KemenPPPA Sebut Remaja Jadi Kelompok Paling Rentan Terpapar Radikalisme Digital
Sabtu, 30 Mei 2026, 00:45 WIBJAKARTAÂ â Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyebut anak usia remaja menjadi kelompok paling rentan terpapar radikalisme digital. Hal tersebut dinilai dipengaruhi fase pencarian jati diri dan tingginya rasa ingin tahu pada usia tersebut.
âMemang anak usia remaja termasuk yang paling rentan khususnya di rentang 12 sampai 18 tahun ya. Karena mereka berada pada fase pencarian jati diri identitas sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,â kata Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus KemenPPPA, Susanti saat dialog anti-teror Densus 88 dengan tajuk 'Gamifikasi Kekerasan dan Ancaman Baru Radikalisme Digital pada Generasi Muda' di Jakarta, Jumat (29/5).
Ia mengatakan kelompok usia remaja ini menghadapi risiko lebih besar dibanding kelompok usia lainnya. Menurut dia, kondisi tersebut dapat semakin meningkat apabila anak tidak memperoleh pendampingan yang memadai.
Selain itu, akses digital tanpa pengawasan juga berpotensi meningkatkan risiko keterpaparan radikalisme digital tersebut. âRentanan akan meningkat ketika memang minim pendampingan mereka mengalami masalah sosial emosional atau memiliki akses digital tanpa pengawasan,â ujar dia.
Susanti menambahkan faktor lingkungan pertemanan dan algoritma media sosial juga turut memengaruhi perilaku anak. Karena itu, keterlibatan keluarga dinilai menjadi kunci dalam mencegah paparan konten berbahaya.
Ia mengatakan anak tidak dapat dibiarkan menghadapi berbagai dinamika ruang digital sendirian. Sebab, teknologi digital menghadirkan manfaat sekaligus berbagai risiko yang perlu diantisipasi.
Menurut Susanti, penguatan literasi digital harus diiringi dengan penguatan peran orang tua dan guru. Langkah tersebut diperlukan agar anak memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan teknologi digital.
âPenguatan literasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam mendampingi anak. Sehingga ruang digital tetap aman sehat dan tentunya ramah bagi anak,â kata dia.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak di rumah. Dengan komunikasi yang hangat, hal ini dapat membantu anak lebih terbuka terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya.
Susanti menilai pendekatan tersebut sangat penting untuk mendeteksi perubahan perilaku anak sejak dini. Dengan demikian, keluarga dapat memberikan perlindungan yang lebih optimal dari ancaman radikalisme digital. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
PT KAI Divre I Sumut Pastikan Angkutan Barang Tetap Beroperasi Selama Lebaran
-
Maskapai Asia-Pasifik Hentikan Penerbangan ke Timur Tengah
-
Pakistan Diberi Ijin Iran Melintas di Selat Hormuz
-
Belajar dari Industrialisasi Pertahanan Iran: Model Kemandirian Terpaksa
-
Rafflesia Arnoldii Mekar di Liku Sembilan Bengkulu Tengah, Tarik Perhatian Pengunjung
-
Call Center 133 Dibuat Jasa Marga untuk Bantu Pengguna Jalan yang Alami Darurat
-
Kemlu RI Serukan Investigasi Penuh Kapal Terbakar Berawak WNI di Selat Hormuz
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.