• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dunia Tanpa Matahari yang ...

Dunia Tanpa Matahari yang Menantang Ilmu Astronomi

Rabu, 22 Apr 2026, 07:28 WIB

DI TATA SURYA, definisi planet telah mengalami perubahan beberapa kali sepanjang sejarah. Definisi ilmiah formal pertama tentang planet baru ditetapkan pada 2006, yang kemudian memicu klasifikasi ulang Pluto sebagai planet kerdil sebuah keputusan yang hingga kini masih memicu perdebatan.

Uni Astronomi Internasional menetapkan bahwa sebuah planet harus memenuhi tiga kriteria utama: mengorbit Matahari, memiliki massa yang cukup untuk membentuk dirinya menjadi bulat (keseimbangan hidrostatik), serta telah “membersihkan” lingkungan di sekitar orbitnya dari objek lain.

Ket. Foto: Ilustrasi karya seniman tentang peristiwa mikrolensing gravitasi oleh planet yang mengambang bebas. — Sumber: Kredit: Jan Skowron / Observatorium Astronomi, Uni

“Definisi itu cukup untuk memperjelas keadaan di wilayah kosmos kita sendiri, meskipun tidak tanpa kontroversi. Namun, bahkan pada 2006, para astronom telah menemukan eksoplanet planet di luar Tata Surya yang tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi IAU,” tulis Kate Howells, spesialis pendidikan publik di The Planetary Society.

Planet pengembara menjadi contoh paling menonjol dari keterbatasan definisi tersebut. Objek ini merupakan dunia yang melayang bebas, tidak terikat secara gravitasi pada bintang mana pun. Sendirian di ruang antarbintang, mereka tidak memenuhi kriteria planet menurut definisi IAU yang berbasis Tata Surya.

“Beberapa objek bahkan berada di batas yang kabur antara planet dan bintang yang gagal terbentuk. Seiring kita menemukan dan mempelajari lebih banyak planet pengembara, kita perlu memperluas pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan planet,” tulisnya.

Menemukan “Jarum” di Alam Semesta

Perdebatan mengenai definisi planet pengembara hanya dapat dijawab melalui lebih banyak observasi. Namun, menemukan objek ini bukan perkara mudah. Metode yang umum digunakan untuk mendeteksi eksoplanet tidak selalu efektif untuk planet pengembara.

Salah satunya adalah metode transit, yang mengandalkan penurunan cahaya bintang ketika sebuah planet melintas di depannya. Teknik ini hanya bekerja jika planet mengorbit bintang sesuatu yang tidak dimiliki planet pengembara. Sebagai alternatif, para ilmuwan mengandalkan teknik lain yang lebih sesuai untuk mendeteksi objek bebas.

Survei langit berbasis inframerah menjadi salah satu metode awal yang berhasil mengidentifikasi objek redup dan dingin yang melayang sendirian di ruang angkasa. Planet pengembara yang masih muda—dalam skala kosmik bahkan dapat memancarkan cahaya redup dari panas sisa pembentukannya, sehingga masih bisa dideteksi oleh instrumen sensitif.

Salah satu teknik paling efektif adalah Gravitational Microlensing, fenomena yang diprediksi oleh Albert Einstein melalui Teori Relativitas Umum. Dalam fenomena ini, massa suatu objek dapat membelokkan ruang-waktu.

“Ketika objek masif berada di antara kita dan sumber cahaya yang lebih jauh, seperti bintang atau galaksi, cahaya latar belakang akan tampak lebih terang,” jelas Howells.

Dengan memantau jutaan bintang dan mendeteksi peningkatan kecerahan yang sangat singkat, para astronom berhasil mengidentifikasi ratusan kandidat planet pengembara, termasuk beberapa yang berukuran mendekati Bumi.

Alat Baru, Penemuan Baru

Kemajuan teknologi observasi terus memperkaya pemahaman tentang planet pengembara. Pengamatan dari teleskop darat maupun luar angkasa memberikan temuan baru hampir setiap tahun.

Pada 2025, Very Large Telescope milik European Southern Observatory menemukan bukti sebuah planet pengembara berjarak sekitar 620 tahun cahaya yang tampaknya masih mengakresi gas dan debu dari lingkungannya. Objek tersebut diperkirakan “tumbuh” dengan laju hingga miliaran ton per detik fenomena yang belum pernah diamati sebelumnya.

Sementara itu, James Webb Space Telescope membuka babak baru dalam studi planet pengembara. Ketika teleskop ini mengamati wilayah pembentukan bintang NGC 1333 di awan molekuler Perseus, para ilmuwan menemukan enam planet pengembara yang tampaknya terbentuk secara independen dari bintang. ν hay

  • Planet Pengembara

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

100 CCTV Dipasang di Sekitar Lokasi Muktamar NU Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas

Permintaan Tinggi Disertani Mahalnya Pakan, Kerek Harga Ayam di Temanggung

Berikut 14 Lokasi Samsat Keliling di Jadetabek yang Tersedia pada Rabu (26/8)

UMKM Jayapura Terbantu Perayaan Festival Danau Sentani yang Jadi Magnet Turis

BMKG Prakirakan Cuaca Sebagian Jakarta Cerah pada Rabu Pagi

Gelandang Manchester United Bruno Fernandes Sabet Gelar Pemain Terbaik PFA Musim 2025/2026

Warga Jadikan Telur sebagai Lauk Alternatif di Tengah Kenaikan Harga Pangan

Supercar Listrik China Mulai Menggila, Bos Lamborghini Justru Beri Pernyataan Mengejutkan

Permintaan Tinggi, Harga Telur Pun Ikut Naik di Gorontalo

Produksi Kopi Terus Dikembangkan Pemkot Sawahlunto

Kemarau Panjang Ancam 800 Ha Tanaman Padi di Tanah Bumbu, Kalsel

Bangkalan dan Probolinggo Repot Air Bersih, Pemkab Mulai Menyalurkan Bantuan

Manchester United Siapkan Tiga Rekrutan Lagi, Carlos Baleba Segera Merapat

Pelatih Fokus Benahi Penyelesaian Akhir dan Mentalitas Pemain PSIM Yogyakarta

Tahun 2026 Ini Pemprov Maluku Tingkatkan Status Lima Rumah Sakit Tipe D Menjadi Tipe C

Manjakan Biota Laut, Pemprov Jakarta Perkuat Terumbu Karang, Bengkalis Menanam Mangrove

Heart Aerospace ES-30, Pesawat Hibrida untuk Layanan Penerbangan Regional

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Cerah Berawan hingga Berawan Tebal pada Rabu

Tak Gentar, dengan 12 Pemain, Timnas Basket Siap Berjuang di Prakualifikasi FIBA Asia Cup

Layanan Samsat Keliling Hari Ini, Rabu (26/8), Tersedia di 14 Lokasi Jadetabek

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.