Buku “De Gelogen Kolonie” Bongkar Romantisasi Kolonial Belanda atas Indonesia
Senin, 25 Mei 2026, 01:20 WIBJAKARTA â Buku De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten dinilai membongkar cara pandang romantis sebagian masyarakat Belanda terhadap masa kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Pandangan tersebut selama ini kerap menggambarkan masa penjajahan sebagai periode yang tertib, damai, dan menyenangkan, tanpa melihat sisi kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi selama kolonialisme berlangsung.
Dalam Forum Praksis seri ke-20 bertema Challenging Todayâs Dutch Romantic Colonial Image of Indonesia di Jakarta, Jumat (22/5), penulis buku tersebut, Michel Maas, mengatakan sistem pemerintahan dan ketertiban yang dibangun Belanda di Nusantara pada masa kolonial sejatinya ditujukan untuk melayani kepentingan Belanda sendiri. Ia menyebut setiap bentuk perlawanan dari masyarakat pribumi pada masa itu ditumpas secara keras, sementara keuntungan ekonomi hanya dinikmati pihak kolonial, sedangkan rakyat Hindia Belanda tetap hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.
Maas juga menilai kolonialisme Belanda meninggalkan warisan mentalitas kolonial yang masih terasa hingga kini. Ia mengutip konsep âgerms of rotâ dari Frantz Fanon untuk menggambarkan bagaimana pola birokrasi, hukum, hingga sistem ekonomi yang eksploitatif masih bertahan setelah Indonesia merdeka. Menurutnya, sistem tersebut pada akhirnya tetap menempatkan rakyat dalam posisi lemah demi kepentingan elit politik dan ekonomi.
Menanggapi paparan tersebut, sejarawan Inggris Peter Carey mengatakan buku De Gelogen Kolonie penting karena mengulas relasi historis yang kompleks antara Belanda dan Indonesia. Carey menyebut istilah âkebohonganâ dalam buku itu merujuk pada gambaran romantis tentang Hindia Belanda yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada. Ia menegaskan sistem kolonial Belanda merupakan sistem yang eksploitatif dan penuh kekerasan, termasuk melalui praktik Tanam Paksa dan tindakan brutal pada masa âBersiapâ ketika Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Carey juga menilai kolonialisme meninggalkan âsihir kolonialâ yang memengaruhi mentalitas bangsa Indonesia hingga sekarang, termasuk kecenderungan elit mengorbankan kepentingan rakyat dan eksploitasi sumber daya alam demi kelompok tertentu. Namun, ia mengingatkan Indonesia memiliki banyak kontribusi penting yang pernah menginspirasi dunia, seperti perjuangan Pangeran Diponegoro, kiprah Nyai Ageng Serang, hingga Konferensi Asia-Afrika yang menurutnya perlu kembali dihidupkan dalam kesadaran publik.
Dalam forum tersebut, mantan Menteri Pendidikan RI Wardiman Djojonegoro menilai buku De Gelogen Kolonie penting terutama bagi masyarakat Belanda yang masih memandang Indonesia dengan perspektif kolonial. Menurutnya, Indonesia saat ini bukan lagi objek nostalgia kolonial, melainkan negara berdaulat dengan dinamika dan kompleksitasnya sendiri.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.