Mendiktisaintek Percepat Digitalisasi Perkuliahan

Selasa, 07 Apr 2026, 03:08 WIB

JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi melakukan percepatan digitalisasi dalam kegiatan perkuliahan, termasuk untuk tugas mahasiswa.

Brian menyampaikan sudah meminta kampus untuk membuat budaya kerja yang lebih efisien, termasuk dengan digitalisasi sejumlah aspek, seperti pendaftaran dan pemeriksaan transkrip dilakukan digital agar mobilitas mahasiswa lebih sederhana dan menjadi efisien.

Ket. Foto: Mendiktisaintek Brian Yuliarto ketika menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4/2026). — Sumber: Antara

“Kita juga meminta tugas-tugas begitu ya, itu sebisa mungkin digital sehingga, misalnya, tugas akhir yang dulu harus cetak lima itu bisa dikurangi,” katanya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4).

Tidak hanya itu, Kemendiktisaintek juga mengimbau soal pengaturan mata kuliah agar tenaga pendidikan dapat mengikuti ketentuan bekerja dari rumah (work from home/WFH) satu hari dalam sepekan.

“Kita tentu berikan kepada kampus-kampus bagaimana dosen-dosen itu ketika bekerja tidak tersebar di lima hari, tetapi barangkali kan bisa empat hari, satu hari bisa bekerja dari rumah. Itu dengan mengatur perkuliahan sehingga lebih terkonsentrasi,” jelasnya.

Sebelumnya, Mendiktisaintek menyampaikan sudah menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 untuk penyesuaian pola kerja di lingkungan Kemendiktisaintek dan kegiatan akademik di perguruan tinggi.

Dalam surat edaran yang ditandatangani pada 2 April 2026 itu, Mendiktisaintek mengimbau perguruan tinggi dapat menerapkan metode pembelajaran jarak jauh secara proporsional.

Kebijakan perkuliahan tersebut secara khusus ditujukan bagi mahasiswa semester lima ke atas serta program pascasarjana. Namun, pengecualian diberikan untuk mata kuliah yang mewajibkan tatap muka fisik, seperti praktikum, bengkel kerja, studio, atau klinik.

Selain penyesuaian pola kerja dan jadwal kuliah, surat edaran tersebut menginstruksikan optimalisasi layanan platform digital untuk kegiatan akademik dan administrasi.

Cermati Mata Kuliah

Untuk itu, Brian meminta perguruan tinggi untuk mencermati mata kuliah yang dapat diselenggarakan secara pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau secara hibrida (hybrid). “Tetapi, kita meminta jangan yang tingkat dasar, tingkat satu, tingkat dua supaya atmosfer akademik itu terbangun dulu,” katanya.

Dia menyebut sudah meminta perguruan tinggi untuk mencermati mata kuliah yang memungkinkan dilakukan secara jarak jauh atau PJJ sebagai bagian dari upaya penciptaan budaya kerja yang lebih efisien dalam rangka penghematan energi nasional. “Tapi sekali lagi, itu pun bukan mata kuliah-mata kuliah yang perlu praktikum, perlu studio, dan sebagainya,” tambah Menteri Brian.

Selain penyesuaian pola kerja dan jadwal kuliah, surat edaran tersebut menginstruksikan optimalisasi layanan platform digital untuk kegiatan akademik dan administrasi. Namun, dia mengingatkan bahwa pembelajaran secara daring tersebut dilakukan tidak boleh mengurangi kualitas dalam pembelajaran para mahasiswa tersebut.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis offline guna mengantisipasi keterbatasan jaringan internet dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di wilayah 3T.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan pihaknya sudah menyiapkan soal TKA dengan mode tanpa jaringan internet (offline) sehingga sekolah hanya perlu memasangnya (install) di masing-masing komputer yang akan digunakan untuk mengerjakan tes.

“Ya, sudah kami antisipasi semuanya. Dan ini kan semua soal tidak harus berbasis online. Jadi ada soal-soal yang berbasis komputer, tapi tidak harus download. Karena memang di daerah yang belum ada jaringan internetnya, kami siapkan soal yang sudah di-install di masing-masing komputer,” kata Mendikdasmen Mu’ti di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Senin.

Ia menegaskan pelaksanaan TKA SD-SMP tetap berbasis komputer seperti pelaksanaan TKA jenjang pendidikan SMA pada tahun lalu guna mengantisipasi kecurangan. “Dan semuanya berbasis komputer ya, tidak ada yang berbasis kertas. Kalau berbasis kertas nanti ya potensi kecurangannya bisa terjadi dari situ. Inilah yang sudah kami antisipasi dari awal,” ujarnya.

Adapun bagi sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas lab komputer, pihaknya sudah mendata serta mengarahkan mereka untuk menumpang pada sekolah lain yang memiliki fasilitas lab komputer memadai.

Mekanisme menumpang ini, kata Mu’ti, tidak harus pada jenjang sekolah yang sama sehingga sekolah peserta TKA jenjang pendidikan SMP dapat menumpang pada SMA maupun SD terdekat yang memiliki lab komputer.

Sebagai informasi, pelaksanaan TKA hari pertama jenjang pendidikan SMP mengujikan mata pelajaran matematika dan numerasi dengan jumlah soal sebanyak 30 dan waktu pengerjaan soal-soal tersebut selama 75 menit. Setelah mengerjakan mata pelajaran matematika dan numerasi, para peserta akan mengerjakan survei karakter selama 20 menit. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.