Selamatkan Subak Pakel II dari Beton Kota: Petani Denpasar Alihkan Lahan ke Cabai
Kamis, 14 Mei 2026, 21:56 WIBDENPASARâ Di tengah kepungan beton dan deru urbanisasi Kota Denpasar, sepenggal sawah Subak Pakel II di Desa Ubung Kaja masih bertahan. Para petani di sana mulai membuka babak baru lewat program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan membudidayakan cabai pada Kamis (14/5).
Langkah ini jadi strategi bertahan agar subak, sistem irigasi tradisional Bali, tidak tergilas alih fungsi lahan di pusat kota. Tujuannya bukan sekadar menambah penghasilan petani.
Ni Luh Putu Sulis Dewi Damayanti, akademisi Prodi Agroteknologi Universitas Warmadewa, menegaskan ketahanan subak di perkotaan bergantung pada nilai ekonomi lahan bagi petani. Ia menjadi motor penggerak program pengabdian ini.
"Subak di Denpasar menghadapi tekanan luar biasa. Godaan konversi lahan jadi bangunan makin besar jika petani hanya mengandalkan padi dengan masa tanam panjang dan harga fluktuatif. Diversifikasi ke hortikultura seperti cabai jadi jawaban logis untuk meningkatkan nilai tambah di lahan terbatas," ujar Sulis Dewi melalui keterangannya saat pelatihan budidaya di Denpasar.
Teknologi dan Pengolahan Pascapanen Jadi Kunci
Petani tak hanya mendapat bibit unggul, tetapi juga pendampingan teknologi pertanian presisi. Penggunaan mulsa, pengaturan pola tanam, hingga inovasi pengolahan pasca-panen jadi materi utama pendampingan.
Untuk mengatasi harga cabai yang sering anjlok saat panen raya, tim Unwar memperkenalkan teknologi solar dryer dan alat pengolahan sederhana. Dengan alat ini petani bisa menjual hasil panen dalam bentuk olahan yang lebih tahan lama dan bernilai tinggi.
"Kami ingin petani tidak lagi jadi objek permainan harga di pasar. Biaya produksi bisa ditekan sementara kualitas hasil panen meningkat lewat teknologi, pupuk NPK tepat, dan bio-pestisida," tambahnya.
Menjaga Subak Lewat Sinergi Akademik dan Tradisi
Program ini merupakan bagian pengabdian masyarakat Universitas Warmadewa yang menjembatani teori akademik dengan realitas lapangan. Kehadiran akademisi di sawah diharapkan memberi kepercayaan diri baru bagi petani Subak Pakel II.
Budidaya cabai dipilih karena perputaran modalnya lebih cepat dibanding padi, sekaligus tetap selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan dalam sistem subak.
Upaya Sulis Dewi dan tim menunjukkan pertanian perkotaan di Bali masih punya peluang tumbuh. Nafas subak di jantung Denpasar diharapkan terus berdenyut lewat inovasi dan keberpihakan akademik, sekaligus menjaga kedaulatan pangan dan ruang terbuka hijau yang kian langka.
- Inovasi Pertanian
- Pertanian Subak
- denpasar
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Mentan Amran Dukung Inovasi Pakan Ayam Probiotik IPB, Siap Bawa ke Presiden
-
AS Bergerak untuk Lepaskan Lebih Banyak Cadangan Minyak
-
Pemkot Medan Percepat Proyek Sekolah Rakyat Tanjung Selamat Target Selesai 30 Juni 2026
-
Tradisi Ngelawang di Denpasar
-
Janice Tjen/Chan Hao-ching Hadapi Piter/Klepac di Babak Pertama Ganda Indian Wells
-
PMKRI Cabang Bogor Laporkan Dugaan Pernyataan Rasis Floribertus Rahardi di Media Sosial kepada Kapolri
-
Dorong Ekonomi Hijau, IRT Denpasar Sulap Sampah Dapur Jadi Pupuk Anggrek
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.