Misi Besar Klopp: Mengembalikan Jerman ke Puncak Dunia dengan Identitas Baru
Senin, 27 Jul 2026, 07:00 WIBFRANKFURT â Penunjukan Jurgen Klopp sebagai pelatih baru tim nasional Jerman membuka babak baru bagi salah satu kekuatan tradisional sepak bola dunia. Setelah tiga penampilan mengecewakan secara beruntun di Piala Dunia, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) kini mempercayakan proses kebangkitan Die Mannschaft kepada sosok yang sukses membangun era emas bersama Borussia Dortmund dan Liverpool.
Jerman kehilangan reputasi sebagai tim spesialis turnamen setelah gagal lolos dari fase grup pada Piala Dunia 2018 dan 2022. Keterpurukan berlanjut di Piala Dunia 2026 ketika mereka disingkirkan Paraguay pada babak 32 besar.
Kini, Klopp dituntut mengembalikan identitas sekaligus daya saing tim nasional.
"Siapa pun yang memberikan segalanya akan menikmati bekerja bersama saya. Saya ingin melatih pemain yang ingin memainkan sepak bola yang bisa dinikmati semua orang. Kesuksesan memang tidak selalu datang dengan cepat, tetapi saya ingin para penonton pulang sambil berkata, 'Wow, itu luar biasa'," ujar Klopp saat diperkenalkan secara resmi di Frankfurt.
Pelatih berusia 59 tahun itu langsung menegaskan arah permainan yang ingin dibangunnya. Intensitas tinggi, organisasi permainan yang rapi, tempo cepat, serta gegenpressing kembali menjadi fondasi utama.
Counter-pressing akan menjadi salah satu faktor penting, begitu juga organisasi permainan, formasi yang konsisten, dan rencana bermain yang jelas."
Klopp menilai Jerman membutuhkan perubahan mendasar setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Meski mengakui kualitas skuad Jerman belum setara dengan Prancis, ia yakin timnya tetap mampu bersaing apabila memiliki identitas permainan yang kuat. "Kita harus realistis. Apakah kita memiliki pemain seperti Prancis? Tidak. Tetapi kita tetap bisa mengalahkan mereka. Yang terpenting adalah bagaimana kita memainkan sepak bola."
Menurut Klopp, publik juga harus kembali menikmati pertandingan tim nasional, bukan hanya saat turnamen besar berlangsung.
Namun pekerjaan rumah yang menantinya tidak sedikit. Jerman masih membutuhkan pola permainan yang jelas, kreativitas saat membangun serangan, serta peningkatan kecepatan transisi.
Selain itu, sejumlah posisi masih menjadi perhatian serius, mulai dari pencarian pengganti Manuel Neuer di bawah mistar hingga solusi jangka panjang di posisi bek kanan dan penyerang tengah.
Klopp akan memulai pekerjaannya dengan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menjalani laga debut menghadapi Belanda pada UEFA Nations League, 24 September mendatang.
"Saya akan menonton banyak pertandingan di berbagai negara tempat pemain kami bermain. Mereka yang masuk tim adalah pemain yang menunjukkan kualitas sekaligus semangat bertarung."
Salah satu kekuatan terbesar Klopp adalah kemampuannya membangun hubungan dengan pemain.
Sepanjang kariernya, ia dikenal mampu menciptakan suasana positif di ruang ganti sekaligus membuat setiap pemain merasa memiliki peran penting. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengembalikan ketenangan di lingkungan tim nasional sekaligus membangun kembali kepercayaan publik.
Selama melatih Liverpool, istilah gegenpressing menjadi identitas utama permainan Klopp.
Filosofi tersebut mengandalkan tekanan agresif segera setelah kehilangan bola, memaksa lawan melakukan kesalahan, lalu mengubahnya menjadi peluang mencetak gol dalam waktu singkat.
Namun "Klopp-ball" bukan sekadar pressing tinggi.
Permainannya juga menitikberatkan pada transisi vertikal yang cepat, intensitas tinggi, dan penggunaan bola secara efektif. Bagi Klopp, penguasaan bola bukan tujuan utama.
Artinya, keberhasilan merebut bola harus langsung menghasilkan ancaman nyata ke gawang lawan.
"Saya ingin para pemain menunjukkan betapa besarnya kehormatan mengenakan seragam Jerman. Kami harus bermain dengan cara yang membuat kami pantas menjadi juara dunia."
Karakter lain yang melekat pada Klopp adalah keberaniannya memberi kesempatan kepada pemain muda.
Di Mainz, Borussia Dortmund, hingga Liverpool, ia membangun reputasi dengan mempercayai talenta muda seperti Mario Gotze, Marcel Schmelzer, Trent Alexander-Arnold, hingga Curtis Jones.
Kini pendekatan serupa diperkirakan akan diterapkan bersama tim nasional Jerman.
"Kami harus menemukan keseimbangan antara pengembangan pemain dan performa. Ini bukan ajang pencarian bakat. Kami tidak akan terburu-buru memasukkan 11 pemain muda sekaligus, tetapi banyak pemain akan mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan mereka."
Generasi muda Jerman dinilai sangat sesuai dengan filosofi Klopp.
Nama-nama seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, Aleksandar Pavlovic, Lennart Karl, Tom Bischof, hingga Brajan Gruda memiliki karakter permainan yang mengandalkan teknik, mobilitas, dan intensitas tinggi.
Musiala dan Wirtz diprediksi menjadi fondasi utama proyek jangka panjang Die Mannschaft menuju Piala Dunia 2030.
Sementara Lennart Karl yang gagal tampil di Piala Dunia akibat cedera berpeluang menjadi salah satu pilar penting apabila mampu berkembang di bawah arahan Klopp.
Pertanyaan besar lainnya adalah bagaimana Klopp memperlakukan para pemain senior.
Kapten Joshua Kimmich diperkirakan tetap menjadi pemimpin tim, tetapi masa depan pemain-pemain seperti Antonio Rudiger, Leon Goretzka, Pascal Gross, dan Leroy Sane masih menjadi tanda tanya.
Meski demikian, Klopp masih memiliki banyak pemain berusia 25 hingga 31 tahun yang berpotensi menjadi tulang punggung dalam dua turnamen besar berikutnya.
Di lini belakang, Jonathan Tah dan Nico Schlotterbeck tetap menjadi kandidat utama apabila mampu menjaga konsistensi.
Sementara di lini depan, Deniz Undav terus menunjukkan perkembangan positif dan menjadi salah satu favorit suporter Jerman.
Kai Havertz tetap dipercaya meski penampilannya bersama tim nasional kerap naik turun.
Jerman juga berharap menemukan kembali sosok predator di kotak penalti setelah era Miroslav Klose berakhir. Nick Woltemade, yang berperan besar membawa Jerman lolos ke Piala Dunia 2026, dianggap memiliki peluang mengisi peran tersebut.
Selain itu, Klopp diperkirakan akan membuka jalan bagi sejumlah penyerang muda seperti Said El Mala, Maximilian Beier, Nelson Weiper, dan Max Moerstedt.
Dengan pengalaman membangun tim di Mainz, Dortmund, dan Liverpool, Klopp kini menghadapi tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya: membangkitkan kembali kebanggaan sepak bola Jerman.
"Saya sudah tiga kali melihat bagaimana sebuah tim sepak bola yang sukses mampu mengubah sebuah kota."
Kini, ia berharap dapat menghadirkan dampak yang sama, bukan hanya bagi satu klub, melainkan bagi seluruh Jerman dan tim nasionalnya.
- Juergen Klopp
- Pelatih Timnas Jerman
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Butuh Kerja Keras dan Konsistensi Kebijakan untuk Meraih Target di 2027
-
Konflik Antarsuku di Wamena Perlu Ditangani Polda Papua
-
Warga Kota Pecinta Sepak Bola di AS Tak Sanggup Beli Tiket Piala Dunia
-
New York Knicks Menang Dramatis, Selangkah Lagi Juara NBA
-
Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Pendeteksi Kebakaran Listrik Hi-VITS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.