- Home
-
- Luar Negeri
-
- 200 Puskesmas Pembantu Sia...
200 Puskesmas Pembantu Siaga Imunisasi Campak
Jumat, 13 Mar 2026, 03:43 WIBJAKARTA â Penyakit campak termasuk membahayakan utamanya bagi anak-anak. Untuk itu, upaya membasmi penyakit ini terus digalakkan. Maka, 44 Puskesmas dan 200 Puskesmas Pembantu bersiaga untuk imunisasi campak.
âKegiatan Imunisasi Kejar Serentak 2026 campak diadakan Maret ini,â tandas Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jakarta, Budi Setiawan, Kamis (12/3).
Kegiatan imunisasi kejar serentak (IKS) sudah diinstruksikan sejak awal Maret. Pelaksanaannya bisa dilakukan di seluruh 44 Puskesmas Jakarta dan atau 200-an Puskesmas Pembantu.
Selain itu, Posyandu juga melayani kegiatan agar anak memiliki antibodi melawan berbagai virus dan bakteri penyebab penyakit-penyakit seperti campak.
Budi menuturkan, terkait jadwal imunisasi bisa ditanyakanke Posyandu kelurahan dan Puskesmas. âBahkan petugas beberapa Puskesmas mendatangi rumah-rumah terutama di kantong-kantong rentan campak,â ujar Budi.
IKS Campak 2026 menyasar anak usia 9-59 bulan yang terlewat diimunisasi untuk memperkuat kekebalan komunitas. Tujuannya, meningkatkan cakupan vaksinasi dan mencegah penyebaran penyakit campak.
Bila anak belum imunisasi MR1 (Measles-Rubella dosis 1), dikejar vaksin atau saat usia 3-4 tahun belum MR 1, harus dikejar. Atau sudah MR1 tapi belum MR2. Mesk terlambat, masih boleh. IKS populasinya lebih restriktif.Perlu ditanya, apakah anak layak diberikan vaksinasi MR dalam rangka IKS.
Pada tahun lalu, cakupan imunisasi campak Jakarta, untuk MR1 sebanyak 143.374 anak. Lalu MR2 sebanyak 144.842 anak. Cakupan ini melebihi 100 persen dari target. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah mendapat imunisasi campak secara terjadwal.
Namun demikian, masih terdapat perbedaan capaian antarwilayah. Contohnya, Kabupaten Kepulauan Seribu cakupan imunisasi masih lebih rendah. Untuk MR1 sebesar 82,26 persen. Lalu untuk MR2 sebesar 83,68 persen. Maka,menurut Budi, diperlukan upaya tambahan untuk memastikan seluruh anak mendapatkan imunisasi secara lengkap.
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan imunisasi 2022-2025, diketahui masih terdapat sasaran imunisasi kejar. Di mana untuk MR1 sebanyak 9.499 anak. Sedangkan untuk MR2 sebanyak 4.656 anak.
Budi Setiawan menjamin pelayanan di fasilitas kesehatan dan Puskesmas paripurna, khususnya untuk kegiatan vaksinasi anak-anak yang sehat ataupun yang bergejala, berjalan baik.
âSemoga semangat untuk imunisasi kejar serentak bulan Maret ini tetap tinggi,â harap Budi. IKS 2026 campak diadakan karena kasus campak masih ditemukan. Selain itu, banyak anak Jakartabelum lengkap imunisasinya.
Pada tahun lalu, terjadi suspek campak 6.930 kasus. Puncaknya pada bulan Oktober 2025. Dari jumlah tersebut,1.514 kasus terkonfirmasi. Sedangkan awal tahun ini, tercatat 1.236 kasus terduga campak.
Budi merinci, kasus terduga campak ditemukan di seluruh wilayah Jakarta. Tertinggi di Jakarta Barat (398 kasus). Selainjutnya, Jakarta Pusat 276, dan Jakarta Selatan 226. Sedangkan Jakarta Utara tercatat 179 kasus, Jakarta Timur 155, dan Kepulauan Seribu dua kasus.
Gejala campak adalah tiba-tiba demam dan ruam kemerahan. Kemudian, kecamatan dengan kasus terbanyak adalah Tanah Abang, Tambora, Taman Sari, Cengkareng, dan Pesanggrahan. Adapun jumlah terduga campak paling banyak pada anak usia 1-4 tahun dan kurang dari satu tahun. Umumnya, mereka belum mendapat imunisasi.
âKalau ada anak mengalami demam dan ruam kemerahan diingatkan agar orangtuanya segera membawa ke Puskesmas atau rumah sakit,â tandas Budi.
Mudik
Terkait campak ini, Budi mengimbau masyarakat untuk memastikan anak-anak yang akan dibawa mudik lebaran sudah diimunisasi lengkap, termasuk vaksin campak, agar anak memiliki antibodi melawan berbagai virus dan bakteri.
âAnak-anak yang dibawa mudik harus sudah divaksin. Saat di kampung halaman jalankan perilaku hidup bersih dan sehat lebih intens,â harap Budi Setiawan.
Menurut Budi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, imunisasi mampu mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun yang disebabkan difteri, tetanus, pertusis, influenza, dan campak. Campak bergejala seperti demam, ruam merah di tubuh setelah demam.
Kemudian, mata memerah, batuk, pilek, gatal-gatal, dan terkadang disertai diare. Anak seperti ini mesti segera dibawa ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan. âTunda bepergian untuk mencegah penularan campak,â tandas Budi.
Selain tunda bepergian, juga jangan masuk sekolah dulu. Jangan main ke tetangga, sebelum didiagnosis dokter. Ini untuk mencegah kontak dengan orang lain sebagai upaya pencegahan. âJadi, pencegahan tak melulu imunisasi,â ucap Budi. wid/Ant/G-1
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Maroko Lolos ke Semifinal Piala Dunia U-20 setelah Taklukkan AS
-
Mewaspadai Penularan Virus Campak pada Momentum Mudik Lebaran 2026
-
Pakar Akui AL Korea Selatan Lebih Kuat dari Angkatan Laut Bela Diri Jepang
-
Mendag pantau harga bahan pokok di Kalbar
-
Bantuan sosial Imlek 2026
-
Di Nataru Mendatang, Kemenhub Buka Kuota Mudik Gratis Dengan Bus
-
Jalan Berlubang di DKI Jakarta Makan Korban, Seorang Pelajar Meninggal di Matraman Raya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.