Kepercayaan Investor Mulai Goyah

Selasa, 12 Mei 2026, 06:00 WIB

Pasar Keuangan - Koreksi IHSG sepanjang 2026 per 11 Mei Tembus 20 Persen

Pemerintah perlu mengevaluasi sejumlah program prioritas karena pasar mulai mempertanyakan efektivitas belanja negara di tengah tingginya kebocoran anggaran dan korupsi.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

JAKARTA – Pele­mahan rupiah dan ko­reksi Indeks Harga Sa­ham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini mencerminkan me­ningkatnya kehati-ha­tian investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap nilai tukar dan pasar saham umumnya menunjuk­kan adanya arus keluar modal asing, seiring investor mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global maupun risiko domestik. 

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tingkat kepercayaan pasar sedang mengalami pe­nurunan, terutama terhadap prospek pertumbuhan dan sta­bilitas ekonomi jangka pendek.

Di sisi lain, sentimen nega­tif tersebut juga dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekster­nal seperti tingginya suku bu­nga global, gejolak geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia, serta faktor internal se­perti persepsi terhadap kebijakan ekonomi dan arah fiskal nasional. Jika tekanan berlang­sung berkepanjangan, pelemahan rupiah dan IHSG berpotensi meme­ngaruhi investasi, konsumsi, hingga ekspansi sektor usaha.

Manajer Riset Seknas Fi­tra, Badiul Hadi menilai pe­lemahan rupiah dan koreksi IHSG mencerminkan menu­runnya kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global dan ketidakpastian kebi­jakan domestik.

“Kapitalisasi pasar saham kemungkinan telah menyusut hingga 2.500–3.000 triliun ru­piah dalam kurang dari lima bulan, angka yang dinilai sa­ngat besar dibanding berbagai program bantuan sosial peme­rintah,” ujar Badiul kepada Ko­ran Jakarta, Senin (11/5).

Seperti diketahui, kurs ru­piah terhadap dollar AS sepan­jang 2026 hingga 11 Mei ter­catat melemah 643 poin atau sekitar 3,83 persen dari akhir tahun lalu menjadi 17.414 ru­piah per dollar AS. Bahkan, level tersebut di atas target da­lam asumsi makro yang me­netapkan kurs rupiah di level 16.500 rupiah per dollar AS.

Di sisi lain, IHSG sepanjang 2026 per 11 Mei terkoreksi ter­koreksi 1.741,32 poin atau se­kitar 20,14 persen dari akhir tahun lalu menjadi 6.905,62. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/5) sore, ditu­tup melemah 63,78 poin atau 0,92 persen ke posisi 6.905,62.

Menurut Badiul, tekanan global seperti tingginya suku bunga Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik memang berpengaruh, tetapi kondisi di Indonesia diperburuk oleh ru­ang fiskal yang semakin sempit. Pemerintah dinilai menghada­pi beban belanja besar mulai dari program makan bergizi gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, subsidi energi, in­frastruktur, hingga pembayaran utang, sementara penerimaan negara berpotensi melambat akibat lemahnya harga komo­ditas dan sektor manufaktur.

Persepsi Negatif

Senada, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai anjloknya IHSG tak lepas dari persepsi negatif in­vestor terhadap kebijakan fiskal yang dinilai tidak prudent. “Per­sepsi ini bukan datang hanya dari ekonom, namun juga dari lembaga pemeringkat rating. Jadi hal tersebut dilihat faktor negatif oleh investor, terutama investor luar,” ujar Nailul.

Investor asing cenderung lebih percaya pada penilaian lembaga internasional diban­ding data dari lembaga pe­merintah seperti Badan Pusat Statistik (BPS). Alhasil, meski pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya diumumkan men­capai 5,61%, nilai tukar rupiah tetap melemah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.