecil dari Matahari -- tetapi juga 400 kali lebih dekat kepada kita," kata Brun.
Kebetulan ini berarti Bulan menghalangi cahaya Matahari, tetapi tetap memungkinkan para ilmuwan untuk melihat apa yang terjadi di atmosfernya.
Korona Matahari membentang hingga 10 juta kilometer, dan intensitasnya satu juta kali lebih rendah daripada permukaannya, yang disebut fotosfer. Namun korona masih dapat mencapai suhu hingga dua juta derajat Celcius.
Pada masa normal ketika tidak ada gerhana, para ilmuwan mempelajari atmosfer Matahari dengan satelit yang dilengkapi dengan koronograf -- "sebuah filter yang menghalangi fotosfer", jelas Brun.
Namun gerhana total bahkan memungkinkan mereka untuk melihat sekilas kromosfer, lapisan atmosfer antara korona dan permukaan.
Menginspirasi
Para ilmuwan di ESA akan menganalisis gerhana minggu depan, dengan harapan dapat mempelajari lebih lanjut tentang angin matahari.
"Mengapa badai matahari menyebar dengan cara ini? Bagaimana struktur badai tersebut, dan dapatkah kita mengembangkan model yang memungkinkan kita untuk memprediksinya?" tanya Carole Mundell, direktur sains ESA.
Wahana Solar Orbiter milik ESA, yang diluncurkan pada tahun 2020, telah sibuk mengumpulkan data tentang atmosfer dan angin Matahari.
Gerhana merupakan kesempatan untuk "menguji seberapa baik model kita â atau seberapa buruknya," kata Miho Janvier, salah satu peneliti utama misi tersebut.
Misi ESA lainnya yang disebut Proba-3 saat ini menggunakan tiga wahana antariksa yang terbang dalam formasi sinkron untuk menciptakan gerhana matahari mini mereka sendiri.
Ada juga rencana untuk misi yang disebut MESOM yang berharap dapat mengirimkan pesawat ruang angkasa ke bayangan Bulan untuk mendapatkan pandangan yang jauh lebih lama tentang fenomena tersebut.
Lucie Green, seorang fisikawan surya di University College London yang bekerja dalam misi tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa gerhana matahari total "menginspirasi semua orang, baik seniman maupun ilmuwan".
"Apa yang kita lihat di Bumi menginspirasi apa yang ingin kita lakukan dalam penelitian ilmu antariksa kita," tambahnya.
- gerhana matahari total
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.