Korut Perkuat Status Nuklirnya

Selasa, 28 Apr 2026, 02:25 WIB

SEOUL – Para analis pada Senin (27/4) mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) memanfaatkan perang di Timur Tengah untuk mempercepat pengembangan senjatanya dan memperkuat status nuklirnya di dunia di mana norma-norma internasional telah runtuh.

Sejak serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari lalu, Korut telah melakukan lima peluncuran misil, termasuk empat peluncuran sejauh ini pada April yang merupakan jumlah terbanyak dalam satu bulan sejak Januari 2024, menurut perhitungan AFP.

Ket. Foto: Perkuat Status Nuklir - Sebuah misil hipersonik diluncurkan dari sebuah lokasi rahasia di Korut pada awal Januari 2025 lalu. Pada Senin (27/4) sejumlah analis menyatakan bahwa Korut telah memanfaatkan perang di Timur Tengah untuk mempercepat pengembangan senjatanya dan memperkuat status nuklirnya. — Sumber: AFP/KCNA VIA KNS

Langkah-langkah ini mengikuti janji pemimpin Kim Jong-un untuk memperkuat kekuatan nuklir, seiring Pyongyang menuai manfaat dari hubungan yang lebih dalam dengan Russia dan mempertajam kecaman terhadap sekutu AS, Korea Selatan (Korsel).

“Peluncuran tersebut tampaknya merupakan bagian dari strategi yang canggih untuk menyeimbangkan peningkatan militer dengan dinamika yang berubah antara AS, Russia, dan Tiongkok,” ucap Profesor Lim Eul-chul, seorang ahli Korea Utara di Universitas Kyungnam Korsel.

“Lanskap keamanan global saat ini telah berubah menjadi zona tanpa hukum di mana norma-norma internasional yang ada tidak lagi berfungsi. Korut memanfaatkan kekosongan ini untuk melengkapi persenjataan nuklirnya,” tegas dia.

Pyongyang mengutuk serangan AS terhadap Iran sebagai seperti gangster, tetapi tidak dianggap telah memasok senjata ke Teheran dan secara khusus menahan diri untuk tidak mengkritik langsung Presiden AS, Donald Trump, yang diperkirakan akan mengunjungi Tiongkok untuk sebuah pertemuan puncak pada Mei mendatang.

Terdapat juga spekulasi bahwa Trump mungkin akan bertemu Kim Jong-un sekitar waktu itu.

“Dengan KTT yang kemungkinan akan menarik perhatian pada agenda Korut, Pyongyang mungkin telah memanfaatkan momen ini untuk memperkuat pesannya bahwa mereka adalah negara nuklir yang tidak dapat diubah,” kata Dr Hong Min, seorang peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, kepada AFP.

“Namun negara itu juga ingin mengirimkan sinyal berkelanjutan bahwa mereka memiliki postur pencegahan yang pada dasarnya berbeda dari Iran,” imbuh dia.

Percepat Pencapaian

Rentetan peluncuran misil dimulai segera setelah kongres Partai Buruh pada Februari, sebuah acara yang diadakan setiap lima tahun sekali dan mengarahkan kebijakan negara. Waktu peluncuran tersebut menunjukkan bahwa Korut ingin mempercepat pencapaian yang nyata dalam kemampuan persenjataannya, kata Dr Hong.

Pada kongres tersebut, Kim Jong-un mengatakan bahwa posisi Korut sebagai negara pemilik senjata nuklir telah terkonsolidasi menjadi tidak dapat diubah dan bersifat permanen.

Peluncuran tersebut melibatkan misil balistik yang disetujui, misil jelajah antikapal perang, dan amunisi tandan.

Para analis mengatakan kepada AFP bahwa manuver tersebut menunjukkan kemajuan teknis tertentu dan peningkatan kemahiran dalam penggunaan senjata dwiguna, yang dirancang untuk peran nuklir dan konvensional.

Menurut Profesor Lim, bukti-bukti tersebut mencakup kemampuan Korut untuk memasang hulu ledak nuklir berukuran mini dan melakukan serangan secara bersamaan yang membanjiri jaringan persenjataan pencegat musuh dengan jumlah yang sangat banyak.

“Pyongyang juga kemungkinan akan terus melakukan uji coba misil balistik secara terus-menerus seiring dengan pergeserannya dari pengembangan senjata sederhana menuju normalisasi operasi nuklir," kata Lim.

“Rezim tersebut menilai bahwa sementara AS sedang sibuk di Timur Tengah, ini adalah waktu yang optimal untuk mempercepat pencegahan ofensif dan pengembangan paralel kekuatan nuklir dan konvensional,” imbuh dia.

Peluncuran tersebut juga dimaksudkan untuk menunjukkan kesediaan Korut untuk memamerkan dukungan dari Russia, yang telah memberikan bantuan ekonomi dan teknis yang berharga kepada Pyongyang sebagai imbalan atas ribuan pasukan Korut yang dikirim untuk membantu invasi mereka ke Ukraina.

“Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki sekutu yang kuat di Russia meskipun ada tekanan dari AS dan Tiongkok, yang secara efektif membuat sanksi menjadi tidak relevan,” pungkas Profesor Lim. AFP/I-1

  • nuklir

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.