Pemanasan Laut Ancam Pasifik Barat Daya

Kamis, 09 Jul 2026, 01:30 WIB

Singapura – Kawasan Pasifik Barat Daya mengalami tahun terpanas kedua sepanjang sejarah pada 2025. Di saat yang sama, pengasaman laut semakin parah dan permukaan air laut terus meningkat, memperbesar ancaman terhadap perekonomian, masyarakat pesisir, serta negara-negara kepulauan dataran rendah di kawasan tersebut.

Temuan itu disampaikan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) dalam laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025 yang dirilis pada Lokakarya Layanan Gelombang Panas Laut Asia Tenggara di Singapura, Selasa (7/7).

Ket. Foto: Kawasan Pasifik Barat Daya mengalami tahun terpanas kedua sepanjang sejarah pada 2025. — Sumber: istimewa

Menurut laporan tersebut, rata-rata suhu udara permukaan tahunan di daratan dan lautan Pasifik Barat Daya pada 2025 tercatat sekitar 0,37 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020, menjadikannya sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat di kawasan tersebut.

WMO menjelaskan pemanasan laut yang berlangsung dalam jangka panjang telah memicu gelombang panas laut yang semakin sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas lebih tinggi. Kondisi ini berdampak serius terhadap ekosistem laut maupun masyarakat dan sektor industri yang bergantung pada sumber daya kelautan.

Gelombang panas laut merupakan periode suhu laut yang sangat tinggi dalam waktu lama dan dapat menyebabkan pemutihan karang secara masif, kematian ikan, gangguan terhadap sektor akuakultur, rusaknya hutan kelp, perubahan persebaran spesies laut, hingga memicu pertumbuhan alga berbahaya.

Pada 2025, kandungan panas laut tertinggi yang pernah tercatat di lapisan atas laut hingga kedalaman 700 meter terjadi di perairan selatan Australia, bagian selatan Laut Tasman, sebagian wilayah Pasifik Utara tropis antara Filipina dan Hawaii, serta di perairan selatan Pulau Sumatra, Indonesia.

Selain itu, permukaan laut di kawasan Pasifik Barat Daya terus mengalami kenaikan dengan laju rata-rata 3,7 ± 0,03 milimeter per tahun sepanjang periode 1999–2025.

Siklon Tropis

Sepanjang tahun lalu, sejumlah negara di kawasan juga dilanda cuaca dan iklim ekstrem yang menyebabkan korban jiwa serta kerugian ekonomi besar, terutama akibat siklon tropis.

Salah satu bencana paling mematikan adalah Siklon Senyar, yang menjadi sistem pertama yang diketahui mencapai kekuatan siklon tropis di Selat Malaka. Siklon tersebut berdampak pada lebih dari 10 juta penduduk di Indonesia dan Malaysia serta menyebabkan lebih dari 1.200 korban jiwa.

  • Krisis Iklim

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.