Di Tengah Perang Iran AS Beri Lampu Hijau Program Nuklir Arab Saudi, Riyadh Dapat Perkaya Uranium

Kamis, 23 Jul 2026, 06:15 WIB

WASHINGTON DC – Amerika Serikat dan Arab Saudi pada Kamis (23/7) resmi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil yang disebut sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam hubungan kedua negara. Kesepakatan ini membuka jalan bagi pengembangan program energi nuklir Arab Saudi, termasuk kemungkinan Riyadh memperkaya uranium di masa depan.

Dari The Guardian, perjanjian tersebut ditandatangani oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman. Selain kerja sama nuklir damai, kedua negara juga menyepakati perjanjian pengamanan bilateral untuk mengawasi pelaksanaan program tersebut.

Ket. Foto: Kemitraan ini akan memperluas ekspor teknologi nuklir Amerika Serikat, menciptakan lapangan kerja bergaji tinggi bagi warga AS, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan keamanan nasional kedua negara. — Sumber: Istimewa

Departemen Energi AS menyatakan kemitraan ini akan memperluas ekspor teknologi nuklir Amerika Serikat, menciptakan lapangan kerja bergaji tinggi bagi warga AS, sekaligus memperkuat ketahanan energi dan keamanan nasional kedua negara.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kesepakatan itu mencerminkan komitmen Washington dan Riyadh untuk mempererat hubungan ekonomi dan strategis.

Menurut Wright, seluruh kerja sama akan tetap mengacu pada standar keselamatan nuklir dan pencegahan proliferasi yang ketat, dengan memanfaatkan teknologi serta tenaga ahli nuklir Amerika Serikat.

Ia juga menyebut perjanjian ini sebagai bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump untuk menghidupkan kembali industri nuklir Amerika.

Meski demikian, rincian lengkap isi kesepakatan belum dipublikasikan. Dokumen tersebut selanjutnya akan diajukan ke Kongres AS untuk ditinjau, dan diperkirakan akan menghadapi perdebatan karena sejumlah anggota parlemen khawatir terhadap mekanisme pengawasan program nuklir Arab Saudi, khususnya jika kerajaan itu nantinya memperoleh kemampuan memperkaya uranium.

Dukungan terhadap kesepakatan ini juga datang dari kalangan industri. Kepala Eksekutif Westinghouse Electric Company, Dan Sumner, menyebut perjanjian tersebut sebagai langkah penting yang akan memperkuat keamanan energi, membuka peluang besar bagi industri nuklir Amerika, serta memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi kedua negara.

Kesepakatan ini lahir di tengah situasi geopolitik yang sensitif. Amerika Serikat saat ini masih terlibat dalam konflik militer dengan Iran, sementara Washington terus berupaya menghentikan program pengayaan uranium Teheran demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Sehari sebelum penandatanganan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth meminta tambahan anggaran kepada Senat untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung. Menurutnya, konflik melawan Iran telah menghabiskan biaya sekitar 37,5 miliar dolar AS.

Karena itu, kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi dipandang bukan hanya sebagai kerja sama di bidang energi, tetapi juga sebagai langkah strategis Washington untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.