Ukraina Minta AS Serukan Gencatan Senjata ke Russia

Kamis, 09 Apr 2026, 02:50 WIB

KYIV - Ukraina pada Rabu (8/4) meminta Amerika Serikat (AS) agar menekan Russia untuk mengakhiri invasinya ke Ukraina, dengan mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata antara AS dengan Iran menunjukkan keberhasilan ketegasan Washington DC.

Seruan itu disampaikan setelah perang di Timur Tengah menangguhkan upaya yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang Ukraina yang telah berlangsung selama empat tahun.

Ket. Foto: Seorang perempuan berjalan melewati gedung hunian yang rusak berat usai serangan militer dahsyat  Russia di Odessa pada Senin (6/4) lalu. Pada Rabu (8/4), Ukraina meminta AS agar menekan Russia untuk melakukan gencatan senjata untuk mengakhiri invasinya ke Ukraina. — Sumber: AFP/Oleksandr GIMANOV

Russia juga mengatakan sekarang berharap putaran baru pembicaraan dengan delegasi AS dan Ukraina akan mungkin setelah Teheran dan Washington DC menyetujui gencatan senjata selama dua pekan.

"Ketegasan Amerika berhasil. Kami percaya sudah waktunya untuk ketegasan yang cukup untuk memaksa Moskwa menghentikan tembakan dan mengakhiri perangnya melawan Ukraina," tulis

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, di media sosial.  

Presiden Volodymyr Zelenskyy juga menggemakan komentar tersebut di postingan selanjutnya di media sosial.

"Ukraina selalu menyerukan gencatan senjata dalam perang yang dilancarkan Russia di Eropa melawan negara dan rakyat kami, dan kami mendukung gencatan senjata di Timur Tengah dan Teluk yang membuka jalan bagi upaya diplomatik," tulis Presiden Zelenskyy.

Di Moskwa, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada wartawan: "Kami berharap bahwa di masa mendatang mereka akan memiliki lebih banyak waktu dan lebih banyak kesempatan untuk bertemu dalam format trilateral. Kami menantikan ini".

Paling Sulit

Beberapa putaran pembicaraan yang dipimpin AS telah gagal membawa pihak-pihak yang bertikai lebih dekat menuju kesepakatan.

Moskwa menuntut konsesi teritorial dan politik dari Kyiv yang dikesampingkan Zelenskyy karena jika dikabulkan artinya sama saja dengan mereka menyerah.

Wakil Presiden AS, JD Vance, pada Rabu mengatakan bahwa perang Ukraina terbukti yang paling sulit untuk diselesaikan.

Berbicara selama kunjungan ke Budapest, dia mengatakan Washington DC akan terus berupaya untuk menemukan solusi dan bersikeras telah ada kemajuan yang signifikan.

Wapres Vance juga mengecam para pemimpin Eropa, dengan mengatakan mereka tampaknya tidak terlalu tertarik untuk menyelesaikan konflik khusus ini.

Sementara itu Presiden Zelenskyy menambahkan bahwa tim militer Ukraina yang membantu negara-negara Timur Tengah melawan serangan pesawat tak berawak Iran, akan tetap berada di wilayah tersebut.

Kyiv mengatakan pihaknya telah mengerahkan lebih dari 200 personel militer dengan keahlian dalam menjatuhkan drone ke wilayah tersebut sejak Iran memulai serangan balasan drone di seluruh Timur Tengah sebagai tanggapan atas serangan AS dan Israel.

"Tim ahli militer Ukraina akan terus bekerja di wilayah tersebut untuk membantu mengembangkan lebih lanjut kemampuan keamanan," tulis Zelenskyy di media sosial. "Situasi di kawasan ini memiliki implikasi global dimana setiap ancaman terhadap keamanan dan stabilitas di Timur Tengah dan Teluk memperkuat tantangan bagi ekonomi dan biaya hidup di setiap negara," imbuh dia.

Zelenskyy juga menegaskan kembali kesiapannya untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur Russia jika Moskwa menghentikan serangan drone dan misil jarak jauh terhadap pembangkit listrik dan jaringan listrik Ukraina.

"Ukraina mengatakan kepada Russia sekali lagi: kami siap untuk menanggapi dengan cara yang sama jika Russia menghentikan serangan mereka. Jelas bagi semua orang bahwa gencatan senjata dapat menciptakan prasyarat yang tepat untuk mencapai kesepakatan,” tulis Zelensky.

Invasi Russia ke Ukraina yang diluncurkan pada Februari 2022 telah memakan korban ratusan ribu jiwa dan jutaan orang mengungsi, menjadikannya konflik paling mematikan di Eropa sejak saat itu Perang Dunia II. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.