Paus Leo XIV Kecam Perang AS-Israel, Soroti Penyalahgunaan Agama dalam Konflik

Minggu, 12 Apr 2026, 18:10 WIB

JAKARTA - Paus Leo XIV melontarkan kritik keras terhadap perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, serta menyoroti penggunaan agama sebagai pembenaran dalam konflik bersenjata. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan dimulainya kembali upaya negosiasi antara AS dan Iran.

Dalam doa malam di Basilika Santo Petrus, Paus mengecam apa yang ia sebut sebagai "khayalan kemahakuasaan" yang mendorong terjadinya perang. Ia menilai para pemimpin dunia perlu segera menghentikan konflik dan beralih pada dialog damai sebagai solusi utama.

Ket. Foto: Paus Leo XIV melontarkan kritik keras terhadap perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, serta menyoroti penggunaan agama sebagai pembenaran dalam konflik bersenjata. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan dimulainya kembali upaya negosiasi antara AS dan Iran. — Sumber: Euro News

"Cukup sudah pemujaan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang!" tegas Paus Leo XIV.

Meskipun tidak menyebut secara langsung Amerika Serikat maupun Presiden Donald Trump, pesan tersebut dinilai mengarah pada sikap sejumlah pejabat AS yang kerap mengaitkan kebijakan militer dengan keyakinan agama. Salah satu yang disorot adalah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyebut Amerika sebagai negara Kristen dalam konteks konflik.

Kritik juga datang dari Military Religious Freedom Foundation (MRFF) yang menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer AS. Mereka mengaku para komandan menggunakan retorika keagamaan ekstrem untuk membenarkan perang terhadap Iran.

Paus Leo XIV menegaskan bahwa agama tidak seharusnya dijadikan alat legitimasi kekerasan. Ia menyatakan bahwa Tuhan tidak berpihak pada perang, terlebih konflik yang melibatkan pengeboman dan korban sipil.

"Bahkan Nama Tuhan yang kudus, Tuhan kehidupan, pun diseret ke dalam wacana kematian," ujarnya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global atas meluasnya konflik di Timur Tengah, termasuk potensi eskalasi antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Vatikan disebut sangat mencemaskan dampak konflik terhadap komunitas sipil, khususnya kelompok minoritas Kristen di kawasan tersebut.

Paus juga mengajak seluruh umat untuk berdoa dan mendorong para pemimpin politik menghentikan perang. Ia menekankan bahwa doa dan upaya perdamaian merupakan cara untuk memutus siklus kekerasan yang terus berulang.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran tengah memasuki fase negosiasi yang dimediasi Pakistan. Proses ini diharapkan menjadi titik awal meredakan konflik, meskipun ketegangan masih tinggi di antara kedua negara.

Paus Leo XIV sebelumnya sempat menahan diri untuk tidak mengkritik perang secara terbuka, namun dalam beberapa waktu terakhir intensitas kritiknya meningkat. Ia bahkan menyebut ancaman penghancuran peradaban Iran sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

Seruan moral dari Vatikan ini menambah tekanan internasional agar konflik segera diakhiri. Di tengah situasi yang belum menentu, dorongan terhadap jalur diplomasi dinilai menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah eskalasi lebih luas.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.