Musim Bediding Mengintai, Greenhouse Jadi Pelindung Kebun Petani Batu

Minggu, 07 Jun 2026, 21:45 WIB

MALANG – Musim kemarau di Kota Batu bukan hanya soal cuaca cerah dan langit biru. Bagi para petani sayur dan pembudidaya bunga hias, datangnya fenomena bediding atau suhu dingin pada malam hingga pagi hari bisa menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.

Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu, Jawa Timur (Jatim) mendorong kelompok tani untuk memanfaatkan sarana greenhouse secara lebih optimal agar tanaman tetap terlindungi dari perubahan suhu yang ekstrem.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petani memanen sayuran di wilayah penyangga hortikultura nasional di kawasan Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (14/4/2026). — Sumber: ANTARA/ ARI BOWO SUCIPTO

Dengan greenhouse, petani memiliki ruang yang lebih aman untuk menjaga kualitas dan produktivitas tanaman.

Selain membantu mengurangi risiko kerusakan akibat suhu dingin, fasilitas ini juga memungkinkan proses budidaya berlangsung lebih terkontrol.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga hasil panen tetap stabil, sehingga petani dan pelaku usaha tanaman hias di Kota Batu bisa menjalani musim kemarau dengan lebih tenang dan produktif.

"Kami punya banyak green house yang telah diperbantukan kepada kelompok tani itu bisa digunakan karena lebih aman, suhu dan kondisi tanaman bisa dikontrol," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Hendry Suseno di Kota Batu, Minggu (7/6).

Berdasarkan infografis yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut bediding di daerah dataran tinggi bisa menimbulkan fenomena embus es yang mampu merusak tanaman sayur dan bunga.

Data dinas terkait menyebutkan terdapat 42 green house yang telah terbangun, dari jumlah itu sebanyak 38 titik diantaranya sudah termanfaatkan dan empat lainnya belum termanfaatkan.

Hendry menyampaikan, baik sayuran maupun bunga merupakan komoditas unggulan yang dimiliki oleh Kota Batu.

Pada triwulan I 2026, petsai atau sawi putih merupakan komoditas dengan hasil panen paling tinggi yang mencapai 28.790,73 kuintal dan wortel mencapai 22.705,39 kuintal.

Selain itu, sektor pertanian di Kota Batu pada triwulan I 2026 mampu menghasilkan panen kentang sebanyak 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, dan bawang merah 6.391,30 kuintal.

Sedangkan, untuk produksi budidaya bunga hias terdiri dari 10.065,50 kuintal bunga mawar, 2.348,75 kuintal bunga krisan, dan 155,50 kuintal anggrek pot.

Selain itu, Hendry menyampaikan pihaknya rutin berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan tenaga pendamping petani di masing-masing wilayah desa serta kelurahan untuk menyosialisasikan informasi dan dampak perubahan cuaca kepada 290 kelompok tani se-Kota Batu.

Melalui kinerja tim lapangan tersebut diharapkan para kelompok tani bisa menyalurkan informasi mengenai kesiapan menghadapi bediding kepada para anggotanya.

"Ketika ada perubahan musim biasanya memunculkan penyakit yang susah diprediksi, kalau ada kabut, penyakit nanti mengarah ke virus dan bakteri," ucapnya.

Kemudian, pihaknya terus mengupayakan penyaluran sarana produksi pertanian kepada kelompok tani, salah satunya berupa pestisida.

"Meski sekarang kondisi efisiensi tetapi hal prinsip dan rutin yang memberikan manfaat kepada petani tetap dianggarkan," ujar dia.

  • Pemkot Batu
  • Teknologi Greenhouse
  • Bediding
  • tanaman hias

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.