Pengunjung Mal Meningkat 15%, APPBI Optimistis Konsumsi Rumah Tangga Tetap Bergairah

Rabu, 03 Jun 2026, 00:05 WIB

JAKARTA- Aktivitas di sejumlah pusat perbelanjaan berbagai wilayah di Indonesia tetap bergeliat positif, pasca sektor ritel memasuki periode low season setelah momentum Ramadan dan Idulfitri. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai tingginya kunjungan masyarakat ke mal selama libur panjang menjadi indikasi bahwa konsumsi rumah tangga dan perputaran ekonomi masih terus berjalan.

Ketua Umum APPBI, Alphonsuz Widjaja, mengatakan libur panjang akhir pekan lalu menjadi katalisator signifikan terhadap aktivitas pusat perbelanjaan. APPBI memperkirakan jumlah pengunjung mal meningkat sekitar 10-15 persen dibandingkan akhir pekan biasa.

Ket. Foto: Pengunjung salah satu pusat perbelanjaan membludak saat libur akhir pekan lalu. Lonjakan pengunjung tersebut mengindikasikan daya beli masyarakat tetap bergairah. — Sumber: istimewa

“Libur panjang ini sangat membantu sektor ritel. Pusat perbelanjaan menjadi salah satu destinasi utama masyarakat untuk mengisi waktu liburan sehingga terjadi peningkatan kunjungan dibandingkan akhir pekan normal,” kata Alphonsuz.

Tingginya mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi tetap berlangsung, meski industri ritel sedang berada dalam siklus musiman yang biasanya lebih lambat setelah Ramadan dan Idulfitri.

Keramaian itu terlihat pada aktivitas di berbagai pusat perbelanjaan, terutama pada sektor kuliner dan hiburan yang menjadi pilihan utama masyarakat selama masa liburan.

“Masyarakat tetap datang ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja sekaligus menikmati berbagai aktivitas rekreasi bersama keluarga,” katanya.

Lebih lanjut Alphonsuz menjelaskan bahwa pada triwulan II dan III secara historis merupakan masa low season bagi industri ritel. Namun, tahun ini pelaku usaha menyiapkan berbagai program promosi dan kegiatan untuk menjaga momentum konsumsi masyarakat sehingga aktivitas ekonomi tetap bergerak.

Dalam waktu dekat, sektor ritel akan ditopang oleh momentum liburan sekolah yang diperkirakan kembali meningkatkan kunjungan ke pusat perbelanjaan. Setelah itu, berbagai program belanja dan festival ritel akan digelar di sejumlah daerah hingga menjelang akhir tahun.

“Banyak program yang disiapkan sepanjang tahun, mulai dari liburan sekolah, perayaan Hari Kemerdekaan hingga berbagai festival belanja daerah. Ini menjadi cara untuk menjaga aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat tetap jalan,” katanya. 

Selain itu, pusat perbelanjaan kini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi transaksi jual beli, tetapi telah berkembang menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat. Faktor tersebut membuat mal tetap menjadi tujuan utama masyarakat untuk berkumpul, bersantai, dan menikmati berbagai hiburan.

Menurut Alphonsuz, tren tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pusat perbelanjaan masih mampu mempertahankan tingkat kunjungan yang baik meski di tengah tantangan ekonomi global dan persaingan dengan platform belanja daring.

“Orang datang ke pusat perbelanjaan bukan hanya untuk belanja. Mereka mencari pengalaman, hiburan, dan interaksi sosial yang tidak bisa diperoleh secara online,” katanya.

Selama daya beli masyarakat tetap terjaga, sektor ritel akan terus menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Karena itu, berbagai program stimulus yang mendorong konsumsi masyarakat dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Kalau masyarakat tetap berbelanja, ekonomi akan terus bergerak. Karena itu yang paling penting adalah menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat,” kata Alphonsuz.

Dengan meningkatnya kunjungan selama libur panjang, serta rangkaian program promosi dan festival belanja yang akan berlangsung hingga akhir tahun, APPBI optimistis aktivitas pusat perbelanjaan tetap ramai dan mampu menopang pergerakan ekonomi domestik di tengah periode low season industri ritel.

Menjinakkan Rupiah

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya, menyatakan nilai tukar rupiah yang kian merosot tidak berdampak signifikan kepada aktivitas ekonomi tanah air.

Pemerintah bahkan telah mengantongi perhitungan terkait depresiasi rupiah yang terus terjadi. Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun anggaran 2026 telah disiapkan untuk menjinakkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi.

“Secara teori, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan? Saat ini saya fokus memastikan bahwa ekonomi domestik akan terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, maupun jangka panjang,” kata Purbaya saat konferensi pers di kantor Danantara, Jakarta, Minggu (31/6).

“Jadi, prospek ekonomi kita (RI) kuat, dan pelemahan rupiah belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi kita,” pungkas Menkeu. 

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Vitto Budi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.