- Home
-
- Luar Negeri
-
- PM Thailand Minta Taipan B...
PM Thailand Minta Taipan Bantu Lawan Kenaikan Biaya Hidup
Kamis, 02 Apr 2026, 02:40 WIBBANGKOK â Pemerintah Thailand telah meminta para taipan untuk membantu mengendalikan kenaikan biaya hidup, menggarisbawahi urgensi tekanan inflasi dan peran besar bisnis besar dalam perekonomian negara tersebut.
Peritel besar termasuk yang dikendalikan oleh Charoen Sirivadhanabhakdi, serta keluarga Chearavanont dan Chirathivat, telah setuju untuk meluncurkan produk makanan, perlengkapan mandi, dan kebutuhan pokok lainnya dengan merek sendiri, dengan diskon 25 persen hingga 50 persen.
Inisiatif ini merupakan bagian dari kampanye yang didukung pemerintah yang diberi nama âWarga Thailand Saling Membantuâ.
CP All dan CP Axtra yang dikendalikan oleh miliarder Dhanin Chearavanont; Central Retail Corp yang dikelola oleh keluarga Chirathivat; dan Berli Jucker milik Charoen Sirivadhanabhakdi termasuk di antara perusahaan yang berpartisipasi dalam kampanye untuk menjaga harga tetap terkendali.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, yang partainya memenangkan pemilihan Februari sebagian karena janji untuk meringankan biaya hidup, secara resmi meluncurkan program tersebut pada Rabu (1/4). Pemerintahnya telah menghabiskan beberapa pekan terakhir untuk mencoba melindungi rumah tangga dari kenaikan harga sambil menjaga keuangan publik yang sudah tertekan.
âIni adalah langkah penting dalam kerja sama antara sektor publik dan swasta,â ucap PM Anutin di Bangkok. âYang pasti, konsumen akan dapat menghemat uang,â imbuh dia.
Kendalikan Harga
Meskipun pemerintah mempertahankan pengendalian harga pada puluhan barang kebutuhan pokok, kenaikan biaya energi dan produksi telah mendorong kenaikan harga bahan pokok seperti daging dan telur. Rumah tangga juga bergulat dengan biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang menekan pendapatan pada saat pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat karena pariwisata dan ekspor melemah seiring dengan melemahnya permintaan global.
Upaya PM Anutin untuk mendorong perusahaan-perusahaan agar mengendalikan harga menyoroti ciri khas ekonomi politik Thailand yang memiliki keterkaitan erat antara negara dan segelintir konglomerat kuat yang mendominasi sektor-sektor kunci.
Pendekatan pemerintah Thailand ini mencerminkan pola yang sudah familiar. Selama pandemi Covid-19 misalnya, para konglomerat besar membantu mempercepat distribusi vaksin dengan menyediakan tempat, logistik, dan dukungan pengadaan, menunjukkan kapasitas mereka untuk bertindak sebagai mitra kebijakan semu di saat krisis.
Meskipun inflasi utama Thailand tetap berada di wilayah negatif selama 11 bulan terakhir, kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendorong harga konsumen kembali ke kisaran target Bank Sentral Thailand sebesar 1 persen hingga 3 persen paling cepat pada tahun 2026. ST/Bloomberg/I-1
- anutin charnvirakul
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Dokter: Rutin Olahraga pada Usia 40 Tahun Bisa Turunkan Risiko Jantung
-
Industri Film Peluang Emas Optimalkan Bonus Demografi
-
Kabar Tak Menyenangkan dari Warner Bros, Rilis Film 'Gremlins 3' Molor hingga 2028
-
Serial 'Spider-Noir' Musim 2 Dibatalkan, Nicholas Cage Tetap Move On
-
Air Cisadane Surut, Tirta Benteng Akan Gunakan Kimia
-
Persija Gelar Launching Tim dan Jersi Baru, Usung Tema “Rise for Glory”
-
DKI Larang Gunakan Kendaraan Pribadi Selama WFH
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.