Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sampah Menggunung, Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Mengeluh Karena Mengganggu Aktivitas Jual Beli

📅 Senin, 30 Mar 2026, 08:51 WIB | Oleh:
Sampah Menggunung, Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Mengeluh Karena Mengganggu Aktivitas Jual Beli Doc: ANTARA
Ket. Tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (29/3/2026).

JAKARTA - Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan tumpukan sampah yang menggunung dan tak kunjung diangkut hingga mengganggu aktivitas jual beli.

"Sekarang makin menyempit jalannya karena sampah menggunung gitu. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," kata salah satu pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Suratno (52), di Jakarta Timur, Senin (30/3).

Dia mengeluhkan kondisi tersebut mengganggu aktivitas jual beli, terutama karena bau menyengat dan akses jalan yang semakin menyempit.

Apalagi, keluhan tersebut datang dari sejumlah pedagang yang setiap hari beraktivitas di sekitar Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Mereka mengaku sudah cukup lama menghadapi persoalan serupa, namun hingga kini belum ada penanganan maksimal.

Tak hanya mengganggu akses, bau busuk dari sampah buah dan sayuran yang membusuk itu juga menjadi keluhan utama. Bau tersebut bahkan masuk hingga ke dalam kios pedagang.

"Kita ini dagang, tapi hawanya bau terus masuk ke dalam. Sangat mengganggu," ujar Suratno.

Selain itu, dia mengatakan kondisi tersebut sangat berdampak terhadap kelancaran distribusi barang di pasar.

Padahal, aktivitas bongkar muat merupakan bagian vital dalam operasional pasar induk yang melayani pasokan pangan ke berbagai wilayah.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lainnya, Susanti (49). Dia menilai penanganan sampah di pasar tersebut tidak kunjung membaik, terlebih pedagang terus menjalankan kewajiban pembayaran retribusi kebersihan.

Menurut dia, pedagang dikenakan biaya retribusi sekitar Rp600-Rp900 ribu per bulan, tergantung luas kios. Namun, kondisi lingkungan pasar dinilai tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

"Tidak ada keringanan, padahal sampah numpuk terus. Kita tetap ditagih tiap bulan, bahkan telat sedikit langsung diperingati," tutur Susanti.

Dia juga menyebutkan pedagang merasa dirugikan karena harus menanggung dampak langsung dari buruknya pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

Maka dari itu, dia berharap ada langkah cepat dari pengelola pasar maupun pemerintah untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Perlu Diperbanyak Kontes Film Pendek Guna Dorong Kreativitas

21 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perlu Diperbanyak Kontes Fi...
Daerah
Bantul Raih TPAKD Award 202...
Megapolitan
Jakarta Kota Sinema Makin K...
Megapolitan
Usaha Pembangunan Jaya Jika...
Megapolitan
Dinkes: Ratusan Warga "Serp...
Nasional
Kemenbud Targetkan 7.000 Ca...
Megapolitan
DPRD dan Pemkot Bogor Berha...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.