Tiongkok Kecam Rencana AS Blokade Selat Hormuz: Tindakan Sangat Berbahaya

Selasa, 14 Apr 2026, 18:20 WIB

JAKARTA - Tiongkok dinilai hanya memainkan peran mediasi terbatas dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun di balik itu, Beijing menyimpan kepentingan ekonomi besar yang kini terancam akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Salah satu langkah yang memicu reaksi keras adalah keputusan Presiden AS Donald Trump terkait rencana pemblokadean Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi distribusi energi global yang sangat vital bagi banyak negara, termasuk Tiongkok.

Ket. Foto: Tiongkok dinilai hanya memainkan peran mediasi terbatas dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun di balik itu, Beijing menyimpan kepentingan ekonomi besar yang kini terancam akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. — Sumber: Anadolu Agency

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menegaskan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memperburuk situasi. Ia menyebut langkah itu sebagai tindakan berbahaya yang dapat memperdalam konflik sekaligus mengancam stabilitas kawasan.

"Tindakan seperti itu hanya akan memperintensifkan kontradiksi, memperburuk ketegangan, melemahkan gencatan senjata yang sudah rapuh, dan semakin membahayakan keamanan navigasi melalui selat tersebut," ujarnya.

Di tengah kondisi yang memanas, kapal-kapal Tiongkok termasuk di antara sedikit armada yang masih mampu melintasi Selat Hormuz. Akses tersebut diduga diperoleh melalui izin langsung dari Iran atau mekanisme tertentu yang memungkinkan jalur tetap terbuka bagi negara mitra.

Selain Tiongkok, sejumlah negara seperti Malaysia, India, dan Pakistan juga masih dapat mengirim kapal tanker melalui jalur tersebut. Namun, jumlahnya sangat terbatas dalam beberapa pekan terakhir akibat meningkatnya risiko keamanan.

Sebagai mitra dagang utama Iran dan kawasan Teluk, Tiongkok memiliki ketergantungan tinggi terhadap stabilitas jalur energi. Jika konflik berlanjut dan Selat Hormuz berubah menjadi zona militer, dampaknya diperkirakan akan meluas ke ekonomi global.

Ketegangan semakin meningkat setelah muncul ancaman tarif hingga 50 persen dari Presiden AS terhadap Tiongkok jika terbukti memasok senjata ke Iran. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Beijing yang menyebutnya sebagai fitnah tanpa dasar dan upaya mendiskreditkan peran Tiongkok.

Meski sulit diverifikasi, sejumlah laporan menyebut adanya pengiriman teknologi dan komponen dwiguna dari Tiongkok ke Iran melalui negara ketiga. Di sisi lain, hubungan ekonomi kedua negara memang telah berlangsung lama, termasuk dalam perdagangan minyak yang dikenai sanksi.

Selain dukungan ekonomi, terdapat pula indikasi bahwa sebagian perangkat militer Iran memiliki keterkaitan dengan pasokan dari Tiongkok. Bahkan, bersama Rusia, Tiongkok disebut-sebut turut memberikan dukungan intelijen satelit dalam konflik tersebut.

Situasi ini turut memengaruhi agenda diplomatik kedua negara besar tersebut. Rencana kunjungan kenegaraan Donald Trump ke Tiongkok yang dijadwalkan dalam waktu dekat kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Dengan eskalasi yang terus berkembang, Tiongkok menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan keamanan jalur perdagangan internasional. Pemerintah Beijing juga menekankan bahwa setiap kebijakan harus mempertimbangkan dampak global, terutama terhadap ekonomi dan keamanan energi dunia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.