Wonosobo Dibidik Jadi Lumbung Susu, Kementan Genjot Investasi Peternakan
Minggu, 26 Apr 2026, 22:50 WIBWONOSOBO â Mendorong investasi di subsektor peternakan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi domestik.
Dengan masuknya investasi, kapasitas produksi daging, susu, dan produk turunan dapat ditingkatkan melalui adopsi teknologi, perbaikan bibit, serta efisiensi rantai pasok.
Hal ini juga berpotensi menekan ketergantungan impor dan membuka peluang ekspor jika kualitas dan standar produksi terpenuhi.
Namun, daya tarik investasi di sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti risiko penyakit hewan, fluktuasi harga pakan, serta keterbatasan akses pembiayaan bagi peternak kecil. Tanpa mitigasi risiko dan kepastian regulasi, investor cenderung berhati-hati.
Karena itu, diperlukan kebijakan yang mendorong kemitraan antara investor dan peternak, insentif fiskal, serta penguatan biosekuriti dan infrastruktur pendukung agar investasi tidak hanya masuk, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.
Kementerian Pertanian mendorong investasi di subsektor peternakan, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, untuk menjadi sentra baru sapi perah dan pedaging nasional.
"Peluang investasi di subsektor peternakan saat ini sangat terbuka lebar, terutama untuk sapi perah dan sapi pedaging," kata Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di Wonosobo, Sabtu (25/4), saat memberikan sambutan pada acara Pembukaan Kontes Sapi Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Piala Ketua MPR RI di Wonosobo.
Oleh karena itu, pihaknya mengundang investasi di bidang peternakan karena jika seseorang memelihara sapi perah, maka susu dan dagingnya pasti laku.
Menurut dia, kebutuhan susu nasional terus meningkat dan hampir seluruh sentra peternakan susu saat ini sudah terserap untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Sekarang semua sentra peternakan susu terserap untuk kebutuhan MBG. Ini kesempatan baik," katanya.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani, menegaskan kebutuhan susu segar dalam negeri masih sangat besar.
"Kebutuhan sapi perah masih cukup besar. Kemampuan hanya 25 persen, ada 75 persen pasar dimungkinkan untuk memenuhi pasar susu segar dalam negeri," katanya.
Menurut dia, program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan semakin meningkatkan kebutuhan susu nasional, sehingga daerah seperti Wonosobo perlu dipersiapkan menjadi pusat produksi susu segar.
"Saya berharap Wonosobo bisa menjadi sentra pemenuhan susu segar. Diharapkan Wonosobo dalam tahun-tahun mendatang menjadi sentra susu nasional. Perlu ada investasi," katanya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Lutfi, menyampaikan, produksi daging di Jawa Tengah sudah mendekati 980 ribu ton dan cukup untuk menopang kebutuhan nasional. Namun, produksi susu masih menjadi tantangan tersendiri.
âYang tidak cukup adalah susu,â katanya.
Karena itu, pemerintah provinsi Jawa Tengah mendorong peningkatan populasi sapi perah dan penguatan kesehatan hewan untuk menjaga kesehatan ternak sekaligus mencegah penyebaran penyakit.
Pemerintah optimistis investasi peternakan akan semakin berkembang, memperkuat kesejahteraan peternak, sekaligus mengurangi ketergantungan impor daging dan susu nasional jika ada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha.
- Kabupaten Wonosobo
- peternakan sapi perah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemkot Singkawang Minta Penjelasan SPPG Bukit Batu Terkait 56 Siswa Keracunan MBG
-
Sempat Ada Masalah Beton: Kini Sekolah Rakyat Wonosobo Tancap Gas 40%, Target Juli Masuk Sekolah
-
Penerbangan balon tradisional Wonosobo
-
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia pada Kamis
-
Trump Menolak Bantuan Inggris untuk Memenangkan Perang Melawan Iran
-
Simfoni Kabut dan Jejak Alpen di Wonosobo
-
Festival Balon Udara Wonosobo Diserbu Wisatawan, 44 Balon Hiasi Langit dan Dongkrak Ekonomi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.