- Home
-
- Luar Negeri
-
- Helikopter Ikonik dalam Fi...
Helikopter Ikonik dalam Film Rambo III Mi-24 'Hind' Jadi Korban Pemberontak Mali di Afrika
Selasa, 07 Jul 2026, 00:01 WIBMALI - Bagi pecinta film aksi, Mi-24 Hind bukanlah nama yang asing. Helikopter serbu buatan Uni Soviet itu menjadi salah satu ikon dalam film Rambo III (1988), saat memburu John Rambo di pegunungan Afghanistan sebelum akhirnya dihancurkan sang veteran perang. Hampir empat dekade kemudian, helikopter legendaris yang sama kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan di layar lebar, melainkan di medan perang sesungguhnya di Afrika, setelah sebuah Mi-24P milik pasukan Russia diklaim ditembak jatuh oleh kelompok pemberontak Tuareg di Mali.
Dari Defence Blog, Front Pembebasan Azawad (FLA), koalisi pemberontak yang dipimpin etnis Tuareg, mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah Mi-24P Hind yang dioperasikan Africa Corps, pasukan Russia yang menggantikan Wagner Group, saat mengawal konvoi militer di dekat Kota Gao, Mali utara.
Mi-24 merupakan helikopter serang sekaligus angkut yang dirancang pada era Uni Soviet. Dengan persenjataan berat, lapisan baja tebal, serta kemampuan mengangkut pasukan, helikopter ini telah digunakan dalam berbagai konflik selama lebih dari 50 tahun dan menjadi salah satu simbol kekuatan udara Rusia.
Klaim penembakan tersebut muncul di tengah gelombang serangan terkoordinasi yang dilancarkan FLA bersama kelompok jihad JNIM pada 4â5 Juli 2026. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Rusia maupun Mali mengenai hilangnya helikopter tersebut.
Meski demikian, insiden ini bukan kali pertama FLA mengklaim berhasil menjatuhkan helikopter keluarga Mi-24 Hind. Pada April lalu, kelompok itu juga menyatakan telah menembak jatuh sebuah Mi-35, varian ekspor modern dari Mi-24, saat merebut Kota Kidal dalam operasi yang menewaskan Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara.
Africa Corps sendiri merupakan organisasi militer bentukan Rusia yang mengambil alih peran Wagner Group setelah kematian pendirinya, Yevgeny Prigozhin, pada 2023. Kini organisasi tersebut berada langsung di bawah Kementerian Pertahanan Rusia dan menjadi tulang punggung dukungan militer Moskow bagi pemerintahan junta Mali sejak pasukan Prancis menarik diri pada 2022.
FLA mengklaim konvoi Russia mengalami kerugian besar dan terpaksa mundur dari Gao menuju Anefis. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara situasi di Mali utara masih sangat dinamis.
Analis intelijen sumber terbuka PaweŠWójcik, yang selama ini memantau konflik di kawasan Sahel, melaporkan bahwa kembali ditemukan sejumlah peralatan militer Rusia yang ditinggalkan di gurun setelah pertempuran terbaru. Berdasarkan materi visual yang ia telaah, Wójcik menilai kerugian yang dialami pasukan Rusia kemungkinan cukup signifikan, meski besaran pastinya masih belum dapat dipastikan.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
PT KAI Berlakukan Berhenti Luar Biasa di Jatinegara Mulai Minggu hingga Selasa
-
India Terapkan Status Siaga Perbatasan Usai Krisis Nepal Makin Memburuk
-
BPS Sebut Jumlah Pengangguran di Indonesia Capai 7, 24 Juta Orang, Turun 35 Ribu Orang
-
Legislator DPRD Sulsel Sikapi Dugaan Pungli Masuk Satpol PP
-
Vanenburg Tak Mau Dibebani Target Juara
-
Piala Afrika 2025: Mali secara Dramatis Lolos ke Perempat Final Ikuti Jejak Senegal
-
Pelita Jaya Melangkah ke Final IBL 2025 Usai Kalahkan Satria Muda
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.