Hadapi Situasi Global, Eksportir Kerajinan DIY Atur Ulang Jalur Ekspor

Senin, 09 Mar 2026, 23:45 WIB

YOGYAKARTA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebut para eksportir kerajinan mulai menyesuaikan strategi pengiriman di tengah dinamika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Beberapa pelaku usaha memilih mencari jalur pengiriman alternatif agar proses ekspor tetap berjalan lancar tanpa terlalu terdampak risiko keamanan dan gangguan logistik di rute perdagangan utama.

Ket. Foto: Pengrajin membuat kerajinan bambu yang akan diekspor di Industri Bambu Anyam "Tunggak Semi", Malangan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, DIY, Rabu (4/2/2026). — Sumber: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

Langkah ini menjadi bentuk antisipasi dunia usaha menghadapi ketidakpastian global, sehingga aktivitas ekspor kerajinan dari Yogyakarta tetap bisa berlangsung meski situasi geopolitik sedang bergejolak.

Kepala Disperindag DIY Yuna Pancawati mengatakan para pelaku usaha mulai mempertimbangkan jalur alternatif distribusi ekspor agar pengiriman tetap berjalan di tengah dinamika perdagangan global.

"Mungkin juga jalur-jalur alternatif untuk ekspornya itu direkayasa oleh teman-teman. Tidak melewati Terusan Suez, tapi melewati yang lainnya," kata Yuna di Yogyakarta, Senin.

Meski pasar ekspor kerajinan dari DIY sejauh ini masih tetap sama, ia mendorong pelaku usaha mulai menjajaki pasar nontradisional guna memperluas akses perdagangan.

Ia menjelaskan selama ini distribusi ekspor menuju sejumlah negara tujuan, khususnya di kawasan Eropa, kerap melalui jalur transit di Timur Tengah.

"Sehingga mungkin yang biasanya ke Eropa, Eropa itu kan pasti mampir di Timur Tengah untuk transit. Nah, ini mungkin pasarnya. Kalaupun memang harus ke Eropa, ya transitnya nggak ke Timur Tengah," kata dia.

Yuna mengakui situasi geopolitik tersebut juga mempengaruhi kehadiran pembeli internasional dalam sejumlah pameran kerajinan yang digelar di Indonesia.

Menurut dia, sejumlah pembeli dari Timur Tengah tidak hadir dalam pameran furnitur seperti Indonesia International Furniture Expo (IPEX) dan Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina).

Pameran Jiffina sendiri masih berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) hingga 10 Maret 2026.

"Yang biasanya buyers Timur Tengah itu memang hadir banyak di situ, nah ini enggak pada datang," ujar dia.

Meski demikian, menurut dia, para pelaku usaha tetap berupaya menjaga komunikasi dengan calon pembeli melalui berbagai platform digital agar peluang transaksi tetap terbuka.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, nilai ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta pada Januari 2026 tercatat sekitar 46,94 juta dolar AS.

Sejumlah negara tujuan utama ekspor dari daerah tersebut di antaranya Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, selain juga ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.