Kemarau Panjang Picu Lonjakan Karhutla, Palembang Resmi Tetapkan Status Siaga Bencana

Rabu, 29 Jul 2026, 14:30 WIB

Palembang - Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, menetapkan status siaga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau tahun ini.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa di Palembang, Rabu (29/7), mengatakan penetapan status tersebut dilakukan untuk meminimalkan risiko karhutla yang meningkat selama musim kemarau.

Ket. Foto: Pemkot Palembang menggelar rapat penetapan status siaga bencana karhulta, Rabu (29/7). — Sumber: Antara

"Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah, sehingga penanggulangan bencana tidak boleh hanya dilakukan saat kejadian, tetapi harus dimulai dari perencanaan, mitigasi, dan kesiapsiagaan," katanya.

Menurut dia, status siaga ditetapkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh perangkat daerah, termasuk memastikan personel, peralatan, dan sumber daya siap menghadapi potensi karhutla.

"Saat ini Kota Palembang menghadapi peningkatan ancaman bencana, khususnya kebakaran lahan," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palembang, sepanjang Januari hingga Mei 2026 tercatat sembilan kejadian kebakaran lahan. Jumlah tersebut meningkat tajam menjadi 50 kejadian pada Juni hingga Juli seiring memasuki puncak musim kemarau.

"Oleh sebab itu, penetapan status perlu dilakukan agar karhutla dapat ditanggulangi sedini mungkin," katanya.

Sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan, Pemerintah Kota Palembang membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk menangani bencana secara cepat, tepat, dan terkoordinasi guna meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

Selain itu, pemerintah juga membentuk Tim Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) yang bertugas melakukan penilaian terhadap kerusakan, kerugian, dan kebutuhan pascabencana sebagai dasar penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang tepat sasaran, transparan, dan akuntabel," ujar Ratu Dewa.

Ia juga menginstruksikan seluruh perangkat daerah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan kesiapsiagaan, serta menjadikan informasi dan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai acuan dalam mitigasi bencana.

Pengamanan Rumah Penduduk

Sementara itu, upaya penanganan karhutla terus dilakukan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Tim Manggala Agni bersama personel gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan seluas sekitar 15 hektare di Kabupaten Ogan Ilir pada Minggu (26/7).

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra Kementerian Kehutanan Ferdian Krisnanto mengatakan kebakaran terjadi di Kecamatan Indralaya Utara dan Kecamatan Pemulutan, dan seluruh titik api berhasil dikendalikan pada hari yang sama.

Menurut Ferdian, salah satu lokasi kebakaran berada di dekat permukiman warga sehingga tim gabungan memprioritaskan pengamanan rumah penduduk agar api tidak merambat.

"Kebakaran terjadi di dekat permukiman warga sehingga tim sempat fokus untuk mengamankan rumah warga terlebih dahulu," katanya.

Kebakaran terbesar terjadi di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, yang menghanguskan sekitar 10 hektare lahan gambut yang ditumbuhi semak belukar, akasia, dan gelam.

Tim Manggala Agni Daops Sumatera XIV/Banyuasin bergerak ke lokasi setelah petugas piket melihat kepulan asap dari pondok kerja. Operasi pemadaman berlangsung mulai pukul 14.19 WIB hingga 18.07 WIB, dengan sekitar tiga hektare area berhasil dipadamkan pada tahap awal sebelum api sepenuhnya berhasil dikendalikan bersama tim gabungan.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.