Generasi Baru Mengambil Alih Roland Garros, Saatnya Para Pemain Muda Unjuk Gigi

Rabu, 03 Jun 2026, 00:15 WIB

PARIS — Roland Garros 2026 memasuki fase krusial. Namun berbeda dengan prediksi banyak pihak, sorotan di perempat final bukan lagi tertuju pada dua penguasa tenis generasi sekarang, melainkan kepada para bintang muda yang siap mengambil alih panggung.

Selama beberapa tahun terakhir, dunia tenis putra praktis berada dalam genggaman Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Keduanya memenangi sembilan gelar Grand Slam terakhir dan digadang-gadang menjadi penerus era emas tenis dunia.

Ket. Foto: Joao Fonseca. — Sumber: AFP

Namun Roland Garros tahun ini menghadirkan cerita berbeda. Alcaraz harus menepi karena cedera, sementara Sinner tersingkir lebih cepat dari yang diperkirakan setelah gagal melewati putaran kedua. Kekosongan itu membuka jalan bagi generasi yang lebih muda untuk mencuri perhatian.

Kini, sejumlah pemain remaja dan petenis awal usia 20-an berdiri di ambang pencapaian terbesar dalam karier mereka.

Nama yang paling menyita perhatian adalah Joao Fonseca. Petenis Brasil berusia 19 tahun tersebut menjadi sensasi turnamen setelah menampilkan serangkaian kemenangan mengesankan.

Fonseca menunjukkan mental luar biasa dengan bangkit dari ketertinggalan dua set untuk memenangkan pertandingan di babak awal sebelum menyingkirkan legenda Serbia, Novak Djokovic. Ia kemudian melanjutkan laju impresifnya dengan mengalahkan Casper Ruud.

Di perempat final, Fonseca akan menghadapi petenis Republik Ceko berusia 20 tahun, Jakub Mensik, yang juga menjalani Grand Slam terbaik dalam kariernya.

Sementara itu, harapan Spanyol berada di tangan Rafael Jodar. Petenis 19 tahun yang mulai disebut-sebut sebagai penerus tradisi petenis tanah liat Spanyol itu akan menghadapi unggulan teratas yang tersisa di sektor putra, Alexander Zverev.

Jodar datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah serangkaian penampilan mengesankan sepanjang turnamen.

"Saya terus berusaha mengembangkan permainan saya. Namun saya merasa masih memiliki ruang perkembangan yang sangat besar," ujar Jodar.

Sejarah menunjukkan bahwa Roland Garros memang kerap menjadi tempat lahirnya bintang-bintang muda.

Di era Open, empat dari lima juara Grand Slam putra termuda meraih gelar pertamanya di Paris. Nama-nama seperti Michael Chang, Mats Wilander, Rafael Nadal, dan Bjorn Borg semuanya pernah menaklukkan Roland Garros saat masih berusia belasan tahun.

Di sektor putri, daftar juara remaja juga dipenuhi nama-nama legendaris seperti Monica Seles, Steffi Graf, Chris Evert, Arantxa Sanchez Vicario, hingga Iga Swiatek.

Chang, yang menjadi juara Roland Garros pada usia 17 tahun pada 1989, menilai usia muda sering kali memberikan keuntungan tersendiri.

"Ketika masih muda, terkadang Anda tidak terlalu memikirkan tekanan. Saya datang tanpa ekspektasi besar dan memiliki kebebasan untuk bermain sebagai underdog," katanya.

Wilander bahkan melihat keunggulan mental yang dimiliki generasi baru.

"Coba tunjukkan kepada saya petenis berusia 19 tahun yang takut. Mereka tidak punya rasa takut. Mereka belum memiliki sejarah kekalahan yang menyakitkan," ujar juara Roland Garros tiga kali tersebut.

Dengan absennya Alcaraz dan tumbangnya Sinner, Roland Garros 2026 menjadi panggung yang sempurna bagi lahirnya bintang-bintang baru. Fonseca, Mensik, Jodar, hingga Andreeva datang membawa mimpi besar sekaligus harapan generasi mereka.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.