Resmikan Biopori Jumbo Pondok Kelapa, Gubernur Pramono Kebut Target Zero Waste

Minggu, 07 Jun 2026, 11:45 WIB

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong pengelolaan sampah organik melalui metode Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi percontohan bagi wilayah lain di ibu kota. Inisiatif yang digerakkan warga tersebut dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan menuju Jakarta zero waste.

Hal tersebut disampaikan Pramono saat meninjau langsung lokasi pengelolaan sampah berbasis Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa pada Minggu (7/6). Ia mengapresiasi langkah warga yang telah memulai pemilahan dan pengolahan sampah dari lingkungan masing-masing bahkan sebelum terbitnya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Ket. Foto: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mendorong pengelolaan sampah organik melalui metode Biopori Jumbo di RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi percontohan bagi wilayah lain di ibu kota. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

"Atas nama Pemerintah DKI Jakarta, kami mengapresiasi apa yang dilakukan RW 014 dengan enam RT yang berinisiatif mengelola sampah melalui metode biopori jumbo. Gerakan ini menunjukkan solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas," ujar Pramono.

Di kawasan tersebut, warga telah menyiapkan 150 titik Biopori Jumbo yang dirancang untuk melayani sekitar 300 rumah. Sampah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan limbah dapur dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk diolah menjadi kompos sehingga volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan akhir dapat berkurang secara signifikan.

Pramono menilai model pengelolaan sampah tersebut layak dijadikan contoh bagi wilayah lain di Jakarta. Menurutnya, penanganan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan beban pengelolaan sampah di tingkat kota.

"Kalau ini berjalan baik, ini bisa menjadi role model penanganan sampah di Jakarta. Saya sengaja ingin menunjukkan bahwa penanganan sampah oleh Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan sampah Jakarta harus diselesaikan mulai dari hulu. Sampah organik yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam timbulan sampah perlu diolah sejak dari sumber agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pengolahan akhir.

Selain pengelolaan sampah organik, Pramono juga menyambut baik kolaborasi warga dengan sektor swasta dalam pengelolaan sampah anorganik dan bahan berbahaya serta beracun (B3). Menurutnya, sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan menyeluruh.

"Saya menyambut baik kerja sama antara warga dan sektor swasta dalam pengelolaan sampah anorganik maupun sampah B3. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan," katanya.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat pengelolaan sampah melalui fasilitas berskala besar. Pramono menyebut timbulan sampah Jakarta saat ini mencapai sekitar 9.000 ton per hari sehingga dibutuhkan kombinasi antara pengelolaan berbasis masyarakat dan optimalisasi fasilitas pengolahan di hilir seperti TPST Bantargebang, fasilitas pengolahan di Marunda dan Sunter, serta RDF di Rorotan dan Bantargebang.

"Sebagian besar sampah digunakan untuk pembangkit listrik tenaga sampah di Bantargebang, Marunda, dan Sunter. Sebagian lagi untuk RDF di Rorotan dan Bantargebang. Sekarang juga sedang dikembangkan pengolahan menjadi fuel energy di Bantargebang," paparnya.

Pramono optimistis kombinasi pengelolaan sampah dari sumber dan penguatan infrastruktur pengolahan akan mampu mengatasi persoalan sampah Jakarta secara menyeluruh. Ia berharap target pengelolaan sampah kota dapat tercapai seiring meningkatnya partisipasi masyarakat.

"Mudah-mudahan dengan penanganan ini, neraca sampah Jakarta yang kurang lebih 9.000 ton semuanya bisa terkelola. Kalau itu berjalan, sebagai kota global dan modern, persoalan sampah Jakarta mudah-mudahan bisa tertangani secara menyeluruh di era kepemimpinan saya," tandasnya.

Sementara itu, Ketua RW 014 Pondok Kelapa, Teguh Husaini, menjelaskan gerakan pemilahan sampah di wilayahnya telah dimulai sejak tiga tahun lalu. Saat ini warga telah membangun 130 titik Biopori Jumbo dari target awal 150 unit dan berencana menambah hingga 200 unit untuk melayani kebutuhan pengolahan sampah organik rumah tangga maupun ruang publik.

"Kami berharap nanti sampah organik rumah tangga bisa masuk ke dalam biopori sehingga target zero waste dapat tercapai. Saya juga punya rencana menghilangkan tong sampah di sini. Semua sampah akan dikelola di dalam tanah," ujar Teguh.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.