Sering Diabaikan, Ternyata 4 Hal Sederhana Ini Penentu Tinggi Badan Anak di Masa Depan
Selasa, 14 Apr 2026, 17:10 WIBJAKARTA -Â Persepsi masyarakat yang menganggap tinggi badan anak sepenuhnya bergantung pada faktor genetik orang tua mulai bergeser.
Pakar endokrinologi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. dr. Jose R.L. Batubara, menekankan bahwa potensi tinggi badan optimal seorang anak justru lebih banyak dipengaruhi oleh interaksi antara asupan nutrisi, aktivitas fisik, serta kualitas tidur yang mendalam (deep sleep).
âBukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek. Banyak faktor lain seperti makanan, kesehatan, vaksinasi, dan lingkungan,â kata Jose dalam webinar âMengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anakâ yang dipantau di Jakarta, Selasa.
Ia menekankan pentingnya kecukupan nutrisi sebagai fondasi pertumbuhan. Anak membutuhkan asupan kalori yang cukup, protein terutama dari sumber hewani, serta kalsium dan vitamin D untuk mendukung pembentukan tulang.
Menurut dia, susu menjadi salah satu sumber utama kalsium yang penting bagi pertumbuhan tinggi badan anak. Kemudian, vitamin D berperan membantu penyerapan kalsium dalam tubuh.
Selain nutrisi, faktor tidur juga berperan besar, di mana hormon pertumbuhan diproduksi optimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.
âAnak butuh tidur minimal delapan jam. Saat deep sleep, hormon pertumbuhan keluar maksimal,â katanya.
Ia menambahkan, aktivitas fisik yang rutin juga dapat merangsang produksi hormon pertumbuhan. Olahraga seperti berenang, berlari, atau permainan aktif lainnya dianjurkan untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Dalam paparannya, Jose mengingatkan agar orang tua tidak hanya fokus pada berat badan, tetapi juga memperhatikan keseimbangan antara berat dan tinggi badan melalui indeks massa tubuh.
Ia mengungkapkan bahwa kelebihan konsumsi karbohidrat tanpa diimbangi protein dapat menyebabkan obesitas tanpa mendukung pertumbuhan tinggi badan secara optimal.
âKalau kalorinya kebanyakan dari karbohidrat, anak bisa gemuk tapi tidak bertambah tinggi,â ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tinggi badan akhir anak dapat diprediksi berdasarkan tinggi orang tua melalui perhitungan tertentu, meski hasilnya tetap dapat dipengaruhi faktor lain selama masa pertumbuhan.
Oleh karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk lebih aktif memantau pertumbuhan anak secara berkala dan menerapkan pola hidup sehat agar anak dapat mencapai potensi tinggi badan optimalnya.
"Anak bisa tumbuh normal, memiliki keseimbangan emosional, hormon, dan genetik. Orang tua berperan untuk itu. Alat yang akurat untuk melihat pertumbuhan ini adalah kurva pertumbuhan tentunya," kata Jose.Â
- stunting
- idai
- tinggi badan anak
- hormon pertumbuhan
- nutrisi anak
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
RI Serius Perangi Stunting! Bapanas Dorong Makan Sehat Tanpa Harus Mahal
-
SPPG Teling Manado Maksimal Beri Pelayanan 3.941 Siswa
-
Pariwisata Bajo Digenjot, Manggarai Barat Kerja Sama dengan Awstar
-
Waspada Predator Incar Anak, IDAI Bongkar 6 Tahap Licik Child Grooming yang Jarang Disadari Orang Tua
-
KDM Usul Lokasi Longsor KBB Dijadikan Hutan dan Warganya Direlokasi
-
Masuki 2026, Kemenperin Fokus Perkuat Penyerapan Anggaran dan Dampak Belanja Industri
-
Bagi-bagi Tumbler untuk Menekan Sampah Plastik DI Wilayah Serang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.