Pembiayaan Domestik Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 30 Jul 2026, 00:00 WIB

Tingginya jumlah masyarakat unbankable dan terbatasnya akses kredit UMKM menjadi penghambat utama penguatan kapasitas pembiayaan domestik.

JAKARTA – Pembangunan ekonomi berkelanjutan memerlukan fondasi pembiayaan domestik yang kuat, sehingga jangan terus bergantung pada aliran modal asing yang rentan terhadap perubahan kondisi global. Tingkat tabungan masyarakat yang lebih tinggi dapat menjadi sumber pembiayaan investasi nasional, memperkuat likuiditas sektor keuangan, dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak arus modal.

Ket. Foto: Kemandirian Ekonomi - Kebergantungan pada Modal Asing Indikasikan Fondasi Ekonomi Lemah — Sumber: antara

Karena itu, upaya meningkatkan rasio tabungan tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam menyimpan dana, tetapi juga menjadi strategi memperkuat kemandirian ekonomi. Dengan basis pembiayaan domestik yang semakin kokoh, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas, mendukung investasi produktif, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip), Esther Sri Astuti menilai rendahnya tabungan domestik dipicu masih tingginya masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan.”Sekitar 80 persen masyarakat Indonesia masih unbankable, sementara akses kredit bagi UMKM juga masih terbatas sehingga kapasitas pembiayaan domestik belum berkembang optimal,” ujar Esther di Jakarta, Rabu (29/7).

Untuk meningkatkan jumlah penabung, Esther mengusulkan tiga langkah utama, yakni memperluas akses perbankan melalui digitalisasi pembukaan rekening, menurunkan batas setoran awal agar lebih terjangkau, serta menyediakan fitur auto-debit tabungan disertai program insentif dan edukasi keuangan. Menurutnya, pendalaman sektor keuangan (financial deepening) akan memperkuat tabungan domestik sebagai sumber pembiayaan pembangunan, sehingga ketergantungan terhadap modal asing dapat dikurangi.

Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyoroti rasio tabungan masyarakat Indonesia yang masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di Asia. Rasio tabungan masyarakat Indonesia baru 42 persen atau terendah di antara peers country (negara-negara setara).

“Angka ini lebih rendah dibandingkan banyak negara Asia. Artinya, dari sisi positifnya, kapasitas pembiayaan domestik masih harus terus diperkuat,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu dalam Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta Komisariat Perbanas di Jakarta, Selasa (28/7).

Menurutnya, pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan harus bertumpu pada tabungan masyarakat, bukan hanya mengandalkan modal asing yang sifatnya fluktuatif.

Fondasi Rapuh

Pengamat Kebijakan Publik dari Fitra, Badiul Hadi menilai kebergantungan pada modal asing mencerminkan lemahnya fondasi ekonomi domestik. Rendahnya rasio tabungan nasional dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni stagnasi pendapatan masyarakat, deindustrialisasi, dan lemahnya kapasitas negara menghimpun penerimaan.

Menurutnya, ketergantungan pada modal asing meningkatkan risiko capital outflow saat krisis yang dapat melemahkan rupiah, menaikkan biaya utang, dan mempersempit ruang fiskal. “Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar mendorong masyarakat menabung, melainkan reformasi struktural melalui peningkatan kualitas lapangan kerja, penguatan industri bernilai tambah, perluasan kelas menengah, dan reformasi perpajakan,” jelasnya.

Badiul menegaskan modal asing tetap diperlukan sebagai pelengkap, bukan sumber utama pembiayaan pembangunan. Ke depan, pemerintah perlu memperkuat pembiayaan domestik melalui pendalaman pasar keuangan, optimalisasi dana pensiun dan asuransi, serta investasi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

2 Jembatan Besar di Flores Rusak Parah, Menteri PU: Harus Selesai September & Tahan Gempa

Jangan Asal Pakai AI! Wamenkomdigi Soroti Risiko di Sektor Keuangan

BPJS Ketenagakerjaan Genjot Kepesertaan Pekerja Informal Lewat 3R

Amankan Ajang Merdeka Run di Jakarta, Polda Metro Jaya Siagakan 784 Personel

Sabtu, Samsat Keliling Polda Metro Jaya Hanya Buka di Depok, Tangerang dan Bekasi

Kemenpar Pasang Target Besar: Dieng Culture Festival Harus Bikin Wisata RI Makin Mendunia

Harga Emas Antam pada Sabtu (29/8) Anjlok Rp48.000 Menjadi Rp2,670 Juta/Gr

Dinas Pertanian Sumatera Selatan Sosialisasi Juknis Penyaluran Pupuk Subsidi ke Penyuluh

Terdata Desil 9, BPS Perbarui Data Warga Kulon Progo Timbul Jadi Desil 3

Komit Lestarikan Lingkungan, PT Angkasa Pura Tanam 14.000 Mangrove di Kubu Raya

Peter Cullen, Pengisi Suara Optimus Prime Meninggal Dunia di Usia 85 Tahun

Jumlah Korban Tewas Akibat Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tiongkok Terus Bertambah

Sudin Kesehatan Kepulauan Seribu Perkuat Tracing TB melalui Program CKG

Tiongkok Ingatkan Risiko Bencana Longsor Lanjutan di Perbatasan Nepal

Mulai Hari Ini, Draf PPHN Bisa Diakses Publik di Laman Resmi MPR RI

Rekomendasi Acara Akhir Pekan di Jakarta: Ada Pertunjukan Tari Balet di TIM hingga Pameran Wastra Nusantara di Museum Tekstil

Jaga Stabilitas Harga, Perum Bulog Sumut Siap Salurkan Beras SPHP dan Minyakita

Pemprov Sumut Terus Antisipasi Lonjakan Harga Daging Ayam Ras Tembus Rp50.000/Kg

Pameran Antropologi dan Fotografi Malangan Hadir di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, Catat Tanggalnya!

Pergelangan Kaki Bermasalah, Carlos Baleba Harus Absen Tiga Pekan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.