Liburan Aman di Yogyakarta, Wisatawan Diminta Hindari Pemesanan Akomodasi Abal-Abal

Minggu, 24 Mei 2026, 20:30 WIB

YOGYAKARTA – Pemesanan akomodasi melalui situs resmi hotel atau penyedia penginapan semakin diminati karena dinilai menawarkan harga yang lebih transparan, fleksibilitas layanan, serta kepastian informasi yang lebih akurat.

Selain mengurangi potensi kesalahan reservasi dari pihak ketiga, pemesanan langsung juga sering memberikan keuntungan tambahan seperti promo eksklusif, kemudahan perubahan jadwal, hingga layanan pelanggan yang lebih responsif.

Ket. Foto: Ilustrasi - Suasana di kawasan Tugu Yogyakarta. — Sumber: ANTARA/ Luqman Hakim

Dari sisi industri pariwisata, tren ini membantu pelaku usaha mengurangi ketergantungan terhadap platform agregator yang mengenakan komisi cukup besar.

Dengan meningkatnya transaksi langsung, hotel dapat memperkuat hubungan dengan pelanggan sekaligus meningkatkan margin pendapatan.

Namun, tantangannya terletak pada kemampuan pengelola akomodasi membangun sistem digital yang aman, mudah digunakan, dan mampu bersaing dengan kenyamanan yang selama ini ditawarkan platform pemesanan daring besar.

Dinas Pariwisata (Dispar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghimbau calon wisatawan terutama yang akan berkunjung ke destinasi provinsi tersebut untuk memesan akomodasi atau tempat menginap melalui situs resmi guna mencegah praktik penipuan.

"Kita harus waspada ya, terutama teman-teman calon wisatawan agar kemudian memastikan bahwa pemesanan akomodasi itu dari situs-situs yang resmi," kata Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi di Yogyakarta, Minggu (24/5).

Ia mengatakan jangan sampai calon wisatawan yang hendak menginap di Yogyakarta memilih akomodasi hanya dari informasi mulut ke mulut, yang kemudian akan bisa mengakibatkan dampak negatif atau jadi korban penipuan.

"Penipuan pasti karena ada kesempatan, apalagi seperti ini banyak orang yang memanfaatkan kondisi, misalnya di satu tempat pendakian di Gunung Merapi, di Kalitalang itu sudah bilang semua Indonesia pindah ke Kalitalang," katanya.

Menurut dia, pada momen liburan apalagi ada tempat destinasi yang viral di media sosial berdampak pada minat terutama wisatawan dalam negeri meningkat, sehingga kesempatan itu digunakan para oknum untuk melakukan penipuan.

"Tentu saja kami mengimbau agar kemudian wisatawan yang akan memanfaatkan sumber-sumber informasi, melalui sumber yang sudah terbukti bertanggung jawab. Karena kejadian sudah memang sangat masif belakangan ini," katanya.

Selain calon wisatawan, kata dia, bentuk kewaspadaan tentunya juga dilakukan oleh para industri pariwisata, dan tentunya pemerintah daerah juga ingin mengetahui apabila ada dan siapa yang kemudian bergerak memanfaatkan situasi.

"Apabila menemukan itu (penipuan) kita harap bisa menyampaikan kepada kami, kami minta peran sertanya gitu. Untuk kemudian apabila ada yang teridentifikasi gitu, ya itu bisa disampaikan," katanya.

Dia mengatakan, modus yang dilakukan penipu dalam akomodasi penginapan itu biasanya langsung menawarkan kepada calon, yang sebelumnya mereka mendapat informasi misalnya dari keluarga-keluarga yang akan kedatangan wisatawan itu.

"Atau mungkin mereka memasang iklan itu di media sosial. Itu sangat mungkin. Jadi tolong gunakan informasi yang memang sudah bertanggung jawab. Banyak penyedia informasi penginapan, akomodasi yang kemudian terpercaya untuk bisa dimanfaatkan," katanya.

Pemda DIY, lanjut dia, juga akan memberikan tindakan tegas apabila menemukan indikasi penipuan, bahkan apabila tertangkap tangan, pastinya sebagai penipu harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum.

"Tapi sampai sekarang pelaporan secara resmi belum ada ke kami. Dan kalau itu sudah ada, pastinya ada nomor telepon yang bisa kita usut, kita lacak, itu mungkin. Tapi akan lebih baik kalau ada pengaduan masyarakat," katanya.

  • Pemprov DIY
  • Akomodasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.