Swedia Memperingatkan Kemungkinan Russia Merebut Pulau Baltik untuk Uji Respon NATO

Kamis, 14 Mei 2026, 23:25 WIB

STOCKHOLM - Swedia telah memperingatkan Denmark bahwa Russia berpotensi merebut salah satu pulau di Laut Baltik untuk menguji respons North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Dari Militarnyi, namun, menurut kantor berita Denmark DR , Kepala Pertahanan Denmark Michael Huldgaard tidak memiliki informasi mengenai rencana Moskow tersebut.

Ket. Foto: Dinas Intelijen Militer Denmark mencatat bahwa kawasan Baltik adalah area di mana risiko Russia menggunakan kekuatan militer terhadap NATO paling tinggi. — Sumber: Istimewa

Terdapat ribuan pulau di Laut Baltik—mulai dari yang kecil hingga yang besar—dan wilayah ini dapat menjadi "titik panas" dalam konteks potensi tindakan Russia.

Kepala Pertahanan Swedia, Michael Claesson, menganggap sangat mungkin bahwa Russia secara teoritis dapat memutuskan kapan saja untuk merebut salah satu pulau tersebut guna menguji persatuan NATO.

“Saya pikir aliansi itu bisa ditantang dengan merebut hampir apa saja. Tidak harus sesuatu yang besar. Ini lebih tentang menunjukkan kekuatan dan menguji reaksi politik,” kata Michael.

Laporan ancaman dari Dinas Intelijen Militer Denmark mencatat bahwa kawasan Baltik adalah area di mana risiko Russia menggunakan kekuatan militer terhadap NATO paling tinggi.

Pada saat yang sama, Kepala Pertahanan Denmark Michael Huldgaard menilai situasi tersebut dengan lebih hati-hati.

“Saya tidak mengetahui adanya rencana Rusia untuk skenario seperti itu. Bagi kami, prioritasnya adalah kerja sama dalam kerangka nasional dan kolektif untuk menunjukkan kesiapan kami. Kami mampu membela Denmark dan NATO secara keseluruhan, dan itulah pesan strategis yang kami sampaikan kepada dunia,” katanya.

Jika NATO tidak mampu merespons secara tegas bahkan terhadap invasi terbatas, ini akan memberi sinyal kepada masing-masing negara anggota dan Aliansi secara keseluruhan tentang kurangnya kemampuan atau persatuan untuk tindakan kolektif.

Menurut penilaian Claesson , perang langsung antara Rusia dan NATO tetap tidak mungkin terjadi, karena Moskow menyadari keniscayaan kekalahan dalam konfrontasi militer konvensional.

Sebaliknya, peningkatan bertahap menggunakan taktik hibrida—tindakan yang dirancang untuk tetap berada di bawah ambang batas perang formal sambil secara bersamaan menciptakan efek strategis yang nyata—jauh lebih mungkin terjadi.

Pendudukan sementara wilayah kecil—di kawasan Baltik atau di sebuah pulau—sangat sesuai dengan logika ini. Langkah seperti itu dapat dipresentasikan sebagai "unjuk kekuatan simbolis," diikuti dengan jeda untuk menilai reaksi pemerintah dan angkatan bersenjata NATO.

  • Konflik Russia - NATO

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.