• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Para Wanita Jangan Gemuk-g...

Para Wanita Jangan Gemuk-gemuk, ya, Susah Punya Anak

Jumat, 31 Jul 2026, 12:35 WIB

JAKARTA-  Para Wanita perlu mencermati imbauan agar tidak gemuk-gemuk karena bisa sulit memperoleh keturunan. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Cynthia Agnes Susanto mengatakan obesitas pada perempuan bukan sekadar persoalan estetika atau penampilan, melainkan penyakit metabolik kronis yang mengancam kesehatan reproduksi hingga sistem pembuluh darah dan jantung

Ia menjelaskan dampak obesitas meluas mulai dari masa remaja hingga pascamenopause mencakup gangguan siklus pelepasan sel telur (ovulasi) dan menstruasi, peningkatan risiko ketidaksuburan (infertilitas), hingga komplikasi kehamilan.

Ket. Foto: perlu diet — Sumber: ist

"Obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," kata dr. Cynthia Agnes Susanto dalam keterangannya di Tangerang Jumat.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 47,2 juta atau sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas. Prevalensi obesitas pada kelompok perempuan tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yakni mencapai 36,4 persen berbanding 24,4 persen.

Lebih lanjut dr. Cynthia memaparkan salah satu keterkaitan erat obesitas dengan kesehatan reproduksi terlihat pada kondisi sindrom ovarium metabolik poliendokrin (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome/PMOS), yang sebelumnya dikenal sebagai sindrom ovarium polikistik (Polycystic Ovary Syndrome/PCOS).

Perubahan istilah ini mencerminkan pemahaman ilmiah terbaru bahwa kondisi tersebut bukan sekadar gangguan ovarium, melainkan gangguan hormon (endokrin) dan metabolisme yang kompleks.

Kondisi PMOS menjadi penyebab tersering gangguan ovulasi, dengan sekitar 35 hingga 50 persen penderitanya juga mengalami obesitas. Keadaan ini menciptakan ikatan yang kompleks karena obesitas dapat memperburuk gejala PMOS, sementara perubahan hormon dan metabolisme akibat PMOS membuat upaya pengelolaan berat badan menjadi semakin menantang.

Mengingat kompleksitas biologi tubuh tersebut, penanganan obesitas kini menerapkan pendekatan lintas disiplin (multidisiplin) yang komprehensif, dipersonalisasi, dan berbasis sains. Tata laksana ini mencakup perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi obat-obatan (farmakologis) sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah pencernaan (bariatrik) untuk pasien tertentu.

Seiring kemajuan ilmu kedokteran, salah satu pilihan terapi medis yang berkembang adalah penggunaan obat pemicu kerja hormon kenyang (GLP-1 receptor agonist/GLP-1 RA). Terapi ini bekerja pada mekanisme biologis pengatur rasa lapar dan kenyang di otak sebagai pelengkap perubahan gaya hidup di bawah evaluasi dokter.

"Terapi tersebut juga mendukung penurunan berat badan berkualitas yaitu pengurangan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot, berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen, serta memulihkan parameter kesehatan metabolisme tubuh secara menyeluruh," ujarnya yang juga RSIA Grand Family

Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha Tarliman menegaskan pentingnya edukasi berbasis fakta ilmiah agar masyarakat, khususnya perempuan, dapat mengenali risiko obesitas tanpa cemas terhadap stigma atau penilaian negatif sosial.

"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," ujar dr. Riyanny Meisha Tarliman.

Ia menambahkan bahwa penanganan obesitas memerlukan konsultasi medis yang tepat agar setiap individu memperoleh tata laksana yang personal. Untuk mendukung kebutuhan edukasi publik tersebut, pihaknya menyediakan platform NovoCare.id yang memuat alat ukur indeks massa tubuh untuk penapisan awal serta direktori pencarian dokter guna membantu masyarakat memulai langkah pengelolaan berat badan secara profesional.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.