Menbud Ungkap Budaya Minangkabau Mampu Representasikan Indonesia di Tingkat Dunia
Minggu, 24 Mei 2026, 18:00 WIBJAKARTA â Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menilai budaya Minangkabau memiliki karakter kuat dan berakar di tengah masyarakat Indonesia. Menurut dia, budaya Minang juga mampu menjadi representasi kebudayaan Indonesia di tingkat dunia.
Fadli mengatakan budaya Minangkabau memiliki ekspresi yang beragam mulai dari seni, sastra, hingga kuliner. Ia menilai hal itu menjadi kekuatan penting memperkenalkan Indonesia melalui para perantau Minang di berbagai negara.
âBudaya Minangkabau ini adalah budaya yang sangat kuat, kokoh, berakar dan ekspresi budayanya dalam berbagai macam bentuk. Itu sangat luar biasa beragamnya,â kata Fadli usai menghadiri forum Silaturahmi Minang Diaspora Network-Global (MDN-G) di Jakarta, Sabtu (23/5).
Menurut Fadli, perantau Minang yang tersebar di berbagai negara menjadi duta budaya Indonesia melalui berbagai aspek kehidupan masyarakat. âDan itu menjadi duta-duta budaya kita,â ujar dia.
Selain itu, Fadli juga menyambut baik usulan Minang Diaspora mengajukan sastrawan Taufik Ismail sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra. Menurut dia, langkah tersebut menjadi inisiatif positif memperkenalkan karya sastra Indonesia ke tingkat global.
Sementara itu, Presiden MDN-G, Fasli Jalal, mengatakan pihaknya mulai mendorong pengusulan Taufik Ismail sebagai kandidat penghargaan Nobel Sastra. Langkah tersebut dilakukannya karena Indonesia hingga kini belum memiliki peraih penghargaan tersebut.
âKita akan mengusulkan Pak Taufik Ismail untuk menjadi peraih hadiah Nobel bidang sastra. Karena orang Indonesia belum satu pun yang punya, kebetulan ada orang Minang,â kata Rektor Universitas YARSI tersebut.
Profesor itu mengatakan dukungan pengusulan tersebut akan terus digerakkan hingga tingkat internasional selama enam bulan mendatang. Menurut dia, peluang tersebut perlu dimanfaatkan karena Taufik Ismail dinilai memiliki kapasitas yang sesuai kriteria yang dicari panitia.
âNah kita menggerakkan itu, sehingga selama enam bulan ini kita akan gairahkan semua pihak sampai ke luar negeri. Sehingga mulai Januari nanti kita mulai mendaftarkan, kemudian bulan Mei nanti diumumkan, dan bulan Oktober 2027 mulai awarding,â ujar dia.
Menurut Fasli, sudah saatnya Indonesia memiliki peraih Nobel Sastra dari kalangan sastrawan nasional. Ia menilai peluang tersebut terdapat pada sosok Taufik Ismail, meskipun kini telah berusia 92 tahun.
âSudah masanya lah orang Indonesia punya paling tidak satu menang hadiah Nobel. Kebetulan peluang itu ada di diri Pak Taufik Ismail,â kata Profesor Fasli. ils/I-1
- Seni Budaya Minangkabau
- Menbud
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Industri Aset Digital Dorong Peningkatan Ekosistem Hospitality Bandara
-
Pemkot Jakarta Utara Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Danau Sunter
-
Kekerasan di Daycare Jogja, Pemerintah Didesak Pastikan Perizinan Sebelum Operasional Daycare
-
Diplomasi AS-Iran Buntu, Dunia Terancam Krisis Energi
-
Sukses Digelar, Gubernur Luthfi Nilai Purwokerto Half Marathon 2026 Perkuat Wisata Olahraga dan Ekonomi Jateng
-
Tim Piala Dunia, Turki Pernah Cukup Bagus di Tahun 2002
-
Liga Italia: Inter Milan Tutup Musim 2025/2026 dengan Hasil Imbang 3-3 Kontra Bologna
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.