Pandangan Mulai Kabur? Ini Penjelasan Spesialis Mata Mengenai Gejala dan Prosedur Operasi Katarak
Kamis, 09 Apr 2026, 18:20 WIBSalah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia adalah katarak. Katarak merupakan kondisi medis ketika lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh, sehingga menghalangi cahaya masuk ke dalam mata. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan.
Perkembangan katarak umumnya berlangsung secara perlahan. Meski demikian, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan penurunan penglihatan secara bertahap. Apabila gangguan penglihatan sudah sangat menghambat aktivitas sehari-hari, operasi katarak menjadi pilihan penanganan yang diperlukan.
âKatarak adalah kondisi berkurangnya kejernihan lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Kondisi ini umumnya berkembang secara perlahan dan tidak terasa mengganggu pada awalnya. Namun, pada jenis tertentu seperti katarak traumatik, perkembangannya dapat terjadi lebih cepat,â jelas dr. Amir Shidik, Sp.M, Subsp.K.B.R., Dokter Spesialis Mata Subspesialis Katarak dan Bedah Refraksi RS Pondok Indah â Pondok Indah.
Katarak dapat terjadi pada salah satu atau kedua mata, namun kekeruhan lensa tidak menyebar dari satu mata ke mata lainnya. Seiring bertambahnya usia, kondisi ini dapat semakin memburuk hingga mengganggu penglihatan. Dampaknya, penderita akan mengalami kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.
Prevalensi katarak mencapai sekitar 50% pada rentang usia 52â64 tahun dan meningkat hingga sekitar 70% pada usia 70 tahun. Data ini menegaskan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, terutama pada kelompok lansia, guna mendeteksi kekeruhan lensa sejak dini sebelum berdampak signifikan terhadap kualitas penglihatan dan kemandirian.
Gejala katarak dapat muncul dalam berbagai bentuk. Penderita umumnya mengalami pandangan yang berkabut, berasap, atau seperti melihat melalui kaca kotor. Selain itu, rasa silau sering muncul saat mengemudi pada malam hari atau saat hujan, serta ketika berada di lingkungan yang terang.
Perubahan persepsi warna juga dapat terjadi. Dalam perkembangannya, penglihatan menjadi semakin buram secara perlahan, ukuran kacamata sering berubah, bahkan pada beberapa kasus muncul fenomena âsecond sightâ di mana penglihatan dekat terasa membaik sementara, meskipun penglihatan jauh justru menurun. Kondisi ini biasanya tidak disertai nyeri atau mata merah, dan pada tahap lanjut dapat terlihat adanya titik putih pada lensa mata.
Sejumlah faktor diketahui dapat meningkatkan risiko katarak. Faktor utama adalah usia lanjut dan paparan sinar ultraviolet. Selain itu, riwayat trauma mata, operasi mata, maupun peradangan pada mata juga berkontribusi terhadap munculnya katarak.
Faktor lain yang tidak kalah penting meliputi penggunaan obat steroid, baik untuk pengobatan asma, penyakit autoimun, maupun gangguan sendi, termasuk konsumsi jamu yang mengandung steroid. Kondisi kesehatan seperti diabetes dan obesitas, serta kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, juga turut meningkatkan risiko.
Dalam mendiagnosis katarak, dokter spesialis mata akan melakukan anamnesis untuk memahami gejala yang dialami pasien, riwayat penggunaan obat, serta kondisi medis yang menyertai. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk menilai ketajaman penglihatan, derajat kekeruhan lensa melalui pemeriksaan biomikroskopi, serta kondisi retina dan saraf mata guna memastikan tidak ada penyebab lain dari gangguan penglihatan.
Sebelum operasi dilakukan, pasien akan menjalani pemeriksaan biometri. Pemeriksaan ini bertujuan mengukur panjang aksial bola mata dan kekuatan kornea untuk menentukan kekuatan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang paling sesuai. Setiap individu memiliki karakteristik mata yang berbeda, sehingga perhitungan ini harus dilakukan dengan akurat agar hasil penglihatan setelah operasi dapat optimal.
Hingga saat ini, satu-satunya penanganan katarak adalah melalui operasi. Tindakan ini dapat dilakukan pada semua tahap kekeruhan lensa tanpa harus menunggu katarak menjadi âmatangâ. Belum terdapat obat yang terbukti mampu menghilangkan kekeruhan lensa tanpa tindakan operasi.
Prosedur operasi katarak umumnya berlangsung cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Lensa yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan agar penglihatan dapat kembali jernih.
Teknik operasi yang digunakan pun beragam, mulai dari ekstraksi katarak intrakapsular, ekstraksi katarak ekstrakapsular, manual small incision cataract surgery (MSICS), fakoemulsifikasi, hingga femto laser assisted cataract surgery (FLACS). Secara umum, operasi katarak memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Setelah operasi, pasien akan mendapatkan panduan perawatan di rumah, seperti penggunaan obat tetes mata sesuai anjuran dokter, menjaga area mata agar tidak terkena air dalam periode tertentu, serta menjaga kebersihan kelopak mata. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat kembali memperoleh penglihatan yang jernih.
âPada sebagian besar pasien yang menjalani operasi katarak, penglihatannya dapat kembali normal dan tidak kabur,â ujarn dr. Amir.
- Katarak
- Kesehatan mata
- kebutaan
- Operasi Katarak
- Lensa Mata
- Dokter Spesialis Mata
- gejala katarak
- Fakoemulsifikasi
- RS Pondok Indah
- Lensa Intraokular (IOL)
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Program Vaksinasi untuk Cegah Campak di Semarang
-
Kalahkan Tailan, Tim Hoki Putra Indonesia Segel Tiket ke Asian Games 2026
-
Mahasiswa Asal Malang dan Jember Berhasil Dievakuasi dari Iran, Khofifah: Akan Ada yang Datang Lagi
-
Kenali Gejala Kanker Tiroid, Benjolan di Leher Bisa Jadi Tanda Awal
-
Pengembang Perumahan Perluas Operasi Katarak Gratis ke Bogor, 126 Pasien Terima Manfaat
-
Bencana bagi Barcelona, Frenkie de Jong Tumbang Jelang Laga Hidup Mati Kontra Atletico
-
Pemkab Bogor Jadikan Sukamakmur Pusat Ekonomi Baru Dukung CDOB Bogor Timur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.