2002 XV93, Objek Beratmosfer di Wilayah Terluar Tata Surya
Selasa, 26 Mei 2026, 07:13 WIBOBJEK trans-Neptunus bernama 2002 XV93 dilaporkan memiliki atmosfer tipis, temuan yang dinilai dapat mengubah pemahaman ilmuwan tentang dinamika benda-benda langit di tepian tata surya yang selama ini dianggap beku dan nyaris tidak aktif.
Wilayah terluar tata surya kembali menghadirkan kejutan bagi dunia astronomi. Para peneliti internasional baru-baru ini mengumumkan temuan atmosfer tipis pada objek trans-Neptunus bernama 2002 XV93, benda langit es yang berada jauh melampaui orbit Pluto dan selama ini nyaris tak tersentuh pengamatan detail manusia.
Penemuan tersebut menjadi petunjuk baru bahwa kawasan luar tata surya tidak sesunyi dan âmatiâ seperti yang lama diperkirakan. Di tengah suhu ekstrem dan jarak yang sangat jauh dari Matahari, objek kecil seperti 2002 XV93 ternyata masih dapat menunjukkan aktivitas yang cukup kompleks untuk membentuk lapisan atmosfer.
Objek trans-Neptunus atau Trans-Neptunian Objects (TNO) merupakan kelompok benda langit yang mengorbit Matahari di luar Neptunus. Kawasan ini mencakup Sabuk Kuiper hingga area yang lebih jauh lagi, dipenuhi jutaan objek es dan batuan yang diyakini merupakan sisa material purba pembentukan tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu.
Bagi astronom, wilayah ini ibarat kapsul waktu kosmik. Banyak objek di sana diperkirakan belum banyak berubah sejak masa awal tata surya terbentuk, sehingga menyimpan informasi penting tentang bagaimana planet, satelit, dan material antariksa berkembang miliaran tahun silam.
2002 XV93 sendiri pertama kali ditemukan pada 2002 melalui program survei astronomi yang mencari objek jauh di tepian tata surya. Objek ini memiliki orbit sangat lonjong dan membutuhkan ratusan tahun untuk menyelesaikan satu kali perjalanan mengelilingi Matahari.
Karena berada sangat jauh dari pusat tata surya, suhu permukaan 2002 XV93 diperkirakan sangat rendah, hanya beberapa puluh derajat di atas nol absolut. Dalam kondisi seperti itu, para ilmuwan sebelumnya menganggap objek semacam ini kemungkinan hanyalah bongkahan es dan batuan beku tanpa aktivitas berarti. Namun hasil pengamatan terbaru menunjukkan hal berbeda.
Gas Tipis Hasil Sublimasi
Tim astronom menemukan indikasi adanya lapisan gas tipis yang menyelimuti objek tersebut. Atmosfer itu diduga terbentuk melalui proses sublimasi, yakni perubahan es langsung menjadi gas ketika objek bergerak mendekati Matahari dalam lintasan orbitnya.
Atmosfer tersebut terdeteksi melalui teknik pengamatan yang dikenal sebagai stellar occultation atau okultasi bintang. Dalam metode ini, astronom mengamati perubahan cahaya sebuah bintang ketika objek melintas di depannya.
Jika objek tidak memiliki atmosfer, cahaya bintang akan menghilang secara tiba-tiba. Namun jika terdapat lapisan gas di sekeliling objek, cahaya akan meredup perlahan sebelum tertutup. Pola redup inilah yang kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi keberadaan atmosfer di sekitar 2002 XV93.
Dalam beberapa tahun terakhir, teknik okultasi bintang menjadi salah satu metode paling efektif untuk mempelajari objek-objek kecil di tata surya luar. Sebab, sebagian besar TNO terlalu redup dan terlalu kecil untuk diamati secara langsung dengan detail tinggi.
Penemuan ini segera menarik perhatian komunitas astronomi internasional karena hanya sedikit objek trans-Neptunus yang diketahui memiliki atmosfer. Pluto menjadi contoh paling terkenal setelah misi New Horizons milik NASA pada 2015 mengungkap keberadaan kabut atmosfer, lapisan nitrogen beku, dan fenomena cuaca di planet katai tersebut. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Penutupan 22 Ruas Jalan di Jakarta Bisa Menimbulkan Kemacetan Parah
-
Duka Mudik 2026: Brigadir Fajar Permana Gugur Saat Amankan Arus Pemudik
-
KDM Pastikan Pemprov Jabar Tanggung Biaya Medis dan Santuni Korban Kecelakaan KA di Bekasi
-
PMB Jakarta Bisa Melalui Empat Jalur, Mulai 16 Juni
-
Selama Ramadan, Permintaan Kolang-Kaling Alami Lonjakan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.