Purbaya Yakin Rupiah Tak Lama di Level Rp17.700 per Dolar AS, Ini Alasannya
Rabu, 20 Mei 2026, 05:30 WIBJakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat seiring mulai masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia.
Purbaya mengatakan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembelian obligasi di pasar sekunder.
âRupiah tidak akan bertahan di level ini terlalu lama. Kita sudah melihat ada perbaikan sentimen di pasar obligasi. Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,â ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5).
Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dollar AS, dari sebelumnya Rp17.668 per dollar AS.
Purbaya menjelaskan pemerintah telah masuk ke pasar obligasi sejak pekan lalu untuk meredam tekanan dan menjaga kepercayaan investor. Langkah tersebut mulai berdampak terhadap penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Menurut dia, investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi, baik di pasar sekunder maupun pasar primer. Di pasar sekunder, aliran dana asing tercatat sekitar Rp500 miliar, sedangkan di pasar primer mencapai sekitar Rp1,68 triliun.
âLangkah menjaga stabilitas pasar obligasi itu sudah mulai mengembalikan kepercayaan investor asing terhadap obligasi kita. Mereka mulai masuk, dolar juga mulai masuk,â katanya.
Pemerintah, lanjut Purbaya, terus memantau perkembangan arus modal asing ke pasar obligasi dan rutin berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto terkait pergerakan dana yang masuk.
Di sisi lain, Purbaya memastikan pemerintah tidak akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Asumsi harga minyak dunia juga tetap dipertahankan sebesar 100 dollar AS per barel.
âSaya nggak harus mengubah apa-apa lagi. Kami sudah melakukan penghematan yang kami pikir cukup untuk keadaan sekarang, termasuk rupiahnya sudah bergeser waktu melakukan simulasi itu,â ujarnya.
Menahan Depresiasi
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Great Institute Ani Asriyah menyarankan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5 persen, guna menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan menahan depresiasi rupiah.
âBI perlu menunjukkan sinyal tegas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Dalam situasi seperti sekarang, kenaikan 25 basis poin merupakan langkah korektif yang prudent untuk menahan depresiasi rupiah agar tidak berkembang menjadi dislokasi yang lebih mahal bagi perekonomian,â kata Ani.
Ani menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global, terutama kebijakan suku bunga tinggi berkepanjangan dari Federal Reserve.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat diferensial suku bunga antara negara maju dan berkembang menjadi faktor penting dalam menentukan arah aliran modal global.
Ani menambahkan, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin akan memberi beberapa manfaat, mulai dari memperkuat kredibilitas Bank Indonesia, meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik, mengurangi beban intervensi valas, hingga menekan risiko rambatan pelemahan rupiah terhadap inflasi dan pasar keuangan domestik.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga dapat menahan laju investasi dan konsumsi berbasis kredit dalam jangka pendek. Meski begitu, menurutnya, risiko akibat pelemahan rupiah yang berlanjut akan jauh lebih besar.
âPelemahan rupiah yang berlanjut berisiko memicu imported inflation, memperbesar beban utang valas, dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap Indonesia,â ujar Ani.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.