Revolusi Industri Dimulai, Kemenperin Luncurkan Platform Digital & AI Terpadu

Selasa, 14 Apr 2026, 19:00 WIB

JAKARTA – Percepatan transformasi sektor manufaktur nasional menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri di tengah tekanan global dan disrupsi teknologi.

Adaptasi terhadap digitalisasi, otomatisasi, serta integrasi rantai pasok berbasis teknologi menjadi faktor penentu dalam mendorong efisiensi produksi dan kualitas output.

Ket. Foto: Ilustrasi - Aktivitas produksi sebuah pabrik di Karawang, Jawa Barat. — Sumber: Antara.

Tanpa transformasi, sektor manufaktur berisiko tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ketat.

Upaya ini tidak hanya membutuhkan investasi pada teknologi, tetapi juga penguatan kualitas sumber daya manusia dan kepastian regulasi yang mendukung inovasi.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset menjadi krusial untuk mempercepat adopsi industri 4.0.

Dengan strategi yang terarah, transformasi manufaktur dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas basis ekspor bernilai tambah tinggi.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempercepat transformasi sektor manufaktur nasional dengan membangun platform terintegrasi berbasis digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan di Jakarta, Selasa (14/4), menegaskan, ini dilakukan sebagai komitmen penuh pihaknya dalam memperkuat industri dalam negeri agar tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok dunia yang semakin cerdas dan terkoneksi.

“Digitalisasi dan penerapan industri 4.0 merupakan kunci dalam mewujudkan sektor manufaktur yang cerdas, berkelanjutan dan tangguh menghadapi dunia global serta dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” kata Menperin.

Menurut dia, pengembangan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, seperti yang dilakukan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin dengan Irootech Technology Co. Ltd. dan Machinery Industry Education Development Center (MIEDC) China, yang menjalin aliansi untuk membangun platform kolaborasi internasional di bidang industri digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).

Kepala BPSDMI Kemenperin Doddy Rahadi menyampaikan pesatnya perkembangan revolusi industri 4.0 di dunia saat ini telah mengubah cara industri beroperasi sekaligus menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, inovatif dan memiliki kompetensi teknologi yang tinggi.

“Hal inilah yang memacu Kemenperin untuk terus melakukan kolaborasi strategis lintas negara, khususnya dalam pengembangan SDM dan penempatan tenaga kerja di bidang industri 4.0,” ujarnya.

Dalam kunjungan kerja ke China beberapa waktu lalu, tim BPSDMI mengunjungi unit pendidikan vokasi, serta perusahaan dan asosiasi industri China di antaraya Irootech Technology Co. Ltd., Sany Group, Wuhan Vocational College of Software and Engineering, Guangzhou Polytechnic, dan MIEDC.

Tim BPSDMI juga turut menghadiri Higher Education Institutions Industrial Digitalization and Artificial Intelligence Innovation Conference and Industry-Education Integration Development Summit.

Pada konferensi dan summit tersebut, Aliansi Kerja Sama Internasional untuk Pengembangan Talenta Digitalisasi Industri dan Kecerdasan Buatan secara resmi diluncurkan sebagai bentuk wadah kolaborasi antara sektor industri, pendidikan, dan pemerintah Indonesia-China.

Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Kemenperin Wulan Aprilianti Permatasari menjelaskan tujuan utama dari pembentukan aliansi ini adalah untuk membangun platform kolaborasi internasional di bidang digitalisasi dan kecerdasan industri, memperdalam integrasi antara dunia industri dan pendidikan, serta meningkatkan pertukaran dan kerja sama global.

Selanjutnya, bersama-sama mencetak talenta teknis dan profesional berkualitas tinggi guna menjawab kebutuhan pembangunan industri masa depan.

Melalui aliansi ini, lanjut Wulan, sektor industri, institusi pendidikan, serta pemerintah dari Indonesia dan China akan berkolaborasi secara aktif dalam membangun dan mengembangkan talenta unggul yang siap menghadapi tantangan industri global.

Vice President Irootech Technology Co. Ltd. Ye Fei menyatakan, platform kolaboratif yang dibangun ini bertujuan untuk mengembangkan talenta terampil di bidang digitalisasi industri dan memperkuat kerja sama bilateral di bidang pendidikan vokasi, serta mendorong perkembangan bersama.

Kerja sama ini merupakan implementasi dari MoU antara PPPVI Kemenperin dengan Irootech Technology Co. Ltd. yang telah ditandatangani pada 16 September 2025 terkait pengembangan, pelatihan, dan penempatan tenaga kerja di bidang digitalisasi industri dan kecerdasan buatan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.