Manuver Investasi FIFA Buka Babak Baru Perebutan Kekuasaan dengan Eropa

Kamis, 30 Jul 2026, 00:05 WIB

MELBOURNE — Langkah FIFA membuka pintu bagi investasi ekuitas swasta dalam pengelolaan Piala Dunia menandai upaya dramatis untuk mengubah peta bisnis sepak bola dunia. Pada saat yang sama, manuver tersebut membuka babak baru dalam pertarungan panjang FIFA dengan Eropa untuk memperebutkan pengaruh dan kendali atas kekayaan luar biasa yang dihasilkan olahraga paling populer di dunia.

Badan sepak bola dunia yang dipimpin Gianni Infantino berencana membentuk anak perusahaan dengan nilai sekitar 330 triliun rupiah untuk mengelola Piala Dunia dan berbagai event FIFA lainnya. Dalam struktur tersebut, investor eksternal akan ditawari kepemilikan hingga 20 persen.

Ket. Foto: Jajaran petinggi FIFA. — Sumber: FIFA

Rencana itu langsung mendapat kecaman keras dari UEFA. Badan sepak bola Eropa tersebut menilai langkah FIFA sama saja dengan menempatkan “jiwa” sepak bola untuk diperjualbelikan.

Infantino, yang akan menghadapi pemilihan kembali sebagai Presiden FIFA tahun depan, menggambarkan rencana tersebut sebagai upaya mendorong “demokratisasi” sepak bola dunia dengan memperluas akses terhadap keuntungan finansial olahraga tersebut.

Proposal FIFA juga menawarkan insentif besar kepada 211 asosiasi anggota. Setiap asosiasi akan mendapat akses terhadap sekitar 330 miliar rupiah dana langsung untuk proyek-proyek khusus, disusul hibah Rp330 miliar atau lebih dalam setiap siklus empat tahunan berikutnya.

Bagi negara-negara kecil dan berkembang yang sangat bergantung pada FIFA sebagai sumber pendapatan utama sepak bola mereka, tawaran tersebut tentu menjadi daya tarik yang sulit diabaikan.

FIFA sendiri telah menghasilkan miliaran dolar dari hak siar, sponsor, serta berbagai kesepakatan komersial. Pendapatan badan tersebut bahkan diperkirakan melampaui target sekitar 214,5 triliun rupiah untuk siklus empat tahun yang berakhir setelah Piala Dunia terakhir, termasuk penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub.

Namun, angka tersebut masih jauh dibandingkan dengan kekayaan yang berputar di sepak bola Eropa.

UEFA melaporkan pada bulan Februari bahwa kompetisi klub elite Eropa menghasilkan sekitar 96,5 triliun rupiah hanya dalam musim 2024-2025.

Secara keseluruhan, kompetisi sepak bola di seluruh Eropa menghasilkan lebih dari 772 triliun rupiah pada periode yang sama. Lima liga terbesar, Premier League, Bundesliga, LaLiga, Serie A, dan Ligue 1, menyumbang sedikit di atas separuh jumlah tersebut, menurut laporan tahunan Deloitte mengenai keuangan sepak bola.

Kesenjangan finansial itulah yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu medan perebutan pengaruh antara FIFA dan Eropa.

FIFA sejak lama berusaha menggeser pusat gravitasi finansial sepak bola dunia agar tidak terlalu terkonsentrasi di Eropa. Pada masa lalu, Eropa mendominasi struktur keanggotaan dan memiliki pengaruh besar terhadap pengelolaan aset paling berharga FIFA, yakni Piala Dunia.

Mantan Presiden FIFA asal Brasil, João Havelange, pernah memainkan peran penting dalam mengubah keseimbangan tersebut. Ia berhasil memperluas Piala Dunia sekaligus meningkatkan pengaruh Afrika, Asia, dan Amerika Latin melalui koalisi politik negara-negara yang lebih kecil.

Presiden-presiden FIFA setelah Havelange melanjutkan warisan tersebut, dan Infantino menjadi tokoh terbaru yang mendorong ekspansi besar-besaran kompetisi sepak bola dunia.

Piala Dunia kini telah berkembang menjadi turnamen 48 negara, dari sebelumnya 32 peserta.

Bahkan pekan lalu, Infantino mengatakan gagasan untuk menggelar Piala Dunia dengan 64 tim terbuka untuk dibahas. Wacana tersebut muncul setelah konfederasi sepak bola Amerika Selatan, CONMEBOL, mendorong ekspansi untuk edisi 2030 yang bertepatan dengan satu abad penyelenggaraan Piala Dunia.

Namun, gagasan tersebut langsung mendapat kritik tajam dari Presiden LaLiga, Javier Tebas. Dalam wawancara dengan surat kabar Italia La Gazzetta dello Sport, Tebas menilai FIFA justru sedang “menghancurkan” sepak bola.

Upaya Infantino untuk mengomersialkan aset FIFA sebenarnya bukan hal baru.

Pada 2018, FIFA pernah memiliki rencana untuk memperluas Piala Dunia Antarklub dengan dukungan investasi eksternal dari konsorsium yang dipimpin SoftBank. Namun, proyek tersebut gagal terealisasi setelah mendapat penolakan keras dari UEFA.

Kini, Infantino kembali mencoba membuka pintu bagi modal eksternal.

Seperti yang dilakukan Havelange dan penerusnya, Sepp Blatter, Infantino kemungkinan besar akan mengandalkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota FIFA, bukan semata-mata dukungan Eropa, untuk menjalankan agenda investasi swastanya.

Bagi negara-negara di kawasan Global Selatan, tawaran tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

“Jika Anda berasal dari negara Global Selatan, yang kompetisi sepak bolanya tidak mendapatkan aliran uang seperti yang diterima kompetisi Eropa, ini mungkin sangat menarik,” kata Eric Windholz, profesor madya di Fakultas Hukum Monash University, kepada Reuters.

Pandangan tersebut menjelaskan mengapa pertarungan antara FIFA dan UEFA tidak sesederhana persoalan bisnis.

Di satu sisi, negara-negara sepak bola besar Eropa memiliki industri kompetisi yang sangat kaya, basis komersial kuat, klub-klub bernilai tinggi, serta hak siar yang menghasilkan miliaran dolar.

Di sisi lain, sebagian besar asosiasi anggota FIFA berasal dari negara yang tidak memiliki sumber pendapatan sebanding. Bagi mereka, tambahan pendanaan dari FIFA dapat menjadi faktor penting untuk mengembangkan infrastruktur, kompetisi domestik, pembinaan pemain, dan program sepak bola nasional.

Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah dan Karibia (CONCACAF) menyatakan kecewa karena proses yang ditempuh FIFA dinilai tidak melibatkan pemangku kepentingan secara memadai.

Namun, CONCACAF tidak secara langsung menolak rencana investasi ekuitas swasta tersebut.

Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang menaungi 47 asosiasi anggota, mengaku bahkan tidak mengetahui rencana tersebut sebelum FIFA mengumumkannya kepada publik.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan terbesar yang kini dihadapi Infantino bukan sekadar mencari investor.

Pertarungan sebenarnya adalah soal siapa yang akan mengendalikan masa depan bisnis sepak bola dunia.

FIFA memiliki keunggulan politik melalui 211 anggota yang tersebar di seluruh dunia. Eropa, di sisi lain, memegang kekuatan ekonomi yang sangat besar melalui klub-klub, liga, hak siar, sponsor, dan kompetisi yang menjadi pusat industri sepak bola global.

Dengan membuka hingga 20 persen kepemilikan kepada investor eksternal, Infantino mencoba membangun sumber kekuatan finansial baru bagi FIFA.

Namun, langkah tersebut juga berpotensi memperuncing konflik dengan Eropa yang selama puluhan tahun telah menjadi pusat kekuatan ekonomi sepak bola.

Pada akhirnya, pertarungan ini bukan hanya tentang Rp330 triliun, tetapi tentang siapa yang memiliki pengaruh terbesar atas uang, kompetisi, dan arah masa depan olahraga paling populer di dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.