Studi Ungkap Pengawet Makanan Bisa Tingkatkan Risiko Hipertensi dan Penyakit Jantung

Jumat, 22 Mei 2026, 01:00 WIB

Penelitian menunjukkan 99,5 persen sukarelawan mengonsumsi setidaknya satu jenis pengawet makanan dalam dua tahun pertama partisipasi mereka.

PARIS – Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Heart Journal menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet tambahan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.

Ket. Foto: Perawat memeriksa tekanan darah seorang perempuan lanjut usia di Marato dekat Cognocoli-Monticchi di Pulau Korsika, Mediterania Prancis, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/PASCAL POCHARD-CASABIANCA

Penelitian tersebut dipimpin oleh Mathilde Touvier, direktur penelitian di INSERM atau Institut Nasional Kesehatan dan Penelitian Medis Prancis, bersama Anaïs Hasenböhler, mahasiswa doktoral dari Tim Penelitian Epidemiologi Gizi di Université Sorbonne Paris Nord dan Université Paris Cité.

Dikutip dari Medical Xpress, Hasenböhler mengatakan, “Pengawet makanan digunakan dalam ratusan ribu makanan olahan industri. Studi eksperimental menunjukkan bahwa beberapa bahan tambahan pengawet makanan mungkin berbahaya bagi kesehatan kardiovaskular, tetapi kita belum memiliki cukup bukti tentang dampak bahan-bahan ini pada manusia. Sejauh yang kami ketahui, ini adalah studi pertama yang menyelidiki hubungan antara berbagai macam pengawet dan kesehatan kardiovaskular.”

Penelitian ini merupakan bagian dari studi besar bernama NutriNet-Santé yang melibatkan 112.395 sukarelawan dari seluruh Prancis. Setiap enam bulan, para peserta diminta melaporkan seluruh makanan dan minuman yang mereka konsumsi selama tiga hari.

Para peneliti kemudian melakukan analisis rinci terhadap kandungan seluruh makanan dan minuman tersebut, termasuk bahan pengawet. Kondisi kesehatan para sukarelawan juga dipantau selama rata-rata tujuh hingga delapan tahun untuk mengetahui kemungkinan munculnya hipertensi atau penyakit kardiovaskular lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan 99,5 persen sukarelawan mengonsumsi setidaknya satu jenis pengawet makanan dalam dua tahun pertama partisipasi mereka.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa orang yang mengonsumsi pengawet “non-antioksidan” dalam jumlah terbesar memiliki risiko hipertensi 29 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang paling sedikit mengonsumsi. Selain itu, risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, stroke, dan angina, meningkat 16 persen.

Sementara itu, orang yang paling banyak mengonsumsi pengawet antioksidan memiliki risiko hipertensi 22 persen lebih tinggi.

Pengawet non-antioksidan digunakan untuk mencegah pertumbuhan mikroba berbahaya seperti jamur dan bakteri, sedangkan pengawet antioksidan berfungsi mencegah oksidasi agar makanan tidak berubah warna atau menjadi tengik.

Sangat Rinci

Penelitian juga mengidentifikasi delapan dari 17 pengawet yang paling umum dikonsumsi memiliki kaitan khusus dengan tekanan darah tinggi. Pengawet tersebut meliputi kalium sorbat (E202), kalium metabisulfit (E224), natrium nitrit (E250), asam askorbat (E300), natrium askorbat (E301), natrium eritrobat (E316), asam sitrat (E330), dan ekstrak rosemary (E392).

Selain itu, asam askorbat (E300) juga dikaitkan secara khusus dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Touvier mengatakan penelitian ini memang memiliki keterbatasan karena menggunakan desain observasional. Namun, menurut dia, data yang digunakan sangat rinci dan telah mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi risiko penyakit kardiovaskular.

“Penelitian eksperimental dalam literatur secara konsisten menunjukkan bahwa pengawet dapat menyebabkan stres oksidatif dalam tubuh atau memengaruhi cara kerja pankreas,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Hasil ini menunjukkan bahwa kita perlu mengevaluasi kembali risiko dan manfaat zat aditif makanan ini oleh otoritas yang berwenang, seperti EFSA di Eropa dan FDA di AS, untuk perlindungan konsumen yang lebih baik.”

Menurutnya, temuan tersebut juga mendukung rekomendasi agar masyarakat lebih memilih makanan yang tidak diolah atau diolah seminimal mungkin serta menghindari bahan tambahan yang tidak diperlukan.

“Sementara itu, temuan ini mendukung rekomendasi yang ada untuk lebih memilih makanan yang tidak diolah dan diolah seminimal mungkin, serta menghindari bahan tambahan yang tidak perlu. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya memainkan peran kunci dalam menjelaskan rekomendasi ini kepada masyarakat,” katanya.

Saat ini, para peneliti masih mempelajari bagaimana zat aditif makanan dan makanan ultra-olahan memengaruhi peradangan, stres oksidatif, profil metabolisme darah, serta komposisi mikrobiota usus untuk memahami lebih lanjut kaitannya dengan peningkatan risiko penyakit.

  • Jurnal Kesehatan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.