- Home
-
- Luar Negeri
-
- Saham-saham Asia Naik kare...
Saham-saham Asia Naik karena Trump Tunda Serang Iran
Rabu, 25 Mar 2026, 14:40 WIBHONG KONG - Saham-saham Asia pada Selasa (24/3) bergeliat naik setelah Presiden AS, Donald Trump, menunda serangan terhadap situs-situs energi Iran dan memuji pembicaraan yang amat baik dengan Teheran, tetapi harga minyak kembali naik karena optimisme atas kemungkinan de-eskalasi perang di Timur Tengah tetap goyah.
Pasar saham di New York melonjak dan harga minyak mentah anjlok pada Senin (23/3) setelah Presiden AS membuat pengumuman mengejutkan bahwa ia akan menunda serangan baru terhadap infrastruktur energi selama lima hari setelah negosiasi dengan "tokoh penting" yang tidak disebutkan namanya.
Berita tersebut meningkatkan harapan akan berakhirnya konflik dan dibukanya kembali Selat Hormuz, yang dilalui seperlima dari pasokan minyak dan gas global.
Harga Brent sempat anjlok hingga 14 persen menjadi US$96, sementara ketiga indeks utama di Wall Street naik lebih dari satu persen, dengan para komentator memperkirakan harga bisa turun hingga serendah US$90.
Namun suasana agak mereda setelah media Iran mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington DC, dan kantor berita Fars melaporkan bahwa Wakil Ketua Parlemen Iran, Ali Nikzad, mengatakan tidak akan ada pembicaraan, sementara Selat Hormuz akan tetap tertutup secara efektif.
"Sinyalnya jelas," kata Michael Brown dari Pepperstone. "Trump telah menarik kembali ultimatum yang dikeluarkan akhir pekan lalu, tampaknya berupaya meredakan ketegangan untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai, dan sepertinya mencoba mencari jalan keluar agar hal itu bisa terjadi. Bagi saya, ini adalah bagian terpenting dari semuanya," imbuh dia.
Pasar Asia menikmati hari yang positif, dengan Tokyo, Hong Kong, Shanghai, Sydney, Seoul, Singapura, Bangkok, Mumbai, dan Manila, semuanya naik, sementara Taipei dan Wellington keduanya mengalami penurunan.
Harga minyak mentah pulih, dengan Brent naik hampir tiga persen dan di atas US$102, sementara WTI naik lebih dari tiga persen menjadi lebih dari US$91, dengan investor masih skeptis tentang peluang terobosan dalam pembicaraan.
Sementara itu tidak banyak reaksi terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang mengatakan negara itu akan melepaskan sebagian lagi cadangan minyak strategisnya mulai Kamis (26/3).
âReboundâ Dollar
Di pasar mata uang, dollar menguat terhadap euro, pound, dan yen setelah melemah pada hari Senin.
Pasar saham mengawali pekan ini dengan penurunan tajam setelah Trump memperingatkan pada Sabtu (21/3) lalu bahwa Iran memiliki waktu 48 jam untuk mengizinkan lalu lintas melalui Hormuz atau dia akan menyerang infrastruktur energi negara itu.
Teheran menjawab dengan mengatakan bahwa jalur air tersebut akan ditutup sepenuhnya jika Trump bertindak sesuai ancamannya.
Sejauh ini masih banyak ketidakpastian yang tersisa karena dunia terus bergulat dengan guncangan energi.
"Situasi yang mendasarinya masih sangat rapuh atau mudah terbakar," kata analis pasar IG, Tony Sycamore. "Sepertinya tidak semua pihak sepakat. Trump bisa bicara sesuka hatinya, tetapi Selat (Hormuz) tertutup dan akan tetap tertutup sampai semua pihak Iran sepakat, dan disitulah letak masalahnya," imbuh dia.
Keputusan Trump untuk berbalik arah beberapa jam sebelum tenggat waktu tiba langsung disorot oleh para pengamat sebagai contoh lain dari momen TACO - singkatan dari Trump Always Chickens Out (Trump Selalu Menghindar dari Perang) - di mana ia meningkatkan ketegangan sebelum akhirnya mundur dari ambang batas.
Namun Stephen Innes dari SPI Asset Management memperingatkan bahwa presiden mungkin telah bertindak terlalu gegabah.
"Anda bisa menekan pasar dengan kata-kata. Anda bisa memaksa harga minyak mentah turun. Anda bisa melepaskan cadangan darurat dan mengubah sanksi untuk membanjiri pasar dengan pasokan yang tampak nyata," ucap dia.
"Namun, Anda tidak dapat langsung memperbaiki jalur pelayaran yang terganggu, kapasitas penyulingan yang terpecah-pecah, atau lubang hitam asuransi yang terbentuk di sekitar lalu lintas kapal tanker. Pasar mungkin memperdagangkan berita utama dalam jangka pendek, tetapi pada jangka menengah, pasar akan berfokus pada harga per barel. Dan saat ini, harga per barel masih terbatas," imbuh Innes.
"Perang telah mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang berkepanjangan, jadi meskipun akan segera berakhir, harga energi kemungkinan besar akan tetap lebih tinggi dan harga obligasi serta saham lebih rendah, untuk jangka waktu yang lebih lama daripada yang seharusnya," kata Thomas Mathews, kepala pasar untuk Asia-Pasifik di Capital Economics. SB/CNA/I-1
- Pasar Saham Asia
- Imbas Konflik Timur Tengah
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Berbagai Sumber, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Waduh! Isi BBM di SPBU Nagan Raya Sampai Antre Mengular, Ternyata "Absurd" Banget Penyebabnya
-
Bursa Transfer Ditutup: Liverpool Rekrut Jacquet, Palace Datangkan Strand Larsen, Chelsea dan City Ikut Merombak Skuad
-
KPK Menduga Aizzudin Abdurrahman Terlibat sebagai Perantara Kasus Kuota Haji 2023–2024
-
Pernikahan saat banjir di Kabupaten Pekalongan
-
BMKG Prakirakan Hujan Lebat Hingga Sedang Guyur Sejumlah Daerah di Indonesia pada Rabu
-
Bogor Merawat Persatuan lewat Bakti Lintas Agama
-
BMKG Deteksi 113 Titik Panas di Provinsi Riau
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.