Tekanan Eksternal Menggila, Rupiah Hari Ini Kembali Melemah

Senin, 09 Mar 2026, 17:58 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah awal pekan ditutup melemah, mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.

Kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi global sekaligus memperbesar potensi defisit neraca perdagangan energi bagi negara importir seperti Indonesia.

Ket. Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Dhemas Reviyanto

Di saat yang sama, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar mencari aset yang lebih aman, sehingga memperkuat dolar AS.

Kombinasi faktor tersebut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang menjadi lebih rentan terhadap arus keluar modal jangka pendek.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (9/3) sore ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya Rp16.925 per dolar AS, di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat lonjakan harga minyak dunia dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat melemah hingga 70 poin.

Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen eksternal dan internal, terutama lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh level sekitar 92 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2020.

Harga tersebut jauh melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang mematok harga minyak di kisaran 70 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara hingga Rp6,8 triliun.

"Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen," kata Ibrahim.

Lonjakan harga minyak dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan fasilitas minyak Iran.

Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas minyak di kawasan tersebut.

Dari faktor eksternal, situasi kian memanas setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Potensi gangguan pada jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

"Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel," ujar Ibrahim.

Sentimen dari Asia juga mempengaruhi pergerakan pasar.

Inflasi indeks harga konsumen (CPI) China tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Februari, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9 persen dan menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Ibrahim memandang kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh lonjakan konsumsi selama libur Tahun Baru Imlek, ketika permintaan terhadap perjalanan, jasa, dan barang diskresioner meningkat tajam.

Meski demikian, inflasi produsen masih menunjukkan kontraksi sehingga pasar masih menunggu kepastian keberlanjutan tren inflasi di China.

Di tengah tekanan tersebut, dirinya menilai pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Pertama, pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan dengan memfokuskan belanja pada kebutuhan dasar masyarakat.

"Belanja pemerintah harus difokuskan hanya untuk kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan," tutur Ibrahim.

Kedua, pengurangan konsumsi minyak perlu dipercepat melalui program konversi energi menuju energi baru dan terbarukan, seperti pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tenaga air (PLTA), dan tenaga angin (PLTB) sebagai pengganti pembangkit diesel.

Ketiga, stimulus ekonomi juga perlu diperkuat melalui deregulasi untuk mendorong aktivitas usaha, termasuk memangkas aturan yang menghambat pertumbuhan ekonomi serta menyederhanakan birokrasi.

"Begitu juga perlu debirokratisasi, birokrasi yang berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha dapat disederhanakan," lanjut dia.

Maka dari itu, untuk perdagangan Selasa besok (10/3), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp16.950 - Rp17.000 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.