Korban Kecelakaan Harus Disembuhkan Traumanya agar Tak Setres dan Depresi
Rabu, 29 Apr 2026, 06:23 WIBJAKARTA â Para korban kecelakaan fatal seperti di Bekasi antara KRL dan Argo Bromo Anggrek dapat membuahkan trauma mendalam. Seorang psikolog, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., mengatakan kecelakaan kereta api yang terjadi di Bekasi Timur dan menimbulkan korban jiwa serta luka-luka tidak hanya menyisakan dampak fisik, tetapi juga berpotensi memicu trauma psikologis pada para penyintas.
âSetelah mengalami kecelakaan, mungkin saja seseorang mengalami gangguan stres pascatrauma. Namun, respons tiap individu berbeda, sehingga tidak semua akan berkembang menjadi PTSD,â kata Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu ketika dihubungi ANTARA, Selasa.
Psikolog yang akrab disapa Bunda Romy itu mengatakan pengalaman kecelakaan dapat menimbulkan berbagai respons psikologis, mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian, hingga kesulitan berkonsentrasi yang membuat korban tampak bengong.
Selain itu, stimulus yang berkaitan dengan kejadian juga dapat memicu respons ketakutan. Korban dapat merasa gelisah saat mendengar suara kereta atau bahkan menghindari moda transportasi tertentu karena trauma yang masih tersisa.
Dalam kondisi tertentu, lanjut dia, trauma juga dapat memicu serangan panik secara tiba-tiba. Gejalanya meliputi sesak napas, keringat dingin, serta rasa takut yang intens tanpa sebab yang jelas.
âPanic attack bisa muncul tiba-tiba, misalnya saat berada di tempat ramai atau ketika teringat kejadian. Ini membuat korban menjadi takut untuk beraktivitas seperti biasa,â ujarnya.
Romi menambahkan, dalam beberapa kasus, trauma yang tidak tertangani juga dapat berkembang menjadi depresi. Kondisi ini ditandai dengan perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Ia menekankan bahwa pengalaman traumatis bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh kondisi psikologis masing-masing individu. Oleh karena itu, penting bagi lingkungan sekitar untuk memahami bahwa pemulihan tidak dapat disamaratakan.
Kecelakaan kereta di Bekasi sebelumnya dilaporkan melibatkan sejumlah korban, dengan sebagian di antaranya mengalami luka serius. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik tidak hanya dari sisi keselamatan transportasi, tetapi juga dampak lanjutan terhadap kesehatan mental korban.
Romi mengingatkan bahwa pemulihan trauma membutuhkan waktu dan dukungan yang tepat agar korban dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal.
- Pemulihan Trauma
- Korban Kecelakaan Kereta
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
RS Polri identifikasi 10 korban kecelakaan kereta
-
Pembangunan LRT Fase 1B Manggarai Dituntut Ramah TOD dan UMKM
-
Mau Puasa Ramadan tapi Lupa Niat, Ini Saran Ulama
-
Gubernur Khofifah Jajaki "Sister Province" Jatim-Samarkand Uzbekistan
-
Pemakaman korban kecelakaan KA
-
Konser BTS "Arirang" Bakal Tayang Live di Bioskop Seluruh Dunia
-
Sudan di Ambang Kehancuran: 21 Juta Jiwa Berjuang Melawan Kelaparan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.