Tenaga Kesehatan Indonesia Dinilai Hadapi “Silent Crisis”
📅 Kamis, 30 Jul 2026, 03:27 WIB | Oleh: Tim PenulisDampaknya, tenaga kesehatan tetap bekerja meski mereka mengalami hipertensi, gangguan tidur, burnout, kelelahan fisik, dan gangguan mental emosional.
Kecelakaan Kerja dan Perjalanan Dinas, masih banyak dokter dan tenaga kesehatan yang harus melakukan rujukan pasien, pelayanan di daerah terpencil, kunjungan lapangan, dan melakukan pelayanan kegawatdaruratan dengan risiko kecelakaan lalu lintas.
Risiko tersebut belum banyak diperhitungkan sebagai bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kesehatan.
Selama ini, tenaga kesehatan selalu dituntut untuk menjaga kesehatan masyarakat. Namun, sering lupa bahwa tenaga kesehatan juga merupakan pekerja yang dapat mengalami kelelahan, sakit, depresi, bahkan kehilangan nyawanya akibat pekerjaannya.
Masalahnya, sering kali sangat sederhana. Dokter yang sakit tetap bekerja, karena tidak ada pengganti. Perawat yang kelelahan tetap bertugas karena pelayanan tidak boleh berhenti.
Peserta pendidikan yang mengalami tekanan psikologis memilih diam karena takut dianggap tidak mampu.
”Apabila industri penerbangan memiliki aturan bahwa pilot yang tidak fit tidak diperbolehkan menerbangkan pesawat, mengapa kita masih membiarkan dokter dan tenaga kesehatan yang tidak fit tetap memberikan pelayanan kepada pasien? Karena, pada akhirnya tenaga kesehatan yang tidak sehat bukan hanya berisiko bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi kesehatan pasien,” kata Prof Fatma. Ant/S-2
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!