Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026, 16:57 WIBJAKARTA â Kolaborasi antara industri, akademisi, dan asosiasi profesi dinilai semakin penting untuk memperkuat pemahaman terhadap kondisi bawah permukaan atau subsurface di Indonesia. Pemahaman tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi ketidakpastian, mengidentifikasi risiko teknis lebih awal, serta meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam berbagai proyek strategis.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Seequent Connect Indonesia 2026, yang digelar di Fairmont Jakarta pada hari Kamis (6/8). Acara yang diselenggarakan Seequent, bagian dari The Bentley Subsurface Company, tersebut mempertemukan lebih dari 100 profesional dari sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur, serta perwakilan akademisi dan asosiasi profesi.
Dengan dukungan Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), forum ini menghadirkan pembicara dan panelis dari Seequent, PT Vale, Ormat Technologies, PT Promisco, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), MGEI, serta Institut Teknologi Bandung (ITB).
Diskusi dalam acara tersebut menyoroti pentingnya ketersediaan informasi geosains yang konsisten, terhubung, dan dapat digunakan lintas disiplin. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu perusahaan memperoleh gambaran kondisi subsurface secara lebih komprehensif sebelum mengambil keputusan terkait desain maupun pelaksanaan proyek.
Sejumlah sesi membahas pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung operasi pertambangan, pengelolaan informasi geosains yang saling terhubung, hingga penggunaan pemodelan tiga dimensi dan analisis geoteknik tingkat lanjut.
Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu perusahaan mengurangi ketidakpastian dalam proyek, mengenali potensi risiko teknis sejak tahap awal, serta meningkatkan efisiensi dan hasil pelaksanaan proyek.
Menjawab Kebutuhan Industri
Seequent Connect Indonesia 2026 menjadi penutup rangkaian kegiatan pembelajaran teknis dan keterlibatan industri selama tiga hari di Jakarta.
Pada dua hari sebelumnya, para profesional sektor pertambangan mengikuti lokakarya berbasis instruktur yang membahas pemodelan geologi tiga dimensi dan estimasi sumber daya menggunakan perangkat lunak Leapfrog Geo dan Leapfrog Edge.
Selain itu, Seequent juga menggelar kursus singkat GeoStudio yang membahas berbagai aspek teknis, termasuk stabilitas lereng, analisis rembesan, serta pemodelan tiga dimensi untuk menghadapi kondisi pertambangan dan infrastruktur yang kompleks.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi pemodelan dan analisis subsurface tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat lunak, tetapi juga dengan kemampuan tenaga profesional dalam menerjemahkan data geosains menjadi informasi yang dapat mendukung keputusan proyek.
Scott Moore, Direktur Pengembangan Bisnis Seequent, mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar penting bagi perusahaan di kawasan Asia Pasifik.
âIndonesia merupakan salah satu pasar terpenting Seequent di kawasan Asia Pasifik. Sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur di Indonesia sama-sama bergantung pada pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi subsurface,â ujar di melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (6/8).
Menurut dia, Seequent Connect Indonesia 2026 merupakan bagian dari investasi berkelanjutan perusahaan dalam membangun kemitraan lokal, meningkatkan kapasitas profesional, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih strategis terkait kondisi bawah permukaan.
Seequent sendiri telah mendukung berbagai proyek di Indonesia selama lebih dari 20 tahun. Dalam periode tersebut, perusahaan terus memperluas hubungan dengan organisasi, mitra, universitas, dan komunitas profesi yang bergerak di sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur.
Mendukung Agenda Indonesia Emas 2045
Penguatan kemampuan memahami kondisi subsurface dinilai semakin relevan seiring dengan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Pengembangan sektor mineral, panas bumi, energi, dan infrastruktur membutuhkan data serta informasi bawah permukaan yang akurat. Informasi tersebut menjadi dasar dalam perencanaan, desain, pengelolaan risiko, hingga pelaksanaan proyek.
Organisasi yang bergerak di sektor-sektor tersebut juga membutuhkan tenaga profesional dengan keahlian khusus serta teknologi yang mampu membantu tim proyek mengidentifikasi potensi risiko lebih awal.
Seequent menilai pendekatan berbasis data dan pemodelan dapat membantu memperkuat proses pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek. Sejumlah proyek yang menggunakan teknologi Seequent di Indonesia disebut telah menunjukkan dampak terhadap biaya, produktivitas, maupun waktu pengerjaan.
Pada proyek nikel PT Stargate di Sulawesi, misalnya, perangkat lunak Seequent diklaim mendukung penghematan biaya pengeboran hingga 8 juta dollar AS. Penggunaan teknologi tersebut juga disebut mampu mengurangi kebutuhan pengeboran hingga 80 persen dan meningkatkan produktivitas karyawan sebesar 50 persen.
Sementara itu, pada proyek Unit 3 Lumut Balai milik Pertamina Geothermal Energy, pemodelan bawah permukaan multidisiplin disebut membantu menurunkan biaya pengeboran dari sekitar 9 juta dollar AS menjadi 7,5 juta dollar AS.
Dalam proyek Jalan Trans-Papua yang dikerjakan PT Hutama Karya, perangkat lunak Bentley dan Seequent juga disebut mendukung optimalisasi desain. Hasilnya, proyek diklaim memperoleh penghematan hingga 1 juta dollar AS sekaligus mempersingkat jadwal pengerjaan selama sekitar dua bulan.
Berbagai contoh tersebut memperlihatkan bagaimana pemahaman kondisi bawah permukaan dapat memberikan dampak langsung terhadap efisiensi dan pengelolaan risiko dalam proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi.
Perkuat Kapasitas Geosains
Selain membahas kebutuhan industri, Seequent Connect Indonesia 2026 juga menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang geosains dan teknik.
Seequent menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan mitra industri untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan kebutuhan serta perkembangan praktik industri.
Ketua MGEI Rosalyn Wullandhary mengatakan perkembangan sektor geosains Indonesia membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara industri, asosiasi profesi, dan akademisi.
âSektor geosains Indonesia akan terus berkembang melalui kolaborasi yang lebih erat antara industri, asosiasi profesi, dan akademisi,â katanya.
Menurut Rosalyn, forum seperti Seequent Connect Indonesia memiliki peran penting sebagai ruang pertukaran pengalaman praktis sekaligus pengembangan kapasitas profesional.
MGEI, lanjut dia, menghargai kemitraan yang menghubungkan pendidikan, inovasi, dan industri untuk membangun komunitas geosains Indonesia yang lebih kuat dan siap menghadapi kebutuhan masa depan.
Kerja sama Seequent dengan ITB antara lain mencakup dukungan lisensi pengajaran dan pengembangan kompetensi bagi calon ahli geosains dan insinyur. Sementara dengan MGEI, kolaborasi mencakup pengembangan profesional, pelatihan mahasiswa, dan keterlibatan dengan industri.
Seequent juga menyediakan pelatihan dalam Bahasa Indonesia serta akses akademik terhadap perangkat lunak profesional dan berbagai sumber pembelajaran.
Melalui Seequent Connect Indonesia 2026 dan rangkaian kemitraan yang telah dibangun, perusahaan menyatakan akan terus memperkuat kerja sama dengan organisasi, universitas, dan komunitas profesi di Indonesia.
Fokusnya mencakup peningkatan pemahaman mengenai kondisi subsurface, penguatan keahlian dalam pengambilan keputusan proyek, serta pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur Indonesia di masa mendatang.
- infrastruktur
- pertambangan
- Panas Bumi
- ITB
- Energi
- Institut Teknologi Bandung (ITB)
- Seequent
- Seequent Connect Indonesia 2026
- Geosains
- Subsurface
- Teknologi Pertambangan
- Pemodelan 3D
- Geoteknik
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.