Saya akan Memaksa Iran Kembali ke Zaman Batu, Kata Donald Trump
Sabtu, 04 Apr 2026, 08:48 WIBJakarta : Saya menyimak berbagai laporan dari kanal-kanal independen terkait dengan situasi terkini perang Iran vs USA dan Israel. Hasilnya cukup mengejutkan: Iran melancarkan serangan besar-besaran tadi malam. Menurut sejumlah sumber, sirene peringatan berbunyi serentak di hampir seluruh wilayah Israel.
Serangan ini tampaknya merupakan respons berlapis. Pertama, terhadap pernyataan Presiden Trump beberapa hari lalu yang mengancam akan "memaksa Iran kembali ke zaman batu." Kedua, terhadap pengeboman jembatan vital di Karaj pada 1 April â sebuah fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional. Israel dan Amerika, sayangnya, sudah lama tak lagi menghiraukan rambu-rambu itu.
"Zaman Batu" dan Logika Perang yang Bertolak Belakang
Trump berjanji akan menghancurkan infrastruktur Iran â energi, industri, bahkan pengolahan air. Strateginya sederhana: buat rakyat Iran menderita, lalu berharap mereka berbalik melawan pemerintah sendiri. Namun strategi ini punya dua masalah besar.
- Pertama, secara moral, menyerang infrastruktur sipil tak berbeda jauh dari taktik Al-Qaeda yang menabrakkan pesawat ke Menara Kembar. Bedanya hanya pada siapa pelakunya: kelompok lemah tanpa senjata canggih disebut "teroris," sementara negara adidaya melakukan hal serupa dengan impunitas penuh.
- Kedua, secara militer, strategi ini terbukti gagal. Laporan intelijen menunjukkan Amerika tidak berhasil melumpuhkan kemampuan rudal Iran. Setidaknya 50% arsenal rudal Iran beserta sistem peluncurannya masih berfungsi â ancaman nyata bagi seluruh kepentingan Amerika di Timur Tengah.
Dalam 2 hari terakhir, enam pesawat Amerika ditembak oleh sistem pertahanan udara Iran. Beberapa jatuh, sebagian berhasil lolos. Daftar korbannya: F-15E Strike Eagle, A-10 Warthog, KC-135, HH-60 Jolly Green, dan F-16.
Ironinya, kejadian ini berlangsung hanya berselang singkat setelah Trump mengklaim bahwa pertahanan udara Iran telah "dihancurkan total" dan menegaskan superioritas kekuatan udara Amerika. Retorika yang gegabah, dan kini terbukti kosong.
Kini Trump diam. Ia menolak tampil di hadapan media, mengaku "belum siap." Di balik layar, Amerika kembali mengajukan proposal gencatan senjata â dan langsung ditolak mentah-mentah oleh Iran. Upaya melalui Pakistan pun berakhir sia-sia; Iran menegaskan tidak akan membuka jalur komunikasi apapun dengan Washington.
Kesaksian dari Jurnalis Israel
Hari ini saya membaca tulisan Alon Mizrahi â jurnalis Israel yang dikenal sangat kritis terhadap pemerintahan Netanyahu â di akun Substacknya. Ia mengonfirmasi: sirene meraung serentak di seluruh penjuru Israel. Iran dan Hezbollah, tulisnya, tampaknya melancarkan serangan terkoordinasi dalam skala masif. Sasarannya bersifat "total" â mencakup pelabuhan, pangkalan udara, hingga pusat-pusat industri militer. (Lihat tangkapan layar dibawah).

Ket gambar: Tangkapan layar tulisan Alon Mizrahi â jurnalis Israel
Mizrahi bahkan menulis dengan tegas: "Jika serangan berlangsung seperti ini, Israel akan dipaksa berlutut dan menyerah â atau, jika menolak, ia akan runtuh total dalam beberapa minggu. IDF pasti sudah menyadari ini."
Siapa Sebenarnya yang Memegang Kendali Iran?
Di sinilah letak kesalahan fatal Amerika: mereka tidak benar-benar memahami Iran.
Semua keputusan strategis Iran saat ini â termasuk soal perang dan negosiasi â ada di tangan IRGC (Garda Revolusi Islam) dan komandannya, Jenderal Ahmad Vahidi. Presiden, Menteri Luar Negeri, Ketua Parlemen? Mereka hanya wajah publik. De facto, Iran kini adalah negara yang dijalankan oleh IRGC.
Dan IRGC tidak membuka opsi diplomasi sama sekali.
Bagi IRGC, sejak Amerika memutuskan membunuh Ali Khamenei, perang ini telah berubah menjadi perang eksistensial â pertarungan hidup-mati bagi Republik Islam Iran. Mereka akan bertempur hingga peluru terakhir dan prajurit terakhir. Tidak ada ruang untuk kompromi.
Maka selama Amerika terus bernegosiasi dengan presiden atau menlu Iran, mereka hanya membuang waktu. Aktor yang benar-benar memegang kendali tidak pernah duduk di meja perundingan itu.
Penutupan Selat Hormuz dan Kebuntuan Strategis
Penutupan Selat Hormuz juga merupakan keputusan IRGC â dan mereka tegaskan: selat itu akan tetap tertutup sampai perang berakhir. Langkah ini terbukti menjadi pukulan telak bagi kepentingan Amerika.
Sementara itu, Amerika dan Israel hanya mampu melancarkan serangan sporadis terhadap infrastruktur Iran. Mereka tidak bisa menyentuh inti kekuatan Iran: jaringan balistik bawah tanah yang tersebar luas, dan yang paling krusial â mereka tidak punya akses berbicara dengan IRGC sama sekali.
Dalam kalkulasi perang, situasi seperti ini (tidak memahami lawan) adalah sangat berbahaya.
Semua eskalasi yang dijalankan Trump saat ini sebenarnya tidak menyentuh hal-hal yang substansial. Semuanya terjebak pada dimensi fisik: membunuh pemimpin, menghancurkan bangunan, memutus infrastruktur.
Tapi sejarah berulang kali membuktikan: tidak ada negara yang bisa ditaklukkan hanya dengan cara itu.
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.