- Home
-
- Megapolitan
-
- Perang Baru di Timur Tenga...
Perang Baru di Timur Tengah? Arab Saudi Siapkan Serangan Darat Skala Besar ke Houthi
Jumat, 31 Jul 2026, 04:20 WIBRIYADH - Arab Saudi dilaporkan tengah mempersiapkan operasi militer besar-besaran terhadap kelompok Houthi di Yaman. Menurut sejumlah sumber di Yaman yang dikutip The Guardian, operasi tersebut diperkirakan akan melibatkan serangan dari laut dan kemungkinan ofensif darat di wilayah Yaman bagian tengah, sebagai upaya mematahkan ancaman terhadap jalur ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah.
Dari The Guardian, laporan itu menyebut pasukan Saudi mulai ditarik dari wilayah timur Yaman dan dipusatkan ke lokasi yang diyakini menjadi titik persiapan operasi darat. Pada saat yang sama, Riyadh juga bergerak membentuk koalisi angkatan laut multinasional untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab dari serangan Houthi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan bahwa 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti, telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung pembentukan koalisi pertahanan maritim tersebut.
Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi, yang didukung Iran dan menguasai ibu kota Sana'a serta sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman, mengumumkan pada 20 Juli bahwa mereka memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Saudi. Namun, Houthi membantah akan mengenakan pungutan terhadap seluruh kapal yang melintas.
Kelompok itu menyatakan blokade akan dicabut apabila Arab Saudi mengakhiri blokade terhadap Yaman. Houthi menegaskan sengketa tersebut berkaitan dengan masa depan Yaman, bukan semata-mata konflik dengan Iran.
Arab Saudi sendiri telah terlibat dalam perang saudara Yaman sejak 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menghadapi pemberontakan Houthi.
Selain membentuk koalisi dengan negara-negara kawasan, Riyadh juga meminta Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia, bergabung dalam pengamanan Laut Merah. Uni Eropa saat ini sebenarnya telah mengoperasikan misi perlindungan maritim Aspides, meski belum jelas apakah blokade Houthi akan berlaku untuk seluruh kapal atau hanya kapal yang terkait Arab Saudi.
Situasi semakin memanas setelah pada 25 Juli Houthi mengklaim telah menyerang fasilitas transportasi minyak yang mereka sebut sebagai target sensitif di Arab Saudi. Fasilitas tersebut menghubungkan ladang minyak di Provinsi Timur dengan terminal ekspor di Laut Merah.
Serangan itu meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur ekspor energi Saudi. Jika Laut Merah ikut tertutup di samping masih berlanjutnya blokade Selat Hormuz, kemampuan Arab Saudi mengekspor minyak akan tertekan secara signifikan.
Sebelum pecahnya perang Iran, sekitar 80 persen ekspor minyak mentah Saudi dikirim melalui Selat Hormuz. Namun kini Laut Merah menjadi jalur yang semakin vital, dengan lebih dari separuh produksi minyak kerajaan dialirkan melalui jaringan pipa menuju terminal ekspor di pelabuhan Yanbu.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Arab Saudi bersama Amerika Serikat pada Rabu melancarkan serangan udara ke Irak sebagai balasan atas serangan milisi yang menargetkan fasilitas minyak Saudi. Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas dalam operasi tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan gabungan itu dilakukan dengan persetujuan pemerintah Irak. Namun, hingga kini pemerintah di Baghdad belum mengonfirmasi klaim tersebut.
Sehari setelah serangan itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, menggelar pertemuan mendesak dengan Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance untuk membahas langkah berikutnya. Menurut laporan tersebut, Riyadh ingin menunjukkan kesiapan mempertahankan wilayah dan industri energinya, tetapi tidak ingin memperluas perang dengan Iran karena masih meyakini penyelesaian melalui jalur diplomasi tetap memungkinkan.
Sumber-sumber di Yaman juga mengungkapkan bahwa konsentrasi pasukan Saudi mengarah ke kemungkinan operasi di Provinsi al-Bayda, wilayah strategis di Yaman tengah yang direbut Houthi pada 2020â2021.
Dalam dua pekan terakhir, bentrokan antara kedua pihak kembali meningkat. Houthi melancarkan serangan terhadap fasilitas milik Saudi Aramco, sementara Arab Saudi membalas dengan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi di sekitar pelabuhan Hodeidah. Pada saat yang sama, sebuah kapal dagang Saudi kembali menjadi sasaran serangan di Laut Merah.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade itu kini memasuki fase baru setelah keseimbangan yang selama ini relatif rapuh mulai runtuh dalam sebulan terakhir.
Para pengamat menilai ketegangan di Yaman dapat mereda apabila negara-negara Teluk dan Iran berhasil mencapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Hingga kini, pembicaraan yang dimediasi Oman masih berlangsung. Iran disebut tetap bersikeras agar seluruh kapal yang memasuki selat menggunakan jalur utara yang berada dekat garis pantainya.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
CKG Sekolah Jangkau Seluruh Indonesia hingga Desember
-
Tiba-tiba Akur, Trump Mengatakan AS akan Berhenti Membombardir Militan Houthi
-
Bulog Pastikan Distribusi Beras SPHP dan Bantuan Pangan Dipercepat
-
Proyeksi Pergerakan Penumpang Udara pada Masa Libur Sekolah
-
Rencana Perang Bocor ke Wartawan, Menhan AS Membantah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.