Peneliti AS-Inggris Ungkap AI Lemahkan Daya Pikir

Kamis, 16 Jul 2026, 01:00 WIB

Paris – Kehadiran chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) generatif seperti ChatGPT dan Claude yang mampu menulis email, membuat kode komputer, menerjemahkan bahasa, menyusun rencana perjalanan, hingga memberikan ide hadiah semakin memudahkan aktivitas sehari-hari. Namun, di balik kemudahan tersebut, para peneliti mulai mengingatkan potensi dampaknya terhadap kemampuan berpikir manusia.

Dilansir dari AFP, Rabu (15/7), sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI generatif berisiko menurunkan kemampuan mengingat, mengambil keputusan, dan berpikir kritis.

Ket. Foto: Pakai AI Bisa Lemahkan Kemampuan Berpikir Kritis. — Sumber: Antara /HO-microsoft

Salah satu studi gabungan peneliti Amerika Serikat dan Inggris yang melibatkan 1.222 responden menemukan bahwa penggunaan AI untuk menyelesaikan soal aritmatika maupun pemahaman bacaan memang meningkatkan hasil dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, peserta justru mengalami penurunan kemampuan ketika AI tidak lagi tersedia dan menjadi kurang gigih dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

"Temuan ini sangat mengkhawatirkan karena ketekunan merupakan dasar perolehan keterampilan dan salah satu prediktor terkuat pembelajaran jangka panjang," tulis para peneliti.

Grace Liu, mahasiswa doktoral di Carnegie Mellon University sekaligus penulis utama penelitian tersebut, mengatakan AI yang mampu memberikan jawaban instan berpotensi menghilangkan kesempatan pengguna untuk belajar melalui proses berpikir.

"Yang membuat AI sangat mengkhawatirkan adalah AI tidak dirancang hanya untuk satu jenis aktivitas. AI dapat digunakan hampir di semua aktivitas intelektual, penalaran, dan kognitif," ujarnya.

Berbeda dengan kalkulator yang hanya membantu proses perhitungan, AI generatif mampu menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus menyajikan jawaban lengkap sehingga proses analisis manusia menjadi semakin minim.

Risiko "Penyerahan Kognitif"

Temuan serupa juga muncul dalam studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2025 yang menunjukkan mahasiswa yang menggunakan AI generatif untuk menulis esai memiliki kemampuan berpikir kritis lebih rendah dibandingkan mereka yang menyusun tulisan secara mandiri.

Fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai cognitive offloading atau bahkan cognitive surrender, yakni kecenderungan menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.

Peneliti psikologi sosial dan kognitif dari French National Centre for Scientific Research (CNRS), Johann Chevalere, menjelaskan bahwa otak manusia secara alami cenderung menghemat energi.

"Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memilih cara tercepat tanpa benar-benar memproses informasi secara mendalam karena hal itu membutuhkan energi kognitif yang lebih besar," katanya.

Menurut Chevalere, penggunaan AI generatif dapat memperkuat kecenderungan tersebut.

"Jika ada aktivitas yang tidak pernah dilakukan, otak tidak akan mempertahankan koneksi yang sudah tidak digunakan," ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, sejumlah perusahaan teknologi mulai menghadirkan fitur yang mendorong pengguna tetap berpikir aktif. OpenAI, misalnya, menghadirkan Study Mode di ChatGPT, sementara Google mengembangkan fitur pembelajaran terbimbing pada Gemini.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.