Andi Tenri, Dosen Unasman, Dampingi Warga Kembangkan Pakan Azolla dan Telur Asin Aneka Rasa

Senin, 20 Jul 2026, 15:25 WIB

JAKARTA – Peningkatan pendapatan peternak itik tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga kemampuan menekan biaya usaha dan meningkatkan nilai tambah hasil ternak. Atas dasar itu, Tim Pengabdian Program Studi Peternakan Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) melaksanakan dua pelatihan terpadu bagi masyarakat Desa Bakka-Bakka, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, pada Rabu (30/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang didukung Program Bantuan Inovasi Masyarakat (BIMA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berdasarkan kontrak Nomor 212/C3/DT.05.00/PM/2; 488/LL9/PPIPPPM/2026; 109/UNASMANREKTOR/IX/V/2026.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Dalam pelaksanaannya, sebanyak 15 anggota Kelompok Tani Siamasei mengikuti pelatihan pembuatan pelet berbahan Azolla pinnata sebagai pakan alternatif ternak itik. Sementara itu, 10 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Sry Lestari mendapatkan pelatihan pengolahan telur asin aneka rasa guna meningkatkan nilai jual produk peternakan.

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Andi Tenri, menjelaskan kedua pelatihan tersebut disusun sebagai satu kesatuan dalam pengembangan usaha peternakan itik berbasis potensi lokal. Menurut dia, upaya meningkatkan kesejahteraan peternak harus dilakukan melalui dua jalur sekaligus, yakni efisiensi biaya produksi dan peningkatan nilai tambah produk.

"Kami membangun rantai usaha peternakan secara utuh. Mulai dari penyediaan pakan yang lebih murah melalui pemanfaatan azolla hingga pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga memperoleh peluang pendapatan yang lebih besar," kata Andi Tenri.

Pada pelatihan pembuatan pakan, peserta memperoleh materi mulai dari teknik budidaya azolla, pengolahan menjadi tepung, penyusunan formulasi ransum, pencampuran bahan, pencetakan menggunakan mesin pelet, hingga proses pengeringan dan penyimpanan.

Selama kegiatan berlangsung, peserta berhasil menghasilkan 100 kilogram pelet berbahan Azolla pinnata yang dijadikan contoh produksi dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak itik.

Ketua Kelompok Tani Siamasei, Sudarmaji, mengatakan teknologi tersebut memberikan solusi terhadap tingginya biaya pakan komersial yang selama ini menjadi komponen pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan itik.

"Biaya pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam usaha peternakan itik. Dengan memanfaatkan azolla yang mudah dibudidayakan, kami berharap dapat memproduksi pakan sendiri sehingga biaya produksi dapat ditekan," ujarnya.

Selain mengembangkan inovasi pada sektor pakan, Tim Pengabdian Unasman juga mendorong hilirisasi hasil peternakan melalui pelatihan pengolahan telur asin. Anggota KWT Sry Lestari diperkenalkan pada tiga pilihan rasa, yakni bawang, jahe, dan cabai, serta tiga metode pengolahan berupa telur asin rebus, telur asin panggang, dan telur asin asap.

Pada sesi praktik, peserta memproduksi 120 butir telur asin yang terdiri atas 40 butir telur asin rebus, 40 butir telur asin panggang, dan 40 butir telur asin asap. Produk-produk tersebut kemudian dikemas sebagai contoh olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan telur itik segar.

Ketua KWT Sry Lestari, Hasna, menilai pelatihan tersebut membuka peluang baru bagi kelompok perempuan untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal melalui produk olahan yang lebih inovatif.

"Selama ini telur itik lebih banyak dijual dalam bentuk segar. Melalui pelatihan ini kami belajar menghasilkan produk yang lebih menarik dengan berbagai pilihan rasa sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi," katanya.

Selain praktik produksi, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai teknik pengemasan, pelabelan, serta strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar. Tim pengabdian menilai peningkatan kapasitas produksi perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan pemasaran sehingga usaha masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.

Menurut Andi Tenri, pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada transfer teknologi, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Azolla dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif untuk menekan biaya produksi, sedangkan telur itik diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki peluang pasar lebih luas.

Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan, Tim Pengabdian Unasman akan terus mendampingi Kelompok Tani Siamasei dan KWT Sry Lestari, mulai dari penyempurnaan formulasi pakan, peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga pemasaran. Pendampingan tersebut diharapkan mampu melahirkan produk unggulan Desa Bakka-Bakka yang memiliki daya saing sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program tersebut juga menjadi wujud komitmen Universitas Al Asyariah Mandar dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi melalui inovasi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pengembangan pakan alternatif berbasis azolla serta diversifikasi produk telur asin diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Sulawesi Barat sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.