Raih Penghargaan Internasional di Taiwan, Unika Atma Jaya Bocorkan Rahasia Hilirisasi Riset Sultan
Jumat, 05 Jun 2026, 01:55 WIBJAKARTA -Â Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya berkomitmen penuh untuk terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi berkelanjutan yang berakar pada nilai keberpihakan kepada masyarakat.Â
Penguatan itu dilakukan usai universitas itu meraih pengakuan internasional dalam World University Rankings for Innovation (WURI) 2026 melalui pencapaian top global 500.
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama, dan Alumni Unika Atma Jaya Yanti dalam keterangan di Jakarta, Kamis mengatakan pengakuan tersebut menjadi dorongan bagi universitas untuk terus mengembangkan penelitian yang relevan, kolaboratif, dan berdampak.
Diumumkan di National Chi Nan University (NCNU), Taiwan pada 7 Mei 2026, Unika Atma Jaya juga masuk top 100 dunia pada kategori Representative Research Project (C1) dan Financial Impact-Driven Technology Transfer (C8).
WURI merupakan pemeringkatan global yang menyoroti peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat dan industri.
Melalui penilaian pada bidang pendidikan, penelitian, teknologi, kewirausahaan, dan keterlibatan sosial, WURI menilai inovasi perguruan tinggi yang mampu menjawab tantangan global.
Lebih lanjut, Yanti menilai capaian itu menjadi pengakuan atas inovasi perguruan tinggi Indonesia yang mampu menjadi solusi bagi tantangan global.
"Bagi Unika Atma Jaya, penelitian tidak berhenti pada jurnal dan publikasi, tetapi harus bisa memberikan dampak sosial dan melahirkan inovasi berkelanjutan," ujarnya.
Adapun, kategori C1 berfokus pada penelitian jangka panjang khas institusi yang mencakup proses pengembangan, potensi transformasi, dan dampak dalam pembangunan berkelanjutan serta kesejahteraan sosial.
Pada kategori itu, Unika Atma Jaya mengangkat penelitian mengenai pengembangan tempe campuran dari biji bunga matahari, kedelai, biji labu, dan kacang azuki untuk peningkatan fungsi kognitif pada lansia.
Inovasi riset tersebut dikembangkan untuk menghasilkan produk tempe dan probiotik yang lebih praktis dan fleksibel digunakan guna mendukung kesehatan kognitif lansia tanpa mengurangi manfaat nutrisinya.
Sementara itu, kategori C8 menekankan komersialisasi hasil riset yang dilakukan secara etis dan bertanggung jawab sejalan dengan prinsip environmental, social, and governance (ESG).
Pada kategori itu, Unika Atma Jaya mengangkat inovasi produk biopreservatif dan bahan tambahan pakan berbasis bakteriofag untuk mengendalikan patogen pada industri pangan dan akuakultur skala besar.
Riset tersebut mencerminkan hilirisasi teknologi yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial melalui solusi pangan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Berbagai inovasi tersebut telah menghasilkan publikasi ilmiah internasional dan paten. Penelitian yang dikembangkan mencakup manfaat tempe dan probiotik bagi fungsi kognitif lansia serta pengendalian patogen pangan dan akuakultur berbasis antibiofilm dan bakteriofag.
Riset tersebut juga melahirkan Paten Sederhana Indonesia untuk tempe multibiji berbasis kedelai, biji bunga matahari, biji labu, dan kacang azuki.
Yanti mengharapkan pengakuan internasional tersebut dapat mendorong lebih banyak kolaborasi lintas sektor, baik dengan industri, pemerintah maupun mitra global.
"Sehingga riset yang kami kembangkan benar-benar hadir sebagai solusi nyata di tengah masyarakat. Ini bukan puncak, melainkan titik tolak untuk terus berinovasi demi Indonesia yang lebih sehat, berdaya, dan berkelanjutan," katanya.
- unika atma jaya
- wuri 2026
- tempe multibiji
- fungsi kognitif lansia, world university rankings for innovation
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.