- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Uji Perdana Senjata Ele...
AS Uji Perdana Senjata Elektronik yang Pembuta Rudal Musuh
Jumat, 31 Jul 2026, 00:03 WIBWASHINGTON DC â Angkatan Darat Amerika Serikat untuk pertama kalinya menguji sistem perang elektronik terbaru bernama "Hammer of the Gods" di luar negeri. Teknologi ini dirancang untuk mengganggu sinyal navigasi yang digunakan senjata berpemandu presisi musuh, sehingga serangan dapat meleset dari sasaran tanpa perlu menghancurkan sistem persenjataannya secara langsung.
Dari Fox News, pengujian dilakukan pada pertengahan Juli di wilayah laut lepas pantai barat Amerika Serikat sebagai bagian dari latihan Project Convergence Capstone 6 (PC-C6). Uji coba ini menjadi debut resmi varian maritim setelah versi berbasis darat lebih dulu diperkenalkan dalam dua tahun terakhir.
Menurut Angkatan Darat AS, sistem portabel tersebut mampu mengacaukan sinyal Positioning, Navigation and Timing (PNT), termasuk data GPS, yang menjadi acuan utama berbagai senjata modern untuk menentukan posisi dan arah serangan.
Ketika akses terhadap data PNT terganggu, rudal jelajah, rudal berpemandu, hingga artileri jarak jauh akan mengalami penurunan akurasi secara signifikan. Kondisi ini meningkatkan peluang serangan gagal mengenai target atau bahkan tertunda.
Selain mengganggu navigasi lawan, Hammer of the Gods juga dirancang untuk menjaga komunikasi pasukan sendiri tetap berjalan. Sistem ini membangun jaringan komunikasi yang lebih tahan terhadap gangguan elektronik, sehingga personel militer tetap dapat bertukar data, bergerak, dan menjalankan operasi di lingkungan peperangan elektronik yang padat.
Pejabat militer AS menyebut hasil uji coba menunjukkan sistem tersebut dapat dikerahkan, dioperasikan, dan dipulihkan dengan baik dalam lingkungan maritim nyata.
Pengujian melibatkan sejumlah matra militer Amerika Serikat, termasuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Luar Angkasa AS, Pasukan Luar Angkasa Pasifik, Pangkalan Angkatan Laut San Diego, serta Komando Pertahanan Rudal dan Luar Angkasa Angkatan Darat AS. Kolaborasi itu bertujuan mengintegrasikan kemampuan peperangan konvensional, siber, dan luar angkasa dalam satu operasi terpadu.
Perkembangan teknologi ini muncul ketika berbagai negara berlomba memperkuat kemampuan perang elektronik. Sebelumnya, Komandan Tertinggi NATO bidang Transformasi, Laksamana Pierre Vandier, menilai pengalaman perang di Ukraina menunjukkan bahwa persenjataan Barat perlu disesuaikan dengan karakter peperangan modern, yang semakin bergantung pada kemampuan elektronik, siber, dan sistem nirawak.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Perkuat Transformasi Brand dengan Jangkauan Layanan di 400 Kota, SMARTFREN Jagoan Sinyal
-
Ibas: Transportasi Hijau dan Cerdas Harus Berorientasi pada Amanat Konstitusi
-
Kasus yang Melingkungi Proyek Marina Bay City Belum Juga Kelar
-
AI Anthropic Diklaim Tembus Hampir Semua Sistem Rahasia NSA dalam Hitungan Jam, Pemerintah AS Langsung Bertindak
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.