Petani Beralih Komoditas, Luas Tanam Tembakau di Magetan Berkurang pada 2026

Rabu, 22 Jul 2026, 10:49 WIB

MAGETAN – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menyebutkan luas tanam tembakau di wilayah setempat berkurang pada musim tanam 2026 karena petani beralih komoditas setelah bibit yang ditanam gagal tumbuh.

Subkoordinator Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Magetan, Bambang Utomo, di Magetan, Rabu (22/7), mengatakan tingginya intensitas hujan saat awal musim tanam pada bulan April-Mei lalu menjadi faktor utama penurunan luas tanam tembakau tahun 2026.

Ket. Foto: Seorang petani tembakau beraktivitas di lahan tembakau di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Meski luas lahan tanam berkurang, namun potensi ekonomi tembakau Magetan masih tinggi. — Sumber: ANTARA

"Curah hujan pada awal masa musim tanam masih tinggi. Kondisi itu membuat banyak bibit tembakau tidak tumbuh dengan baik. Akibatnya petani melakukan penyulaman berkali-kali, bahkan ada yang kehabisan bibit. Sebagian akhirnya memilih beralih menanam jagung maupun kentang, terutama di daerah dataran tinggi," ujar dia.

Menurut Bambang, peralihan komoditas tersebut berdampak pada penyusutan luas tanam tembakau di Magetan. Jika pada tahun 2025 luas areal mencapai sekitar 500 hektare, tahun 2026 diperkirakan hanya tersisa sekitar 250 hingga 300 hektare.

Meski lahan berkurang, Bambang menegaskan bahwa prospek ekonomi tembakau di Magetan masih cukup menjanjikan. Selama ini, kabupaten tersebut memiliki keunggulan waktu tanam yang lebih awal dibandingkan daerah penghasil tembakau lainnya, sehingga hasil panen lebih dahulu masuk ke pasar.

"Biasanya pembeli atau pabrikan datang lebih dulu ke Magetan karena daerah lain belum panen. Ini menjadi keuntungan bagi petani. Untuk daun basah, harga sekitar Rp5.000 per kilogram saja sebenarnya sudah menguntungkan. Saat ini informasi yang kami terima bahkan sudah berada di atas Rp10.000 per kilogram," katanya.

Ia menambahkan, khusus tembakau rajangan halus dari wilayah Kecamatan Parang, harga tembakau kering berkualitas baik dapat mencapai sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bal, tergantung kualitas hasil panen.

Adapun Kabupaten Magetan memiliki tiga varietas tembakau unggulan yang berkembang di sejumlah wilayah. Di Kecamatan Parang dikenal tembakau Rejeb Parang yang memiliki karakter rajangan halus.

Sementara itu, di lereng Gunung Lawu, seperti Kecamatan Plaosan dan Kecamatan Sidorejo berkembang varietas Andong Kuning dan Andong Mliwis yang banyak dipasarkan ke wilayah Temanggung, Jawa Tengah. Sedangkan wilayah Kecamatan Takeran mengembangkan tembakau jenis Virginia dan Burley, meski luas tanamnya masih di bawah 50 hektare.

Untuk membantu petani menghadapi tantangan bibit tembakau karena curah hujan, DTPHP Magetan terus melakukan pendampingan. Salah satunya melalui perbaikan teknik budidaya, antara lain penggunaan bibit dalam tray atau nampan semai serta pemanfaatan mulsa plastik guna meningkatkan keberhasilan tanam.

Namun demikian, Bambang mengakui harga mulsa plastik saat ini mengalami kenaikan sehingga menjadi kendala tersendiri bagi petani.

Selain aspek budidaya, DTPHP juga berupaya memperkuat pemasaran hasil panen dengan memfasilitasi petani dengan vendor maupun pembeli potensial.

Adapun upaya tersebut dilakukan agar petani memiliki lebih banyak pilihan pasar, meski pemerintah tidak dapat mengintervensi harga jual. Dengan demikian petani tembakau dapat lebih luas untuk menjual hasil panennya.

  • Petani Tembakau

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.